Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Permainan Gasing Puak Melayu Rantau Kuantan (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy
Foto: enchantingtravels.com

Permainan Gasing Puak Melayu Rantau Kuantan (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy

3. Permainan Gasing

a. Cara Menonekkan (Memusing) Gasing

Gasing dinonekan atau dipusing dengan mempergunakan tali. Biasanya yang dipakai ialah tali terap yang dikembar. Tali ini dililitkan pada leher gasing dari kiri ke kanan (berlawanan dengan arah jarum jam) sehingga sampai pada pertengahan badan gasing. Setelah itu gasing dijatuhkan ke muka sambil menarik tali yang telah diikatkan pada jari tengah tangan kanan. Hasilnya, gasing jatuh ke tanah dalam keadaan berpusing.

Cara lain memusing gasing ialah dengan posisi agak membungkuk ke muka sambil menjatuhkan gasing ke depan, yang diikuti dengan tarikan tali ke belakang. Cara kedua ini pusingan gasing kurang kuat. Supaya tali gasing dililitkan tidak mudah lepas (mengelucung) biasanya ujung tali yang akan pertama kali dililitkan pada leher gasing dibasahi dengan air liur.

b. Pertandingan Main Gasing

Gasing baru menarik setelah dipertandingkan. Pertandingan gasing bisa perseorangan tetapi juga lebih sering antar regu atau kelompok. Beberapa jumlah anggota dalam satu regu tidaklah terbatas. Jika pertandingan bersifat perseorangan, maka gasing tiap pemain hendaklah kurang lebih sama besarnya. Jadi ada pertandingan sama-sama memakai gasing besar, ada pula sama-sama memakai gasing kecil.

Tidak demikian halnya dalam pertandingan antar regu; dalam pertandingan antar kelompok itu boleh dipakai gasing besar maupun gasing kecil. Tetapi tentu saja sebagian besar berusaha memakai gasing besar, agar mudah menang menghadapi lawannya. Adapun pertandingan yang bersifat individual kira-kira berjalan sebagian berikut:

– Semua peserta lebih dahulu melakukan sirajo, yaitu mencari gasing siapa yang paling lama berpusing (nonek) diikuti oleh nomor dua, tiga dan sampai pada gasing yang paling sebentar berpusing atau yang paling cepat mati.

– Siapa gasingnya yang paling lama berpusing maka itulah yang menjadi raja. Sedangkan orang yang paling dulu gasingnya berhenti berpusing itulah orang yang kalah. Jika pertandingan perseorangan ini misalnya diikuti oleh Abu, Leman dan Munap, maka setelah diadakan siraja, terbuktilah misalnya gasing Abu yang mula-mula mati, diikuti gasing Leman dan barulah gasing Munap yang paling akhir berhenti berpusing. Dengan demikian, Abu menjadi pihak yang kalah, Leman menjadi nomor dua sedangkan Munap nomor satu atau sebagai raja.

– Sebagai yang kalah, maka Abu harus lebih dahulu memusingkan gasingnya. Gasing Abu dipangkah oleh Leman, dan gasing Leman di pangkah oleh Munap.

– Ketentuan menang kalah berdasarkan kena tidaknya gasing yang dipangkah oleh lawan atau lamanya gasing berpusing setelah dipangkah. Jika gasing Abu tidak kena dipangkah oleh Leman, maka Leman menjadi pihak yang kalah. Abu akan menggantikan tempat Leman. Jika setelah Leman memangkah gasing Abu, gasingnya lebih dahulu mati dari pada gasing Abu, itu juga berarti dia kalah, sehingga kedudukannya akan digantikan oleh Abu. Begitu juga untuk jenjang yang lebih tinggi. Leman sebagai nomor dua, setelah memangkah gasing Abu dan dia masih tetap menang maka gasingnya akan dipangkah oleh Munap. Jika gasing Leman tidak kena oleh pangkah Munap, maka dia turun menjadi nomor dua, sedangkan Leman naik menjadi nomor satu (raja). Atau, Leman juga bisa mengalahkan Munap, jika setelah Munap memangkah gasing Leman, ternyata gasing Leman lebih lama hidup (berpusing) dari pada gasing Munap. Gasing yang tidak kena dipangkah disebut dobui.

Untuk memangkah gasing lawan dengan tepat, perlu diperhitungkan ukuran tali. Ukuran tali untuk pusing berbeda dengan ukuran untuk memangkah. Jika untuk pusing dililitkan tali kepada badan gasing mulai dari leher sampai pertengahan badan, maka untuk memangkah hendaklah lebih pendek dari itu. Untuk memangkah biasanya dipakai ukuran tali kira-kira sepertiga dari pada ukuran tali untuk pusing. Pangkah yang terbaik ialah gasing lawan yang berada dalam keadaan berpusing, kena dengan telak, sehingga tidak bisa berpusing lagi, sedangkan gasing kita setelah memangkah itu berpusing dengan laju.

Ada beberapa teknik pangkah dalam main gasing. Pertama, pangkah runggu. Pangkah ini dilakukan dengan posisi merunggu atau seperti orang menekur atau rukuk dengan memakai ukuran tali pemangkah yang pendek. Gasing lawan yang kena biasanya ialah bagian kepalanya. Sebab itu pangkah ini disebut juga pangkah nyonyak, lantaran gasing lawan yang kena dipukul dari arah atas dengan begitu rupa hampit tidak bergerak lagi. Garakan pangkah runggu, mulai dari atas ke bawah, mendekati sudut kira-kira 15 derajat. Dengan pangkah nyonyak, meskipun gasing lawan kena dengan baik pada kepalanya, tapi gasing yang memangkah biasanya tidak begitu lama berpusing setelah memangkah, sebab ukuran talinya yang pendek.

Berikut ialah pangkah tegak. Pangkah tegak memakai ukuran tali kira-kira sepertiga ukuran dari untuk pusing. Gasing lawan dipangkah dengan posisi berdiri. Tangan kanan memangkah gasing lawan dari atas kebawah kira-kira membentuk sudut 30 derajat. Gasing lawan biasanya kena pada bagian kuduknya, yaitu bagian di bawah sedikit dari leher gasing. Pangkah ini menyebabkan gasing lawan jauh terpelanting, dan gasing pemangkah berpusing dengan laju. (Berbeda dengan pangkah nyonyak, yang hannya seakan memukul gasing lawan dari atas, mengenai kepalanya sehingga gasing lawan tidak begitu jauh terpelanting).

Ada juga yang disebut pangkah layang. Pangkah ini merupakan jenis pangkah, yang mengambil jarak jauh dari gasing lawan yang kita pangkah. Ukuran tali untuk memangkah biasanya cukup panjang, sekitar dua pertiga dari tali untuk memusingkan gasing. Gasing lawan yang sedang pusing (berputar) kita pangkah dari jarak yang agak jauh, sehingga gasing kita tiba dalam posisi melayang terhadap gasing lawan. Mungkin sudut yang terjadi oleh gasing pemangkah kita kira-kira 30 derajat dengan dataran tanah. Pangkah ini tidak begitu kuat, tetapi putaran gasing kita setelah memangkah bisa diharapkan tetap laju atau lama ber-pusing, sebab tali pemangkah yang dipakai cukup panjang.

Permainan gasing yang paling menarik ialah permainan dalam bentuk pertandingan antar regu atau kelompok. Biasanya suatu banjar (bagian dari suatu negeri) mempunyai regunya sendiri. Mereka biasa bertanding main gasing dengan regu banjar lainnya. Tentu saja jumlah anggota regu harus sama jumlahnya masing-masing.

Dalam pertandingan antar regu ini, maka posisi orang yang memangkah paling akhir amat menentukan sekali. Dia menjadi posisi kunci. Jika pemangkah yang terakhir itu tidak mengena pangkahnya, maka regu itu akan berubah menjadi regu yang kalah. Kekalahan juga bisa terjadi, kalau setelah tukang pangkah yang terakhir, putaran gasingnya dikalahkan oleh putaran gasing lawan.

Dengan kata lain setelah tukang pangkah yang terakhir memangkah gasing lawan, ternyata gasingnya lebih dahulu mati (berhenti nonek, berpusing) dari pada gasing lawan. Sejajar pula dengan itu, maka posisi orang yang pusing paling akhir dalam suatu regu, juga menentukan posisi kunci untuk mendapatkan kemenangan. Sebab (seperti dikatakan di atas) jika gasing tukang pusing terakhir itu dobui oleh tukang pangkah terakhir, maka jadi menanglah regu yang pusing itu.

Atau, gasing anggota regu yang pusing paling akhir itu, setelah dipangkah pusingannya dapat mengalahkan pusingan tukang pangkah terakhir tersebut. Itulah sebabnya bagi tukang pangkah dan tukang pusing terakhir, diusahakan gasingnya yang paling baik, misalnya paling lama nonek atau pusingannya, paling enak dipangkahkan, paling berat dan sebagainya. Adapun pelaksanaan pertandingan antar regu, berjalan kira-kira seperti di bawah ini :

– Kedua kelompok melakukan siraja, yaitu semuanya secara serentak sama-sama memusingkan (menonekkan) gasing-nya. Setelah semua gasing berpusing maka dimulailah dipertandingkan mana yang paling lama pusingannya. Pihak atau regu yang menang, akan menjadi pihak yang menang (raja) sedangkan yang kalah menjadi pihak yang pusing.

– Pihak yang kalah disebut sebagai pihak yang pusing, karena mereka harus memusingkan gasingnya untuk dipangkah oleh pihak yang menang. Tiap anggota memusingkan gasingnya secara bergiliran, serta dipangkah pula secara bergiliran oleh pihak yang menang. Bagi anggota regu yang terdahulu ini boleh dikatakan tidak diperhitungkan kalah menang. Kalah menang akan ditentukan oleh anggota regu yang pusing dengan anggota regu yang memangkah terakhir.

– Kalau dalam perbandingan terakhir antara pihak yang me-nang dengan yang pusing, terjadi kekalahan pihak yang menang, maka terjadilah perubahan posisi. Pihak yang menang berubah menjadi pihak yang pusing, sedangkan pihak yang pusing tadi menjadi pihak yang memangkah atau yang menang.

– Berapa pertandingan ini akan berlangsung, sering tidak ditentukan dengan jelas. Biasanya pertandingan berakhir petang hari, ketika hari telah senja. Jika pagi hari, maka pertandingan sering berakhir telah masuk waktu Zuhur atau tiba saatnya makan tengah hari.

Dalam pertandingan main gasing itu selalu tak terhindari munculnya suasana yang emosional. Ini terjadi, karena pihak yang menang biasanya memanaskan hati pihak yang kalah. Begitu pula pihak yang kalah, semakin jauh terpelanting gasingnya oleh lawannya, semakin geram pula ia untuk segera membalas kekalahan ini. Karena itu kadangkala dapat pula menimbulkan perkelahian antar regu, ketika saling mengejek mencapai puncaknya.

Namun bagaimanapun juga, anak-anak itu tetaplah memandangnya sebagai permainan. Sebab itu, meskipun kemaren misalnya tejadi semacam perkelahian atau saling caci dalam pertandingan, tetapi hari berikutnya mereka mau lagi bertanding. Dengan melihatnya sebagai permainan, maka anak-anak yang bermain gasing hampir tak pernah menyimpan dendam terhadap teman sepermainannya.***

(Beberapa Aspek Sosial Budaya Daerah Riau, UU Hamidy dan Muchtar Ahmad)

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *