Home / Bunga Rampai / Pergam Disangka Harimau, Oleh: Purnimasari
Foto: wikipedia.org

Pergam Disangka Harimau, Oleh: Purnimasari

Allah Yang Maha Pencipta Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana menciptakan bumi dan langit serta seisinya. Masing-masing ciptaan itu diberi nama untuk dikenal dan diketahui. Maka walaupun seluruh laut jadi tinta dan ranting kayu jadi pena niscaya tidak akan tertuliskan segala ciptaan Allah itu meskipun ditambah dengan tujuh lautan lagi.

Karena itu, nama-nama ini menjadi perbendaharaan bagi ilmu pengetahuan manusia. Makin banyak orang mengetahui nama-nama ciptaan Allah semakin banyak pula kemungkinannya punya ilmu pengetahuan. Marilah kita lihat bagaimana kebesaran Allah sedikit saja melalui kemampuan manusia mengenal nama-nama ciptaan Allah Yang Maha Bijaksana itu.

Maka tersebutlah ada dua orang anak petani disuruh ibu bapaknya menjaga kebun sementara ibu bapaknya itu ke pasar pada pekan Kamis yakni hari pasar di kampung mereka. Untuk menjaga kebun dari gangguan beruk, cigak, dan koka yang suka makan tanaman muda, mereka berdua diberi senjata lading, pisau dan tombak.

Tapi untuk menghalau jarak jauh, mereka memakai h u m b a n dengan peluru dari batu sebesar telur ayam. Pada pagi hari Kamis, ketika ibu bapanya ke pasar, mereka berdua pun menjaga kebun itu. Untuk sarapan pagi telah tersedia ubi yang akan digoreng dengan mentega.

Pergilah mereka berdua ke dapur lalu menghidupkan api pada kungkung untuk menggoreng ubi. Satu ronde ubi telah masak digoreng. Tapi belum dimakan karena masih panas. Menyusul ronde kedua. Sementara desir minyak pada kuali sangat nyaring.

Seorang di antara mereka, yakni yang lebih muda mendengar bunyi: pergammm, pergammm, pergammm dari kejauhan di rimba sana.

Dia tersentak mendengar bunyi itu karena kedengarannya seperti bunyi aummm harimau. Dia bertanya pada kawannya, ‘’Eh, itu bunyi apa?’’

‘’Hah, apa?’’ tanya kawannya.

‘’Coba kita dengar, kecilkan dulu desir minyak kuali itu,’’ kata teman yang tadi mendengar bunyi tersebut.
Lalu keduanya sama-sama mendengar bunyi itu: pergammm, pergammm, pergammm.

‘’Hah, bunyi harimau kan?’’

‘’Eh, masa iya.’’

‘’Iya, bunyi harimau mengaum.’’

‘’Kalau begitu kita tutup pintu dan balobek (jendela) panggung. Kita tinggal dalam panggung sampai datang ibu bapa kita dari pasar,’’ kata yang kecil kepada temannya yang lebih besar.

‘’Ah, tidak bisa. Kita lari, matikan api di kungkung,’’ kata yang lebih besar dengan tanpa persetujuan yang lebih kecil dia langsung lari membubung.

Sementara yang lebih kecil terpaksa tunggang-langgang lari turun naik batang kayu melintas jalan kebun sehingga sumbul-nya (puru pada ibu jari kaki) bersimbah darah.

Akhirnya dalam keadaan terengah-engah, sampailah mereka pada panggung petani yang tidak pergi ke pasar pada hari itu. Mereka berebut naik tangga sehingga petani tua itu terkejut sambil bertanya, ‘’Ada apa kalian lari?’’

‘’Harimau mengaum Tuk’’

‘’Di mana?”

‘’Itu di sana,’’ sambil mereka menunjuk ke arah hutan.

‘’Coba Datuk dengar,’’

Burung pergam itu kedengaran lagi: pergammm, pergammm, pergammm.

‘’Oh itu. Itu bunyi burung pergam, bukan bunyi harimau,’’ kata Datuk itu.

‘’Burung itu diberi nama pergam sebab dia berbunyi menyebut namanya: pergammm, pergammm, pergammm. Sama dengan cecak disebut cecak karena bunyinya: cak, cak, cak.’’

Keduanya dalam keadaan letih mengeluh, ‘’Kita benar-benar bodoh. Kebodohan kita telah membuat kita teraniaya.’’ ***

* Cerita ini adalah kisah nyata. Seperti diceritakan UU Hamidy kepada Purnimasari.

Check Also

Kopiah Pak Dekan, Oleh: Purnimasari

Pada awal tahun ‘80-an, ketika Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan (FKIP) Universitas Islam Riau (UIR) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *