Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Peranan Raja Ali Haji dalam Perwujudan Bahasa Indonesia (Bagian 3), Oleh: UU Hamidy
Pulau Penyengat. Foto: worldwidewanderings.net

Peranan Raja Ali Haji dalam Perwujudan Bahasa Indonesia (Bagian 3), Oleh: UU Hamidy

3. Konsep Bahasa Menunjukkan Bangsa, dari Raja Ali Haji

Sampai abad ke-19 Bahasa Melayu telah tumbuh dan berkembang dengan pesat. Bahasa ini telah kaya perbendaharaannya sementara daerah pemakainya terhampar paling kurang dari Selat Melaka sampai Ternate dan Tidore. Bahasa Melayu itu telah dipakai dalam berbagai bidang kehidupan. Tetapi sungguhpun begitu, sampai saat itu belum ada upaya untuk memelihara dan membina bahasa itu dengan sungguh-sungguh. Keadaan Bahasa Melayu semasa itu meskipun tumbuh dan berkembang dengan baik, tetapi tidak ada arah atau kendali yang memadai, agar menjadi bahasa yang terpelihara.

Dalam hal pembinaan dan pemeliharaan Bahasa Melayu itu, kita tidak dapat menafikan peranan Raja Ali Haji, paling kurang sejak tahun 1840-an sampai 1870-an. Upayanya dilanjutkan lagi oleh para pengarang di belakangnya, seperti kaum cendekiawan Rusydiah Klab, terutama Raja Ali Kelana dan Raja Haji Abdullah alias Abu Muhammad Adnan, sampai tahun 1920-an.

Pada pokoknya Raja Ali Haji dan para pengarang di belakangnya, telah meletakkan dasar-dasar pemakaian bahasa tulis untuk bahasa Melayu, suatu asas yang amat penting untuk dipakai sebagai bahasa ilmu pengetahuan dan bahasa resmi. Tidak ada tempat lain semasa itu, yang memakai bahasa Melayu sebagai bahasa ibu, yang membuat tradisi tulis sebaik yang dilakukan di Riau. Untuk kepentingan itu, Raja Ali Haji telah menulis kitab tata bahasa Melayu yang bernama Bustan al Katibin tahun 1850. Kemudian Raja Ali Haji melengkapi lagi dengan semacam kamus dengan mendekati ensiklopedi yang bertajuk Pengetahuan Bahasa tahun 1859.

Dasar-dasar pembinaan dan pemeliharaan bahasa Melayu oleh Raja Ali Haji diteruskan dengan semakin kokoh oleh pengarang di belakangnya. Setelah Raja Ali Haji membuat tata bahasa dan kamus Bahasa Melayu Riau, maka Raja Ali Kelana menulis kitab Bughiat al’Ani fi Huruf al Ma’ni, yakni suatu karya mengenai ilmu bunyi atau fonologi bahasa Melayu. Kitab ini diterbitkan oleh Al Ahmadiah Press Singapura tahun 1341 H atau 1922 Masehi.

Seorang lagi pengarang tata bahasa Melayu Riau adalah Abu Muhammad Adnan. Dia telah menulis dua kitab tata bahasa. Yang pertama bertajuk Pembuka Lidah dengan Teladan Umpama yang Mudah. Kitab ini membahas bentuk kata atau morfologi bahasa Melayu Riau, pernah diterbitkan oleh penerbit Al Ahmadiah Press Singapura tahun 1345 atau 1926 Masehi. Kitab yang kedua membahas tentang kalimat, bertajuk Penolong Bagi yang Menuntut akan Pengetahuan yang Patut, juga telah diterbitkan oleh Al Ahmadiah Press Singapura tahun 1345 H atau 1926 Masehi. Dengan karya tiga orang pengarang Riau itu, maka semua aspek tentang bahasa Melayu Riau telah diletakkan dasar-dasarnya.

Beriringan dengan pembinaan dan pemeliharaan Bahasa Melayu Riau di bawah bimbingan Raja Ali Haji, maka bahasa ini diperkaya dengan berbagai karya tulis meliputi berbagai ilmu dan kehidupan. Dalam abad ke-19 sampai tahun 1920-an, di Riau telah ditulis berbagai kitab. Hasil penelitian tahun 1982 mengenai naskah kuno Riau memberi petunjuk tidak kurang dari 127 judul buku atau kitab telah ditulis di Riau. Ini terjadi karena setelah Raja Ali Haji mempelopori pembinaan dan pemeliharaan bahasa Melayu Riau, segera muncul persatuan pengarang atau cendekiawan di Riau yang bernama Rusydiah Klab. Cendekiawan ini mengarang berbagai buku.

Sementara itu pihak kerajaan Riau-Lingga telah mendirikan percetakan, di antaranya Mathba’atal Riawiyah di Pulau Penyengat sekitar tahun 1886 dan Al Ahmadiah Press (anak perusahaan Syarikat Dagang Ahmadi, kepunyaan kaum kerabat raja-raja Riau-Lingga) tahun 1918. Dengan kemudahan serupa itu, maka di samping menulis berbagai kitab, para pengarang di Riau juga telah berhasil menerbitkan majalah. Dua orang anggota Rusydiah Klab yakni Syaikh Muhammad Tahir Jalaluddin (asal Minangkabau) dan Raja Ali Kelana (anak jati Riau), telah berhasil menerbitkan majalah kebudayaan Islam yang bernama Al Imam di Singapura memuat telaah tentang agama Islam, yang tentu akan bermuatan politik.

Mengapa Bahasa Melayu Riau begitu terpelihara dan terawat baik di Riau, tak dapat dilepaskan dari pada konsep Raja Ali Haji yang menyatakan bahasa menunjukkan bangsa. Konsep inilah yang membangkitkan semangat seluruh pengarang yang pernah bermukim di Riau dalam abad ke-19 sampai perempat pertama abad ke-20, yang akhirnya melahirkan semacam gerakan kesadaran akan bahasa dan budaya di Riau.

Perkembangan tradisi tulis dalam bahasa Melayu paling kurang sejak Hamzah Fansuri di Aceh sampai Tun Sri Lanang di Johor, masih memandang bahasa sebagai alat komunikasi dan pendukung budaya. Tetapi setelah tiba pada Raja Ali Haji, peranan bahasa telah ditingkatkan nilainya. Bahasa bukan hanya sebatas alat dan pendukung budaya, tetapi lebih-lebih sebagai jati diri bangsa. Bahasa dan bangsa sebenarnya tak terpisahkan.

Konsep bahasa menunjukkan bangsa mempunyai konsekuensi tiap pemakai bahasa ibu (native speaker) harus membina dan memelihara bahasanya, jika ia ingin dipandang sebagai orang berbangsa. Orang yang berbangsa tidak lain dari pada orang yang punya marwah atau harga diri, yang kemudian juga harus dipelihara dalam sejarah. Tentulah untuk pertimbangan ini seorang cendekiawan yang akan menjadi anggota Rusydiah Klab, telah dituntut memperlihatkan lebih dahulu paling kurang satu karangannya dalam bahasa yang baik dan terpelihara.

Inilah yang melahirkan tradisi orang Melayu memelihara bahasanya dengan baik. Bahasa itu dipandang sebagai bayangan budi pekerti, sehingga bahasa yang baik hendaklah mendukung budi pekerti yang luhur. Kenyataan ini telah diakui oleh seorang peneliti kebangsaan Ceko bernama J Baum dengan istrinya Ruzema Baumova setelah mencapai Semenanjung Melaka tahun 1928. Mereka mengakui betapa orang Melayu mempunyai harga diri (marwah) dan amat berbudi. Budi bahasa itu telah diajarkan melalui bahasa yang indah seperti pantun, gurindam, syair, hikayat, baik yang tertulis maupun lisan.

Keberhasilan Raja Ali Haji dengan konsep bahasa menunjukkan bangsa, telah membuat bahasa Melayu Riau menjadi satu-satunya bahasa Melayu yang terbaik. Abdullah Munsyi, meskipun juga mengajarkan bahasa Melayu kepada orang putih di Singapura, tetapi dia tidaklah menulis pedoman pemakaian bahasa Melayu, seperti tata bahasa dan kamus yang dilakukan di Riau. Dan lebih dari itu, Abdullah tidak punya filsafat bahasa seperti Raja Ali Haji. Tentulah atas kenyataan ini, untuk mempelajari bahasa Melayu, van Eijsinga telah berhubungan dengan Raja Ali Haji.

Dalam kegiatan mengenai Bahasa Melayu, van Eijsinga telah melakukan surat-menyurat dengan Raja Ali Haji. Tahun 1846 sarjana Belanda itu mendapatkan kiriman naskah Syair Abdul Muluk dari Raja Ali Haji, yang akan diterbitkan di Betawi. Kemudian Elisa Netscher (Residen Riau 1861-1870) menerjemahkan Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji ke dalam Bahasa Belanda, dimuat dalam TBG (Tijdschrift van het Bataviaasch Genootschap).

Tidak lama kemudian tahun 1868, H von de Wall bekerja sama dengan Haji Ibrahim dari Riau, membuat kitab bacaan dalam huruf Arab Melayu dengan tajuk Cakap-Cakap Rampai-Rampai Bahasa Melayu Johor. (Perlu diketahui bahwa istilah Johor dan Riau sering disamakan karena keduanya pernah bersatu dalam satu kerajaan, yakni kerajaan Johor Riau Pahang dan Lingga). Empat tahun kemudian yaitu tahun 1872, von de Wall memuat pula dalam TBG Kitab Perkeboenan Djoeroe Toelis yakni terjemahan atau pembicaraan kitab Raja Ali Haji yang berjudul Bustan Al Katibin.

Pengajaran dalam zaman Belanda yang telah memakai bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, memerlukan pula adanya ejaan bahasa Melayu. Dalam hal ejaan atau pengucapan bahasa ini, Belanda juga telah merujuk kepada bahasa Melayu yang terawat di Riau. Dari bahasa Melayu sampai bahasa Indonesia sekarang ini, paling kurang sudah ada 5 macam ejaan. Kelima ejaan itu ialah ejaan Pijnaappel, Klinkert, von de Wall, van Ophuijsen, ejaan Republik (Suandi) dan Ejaan yang Disempurnakan yang berlaku sejak tahun 1972.

Von de Wall dan van Ophuijsen amat jelas sekali telah bersandar kepada bahasa Melayu Riau, dalam menentukan ejaan bahasa Melayu itu. Tindakan untuk memilih bahasa Melayu Riau itu juga pernah dianjurkan oleh Snouck Hurgronje sebagai penasehat Pemerintah Hindia Belanda, dalam suratnya 28 Februari 1895 kepada Direktur Pengajaran, Ibadah dan Kerajinan. Dalam surat itu Snouck antara lain mengatakan: ‘’Ucapan penduduk Melaka dan Riau bagi kalangan sangat luas berlaku sebagai ucapan yang paling beradab’’. Sebab itu dia menganjurkan lagi agar bahasa Melayu Riau-Melaka itu dikenal betul-betul agar orang mengetahui sepenuhnya tentang ilmu bunyi bahasa Melayu Riau-Melaka itu.

Dari rangkaian karya sarjana Belanda itu maka dari sudut ilmu bahasa karya Van Ophuijsen, cukup besar pengaruhnya dalam proses perjalanan bahasa Melayu Riau menjadi bahasa Indonesia. Ch A Van Ophuijsen telah membuat ejaan dan tata bahasa Melayu dengan mengambil pedoman kepada bahasa Melayu Riau. Adapun alasannya untuk memilih bahasa Melayu Riau dalam menyusun ejaan dan tata bahasa Melayu itu adalah:

a. Sebagian besar kepustakaan tertulis di dalamnya, bahkan dalam hasil karya terbaru; tak dapat disangkal adanya pengaruh sastra lama yang diusahakan orang agar sebanyak mungkin ditiru;
b. Di istana-istana Melayu sebanyak mungkin masih digunakan bahasa yang kami sebut bahasa Melayu Riau atau Johor, sehingga dipakai baik dalam pergaulan maupun dalam surat-menyurat oleh golongan berpendidikan;
c. Di daerah-daerah tersebut pengaruh yang dialaminya dari bahasa-bahasa lain paling kecil. Di sanalah watak khasnya paling terpelihara.

Tindakan Van Ophuijsen untuk menyusun ejaan dan tata bahasa Melayu dengan memilih bahasa Melayu Riau sebagai dasarnya, tak dapat dilepaskan dari upaya Raja Ali Haji dan segenap kaum cendekiawan di belakangnya membina dan memelihara bahasa Melayu, sehingga wataknya yang khas masih dapat dipertahankan. Ejaan dan tata bahasa Melayu karya Van Ophuijsen telah dipakai paling kurang sejak 1910 sampai tahun 1948. Tahun 1948 diadakan beberapa perubahan oleh Suandi sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan terhadap Ejaan Van Ophuijsen, di antaranya/oe/menjadi/u/ dan bunyi hamzah/’/menjadi/k/.

Begitulah rangkaian peristiwa sejarah baik dari sudut sosiolinguistik maupun dari sudut ilmu bahasa tentang bahasa Melayu. Dari posisi sebagai lingua franca selama berabad-abad, kemudian dibina dan dipelihara oleh Raja Ali Haji menjadi bahasa Melayu Riau yang relatif murni wataknya. Bahasa Melayu Riau telah berhasil merebut peranan sebagai bahasa resmi kelas dua dan bahasa pengantar dalam zaman pemerintahan Belanda. Keadaan ini membuat bahasa itu dengan mudah memberikan semangat persatuan, sehingga kemudian menjadi bahasa kebangsaan. Dengan demikian, tidaklah berlebihan kiranya jika upaya Raja Ali Haji membina dan memlihara bahasa Melayu Riau telah melapangkan jalan kepada terbentuknya bahasa kebangsaan, yakni bahasa Indonesia. (bersambung)

(Jagad Melayu dalam Lintasan Budaya di Riau, UU Hamidy)

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *