Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Perempuan dalam Hikayat Aceh, Oleh: UU Hamidy
Foto: flickr.com

Perempuan dalam Hikayat Aceh, Oleh: UU Hamidy

Kita disuruh Allah untuk merenungkan ciptaan-Nya, agar dapat memahami betapa Maha Kuasa dan Maha Besar-Nya. Dari penciptaan jagad ini menjadi kesadaran betapa kecilnya kita. Sang pemilik (Allah Swt) mengganti siang dengan malam, menggilirkan cuaca dan musim, mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Apakah belum cukup untuk menyentuh relung batin kita? Demikianlah hikayat Aceh.

Pengarang hikayat ingin pula menggiring kita merenungkan ciptaan Allah itu. Perhatikan jalan hidup pelaku cerita dalam hikayat, tidakkah bagaikan tergambar dalam kehidupan? Dan kehidupan tidakkah juga terbentang bagaikan hikayat?

Lewat hikayat kita bisa merenung arti kehidupan ini. Misal, hikayat ‘’Srang Manyang’’ yang menggambarkan seorang janda miskin dengan suka-duka memelihara anaknya semata wayang. Dia memandang kemiskinannya sebagai rahmat Allah Swt, bukan bala.

Miskin atau kaya telah menjadi resam dunia dan sama nilainya dalam keadilan Allah. Keduanya bisa mendatangkan kebajikan atau bisa membuat kejahatan. Demikianlah sikap ibu Srang Manyang. Ketika anaknya beranjak remaja, sang ibu tak rela melepas anaknya pergi merantau. Sebab, dalam pandangan perempuan ini, rezeki itu bukan terikat pada ruang dan waktu, tetapi tergantung pada rahmat Allah. Jika Allah berkehendak, di manapun juga, kita dapat peluang menjadi kaya. Dan lebih dari itu, nilai harta bukan jumlahnya tapi berkahnya. Itu yang membuat perempuan miskin teguh menjalani hidup.

Perempuan itu ingin menyelamatkan anaknya dengan akidah yang kokoh, bukan dengan harta yang melimpah. Sebab harta, jabatan bahkan rupa kita semuanya akan binasa dan luntur. Sementara iman akan tetap cemerlang sampai berhadapan dengan Allah Rabbul Alamin. Sungguhpun begitu, seorang ibu tidak mau membunuh semangat hidup anaknya untuk mengubah nasib. Dia juga menerima ikhtiar, sebagai jalan untuk menemukan rahmat Allah. Maka dilepasnya anaknya pergi merantau, dilepaslah dengan pesan keruhanian. Singkat cerita, dengan kerja keras, sang anak berhasil jadi kaya-raya. Bahkan dengan mudah meminang istri yang cantik.

Di dunia ini kekayaan dan kesombongan, bagaikan dua orang sahabat karib. Apabila sudah dapat kaya datanglah kesombongan. Kesombongan makin menjulang, dengan memamerkan kekayaan kepada orang lain. Maka timbullah kebanggaan, merasa diri lebih, sebagaimana iblis memandang Adam. Itulah yang dialami pemuda SrangManyang. Ia tergelincir oleh kekayaannya. Dia merasa malu mempunyai ibu yang tua renta lagi miskin.

Meskipun ibunya memberikan penjelasan, karena menganggap anaknya lupa, namun sang anak tetap menyangkal. Berulang-ulang perempuan yang berani di atas kebenaran ini menasehati anaknya, agar jangan kekayaan itu mendatangkan malapetaka. Tapi hati yang sudah tertutup tak mempan menerima nasihat sekalipun dari ibunya sendiri. Akibatnya hancurlah pemuda Srang Manyang.

Simak pula perempuan yang bernama Putri Bungsu dalam hikayat ‘’Malem Dewa’’. Putri Bungsu seusai mandi di telaga, tidak menjumpai pakaiannya. Ia telah dipermalukan oleh Malem Dewa. Putri dengan tiada selembar benang pembalut tubuhnya, tak tahu kemana , namun ia tidak putus asa. Dia menerima kenyataan nasibnya. Walaupun agaknya dengan berat hati dia menerima pinangan Malem Dewa, tetapi ia tetap menjalankan kewajibannya sebagai istri yang baik.

Hari berbilang hari, bulan berganti tahun berlalu, rahasia kejahatan Malem Dewa akhirnya terbuka juga. Setelah mendapat pakaiannya yang bernama Songsongbarat yang pernah dicuri Malem Dewa, Putri Bungsu terbang meninggalkan suaminya. Sang putri meninggalkan pesan, berubahlah menjadi orang baik-baik, baru mencarinya. Begitulah siasat seorang perempuan yang mulia hatinya, untuk mengubah perangai suaminya. Walhasil Malem Dewa memang berubah, dari memuja hawa nafsu, menjadi pemuja Pencipta Alam Semesta ini.

Masih ada beberapa perempuan lagi yang pernah menjadi pelaku cerita hikayat Aceh. Putri Hijau, gambaran perempuan yang kurang teliti menentukan calon suaminya. Putri Pukes, ternyata tidak teguh memegang janji, sementara Putri Ubun-ubun Emas, seorang gadis yang gigih membela ibunya yang difitnah berbuat jahat. Tetapi masih ada lagi seorang gadis yang menarik diperhatikan, betapa dia begitu kokoh memelihara dirinya dengan kekuatan iman, melaksanakan sembahyang dan syariat Islam, gadis cantik itu ialah Putri Peureukison.

Putri Peureukison, meskipun punya ayah seorang raja penyembah berhala, namun ia tekun mempelajari agama Islam, sehingga terbuka hidayah Allah kepadanya, bersinarlah hatinya serta bercahayalah mukanya. Ayahnya marah besar, setelah mengetahui putrinya memeluk agama Islam dengan taat, tidak mau lagi menyembah berhala. Betapapun ayahnya memaksa agar dia murtad, kembali kepada kafir menyembah patung, namun Putri Peureukison tetap teguh memegang akidah.

Ayahnya jadi gelap mata, karena berhala yang disembahnya memang tidak mampu memberi cahaya. Putri Peureukison disiksa, tangannya dipotong, lalu dibuang ke dalam hutan belantara. Sungguhpun begitu, Allah berbuat sekehendak-Nya. Bagi Allah tak ada satupun tak bisa terjadi, sebab Dia-lah tumpuan harapan segala makhluk. Putri Peureukison bukan jatuh sengsara oleh perlakuan kejam yang menimpanya. Dia malah menjadi permaisuri yang terhormat, mendiami istana dengan penuh kemuliaan.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *