Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Peranan Raja Ali Haji dalam Perwujudan Bahasa Indonesia (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy
Pulau Penyengat, Foto: halaltrip.com

Peranan Raja Ali Haji dalam Perwujudan Bahasa Indonesia (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy

1. Latar Belakang Sejarah

Bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, tidak dimungkiri lagi. Hal ini telah disepakati dalam Kongres Bahasa Indonesia di Medan tahun 1954. Tetapi dari bahasa Melayu yang mana bahasa Indonesia itu ditaja atau mengambil pedoman, hampir tak ada pengamat bahasa yang menerangkan dengan jelas dan terang. Hal ini terjadi, karena pengamat bahasa dan budaya mungkin memandang tak begitu penting untuk mengungkapkan hal itu.

Pada sisi lain, mungkin saja ada sikap yang kurang jujur terhadap sejarah, sehingga bagaimana peranan bahasa Melayu Riau yang telah dibina dan dipelihara oleh Raja Ali Haji dan para cendekiawan yang bermukim di Riau, dalam perjalanan kebahasaan di Indonesia, hampir tak pernah diungkapkan dengan jujur.

Membiarkan sejarah bahasa yang kabur itu tidak baik. Pertama, bangsa Indonesia tak dapat mengetahui dengan jelas bahasa atau dialek Melayu mana yang telah mendasari bahasa Indonesia. Keadaan seperti itu telah menyebabkan bahasa Indonesia tidak mempunyai pedoman pengucapan (native speaker) sehingga pengucapan bahasa Indonesia amat banyak sekali ragamnya. Bahasa Indonesia sulit mendapatkan pedoman pengucapan yang baik dan terpelihara.

Yang kedua, terjadi sejumlah varian dari suatu bentukan, yang mengakibatkan pemakai bahasa Indonesia bingung menentukan mana bentuk yang baik. Bagaimana varian dari suatu bentukan itu banyak yang menyimpang dari tradisi bahasa Melayu sebagai dasar bahasa Indonesia.

Ketiga, dengan mengabaikan jerih payah Raja Ali Haji dan peranan kaum cendekiawan di Riau dalam abad ke-19 sampai awal abad ke-20, berarti kita tidak menghargai intelektual bangsa kita sendiri. Ini bukanlah sikap yang baik untuk diwariskan kepada keturunan kita. Sikap itu membayangkan kurangnya rasa harga diri suatu bangsa.

Raja Ali Haji sebagai pengarang yang paling pintar dan produktif, diikuti oleh para pengarang di belakangnya, telah membina dan memelihara bahasa Melayu di Riau. Upaya mereka ini telah melapangkan jalan bagi terbentuknya bahasa nasional di Indonesia. Tetapi jasa beliau yang demikian hampir tak dikenal. Kebanyakan orang, hanya menghargai lembaga atau individu yang membina bahasa Indonesia.

Perbuatan Raja Ali Haji membina dan memelihara bahasa Melayu, bagaikan mengapak dan menarah bahasa itu, sehingga akhirnya mempunyai bentuk atau dasar yang baik. Kemudian, setelah bahasa Melayu itu menjadi bahasa kebangsaan (bahasa Indonesia) maka upaya membina bahasa itu hanyalah bagaikan mengetam. Dikatakan demikian, sebab kegiatan tidak lagi meletakkan dasar-dasar yang pokok dari pada bahasa itu. Kegiatan lebih banyak upaya memperkaya, melengkapi sistematik dan meningkatkan nilai. Tapi sayang, yang dihargai hanya tukang ketam; tukang kapak telah dilupakan. (bersambung)

(Jagad Melayu dalam Lintasan Budaya Melayu di Riau, UU Hamidy)

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *