Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Penyakit Tidak Membunuh, Obat Tidak Menyembuhkan, Oleh: UU Hamidy
Foto: gre.ac.uk

Penyakit Tidak Membunuh, Obat Tidak Menyembuhkan, Oleh: UU Hamidy

Sesuai dengan ajaran Islam maka orang Melayu di Riau memandang kematian sebagai perjalanan menuju hadirat Ilahi. Dalam pandangan orang Melayu, sebagaimana sering dibentangkan dalam berbagai karya sastra Melayu, akhirat adalah masa depan yang hakiki. Karena itulah dunia kadangkala dikiaskan sebagai titian menuju akhirat sebagaimana dilukiskan dalam kitab Tajussalatin (Mahkota Raja-raja).

Siapa yang berlalai-lalai di tengah titian itu benar-benar akan menjadi orang yang paling merugi. Sementara dalam Hikayat Tengkurak Kering, dibendangkan betapa sia-sianya hidup di dunia jika tidak menjalankan syariat, dengan shalat sebagai tiang utama segala amal. Jika shalat tidak dilaksanakan, maka segala amal menjadi percuma.

Kematian biasanya bersebab dengan penyakit. Tapi tanpa penyakit pun manusia tetap akan mati. Sebab hidup dan mati berada dalam genggaman Tuhan. Nama sanjungan-Nya sebanyak sembilan puluh sembilan untuk melukiskan betapa Dia mempunyai kekuasaan, kebesaran dan kemuliaan melampaui segenap penjuru alam.

Begitulah, apabila seseorang sudah sakit maka dicarikanlah berbagai obat oleh sanak familinya. Kebiasaan tradisional melihatkan bahwa si sakit biasanya lebih dahulu diobati oleh dukun. Jika tak ada juga kemajuan, barulah dibawa ke rumah sakit atau kepada dokter, bagi siapa yang punya kemampuan atau dapat menjangkau kemudahan tersebut.

Dukun Melayu mengobati si sakit mempergunakan ramuan dari berbagai tumbuhan, dilengkapi dengan benda-benda lainnya seperti batu, tahi besi, bahkan juga binatang, burung dan ikan. Tiap ramuan obat ditawari oleh dukun. Ramuan yang ditawari dipandang menjadi obat, lalu dipergunakan untuk mengobati si sakit. Dengan demikian obat tradisional Melayu yang diracik oleh dukun itu sebenarnya mempunyai dua kekuatan, vaitu kekuatan ramuan dan tawar.

Ramuan yang terdiri dari berbagai tumbuhan dan benda lainnya itu setelah dipergunakan oleh si sakit tentu akan mempengaruhi proses metabolisme tubuh. Sebagian besar dari ramuan tentu akan memberikan reaksi tertentu terhadap berbagai organ tubuh, Hasilnya tentu saja ada yang mampu memperbaiki keadaan bagian tubuh yang rusak atau bagian ruhani yang terganggu.

Kekuatan tawar yang berisi bacaan dari dukun memberikan pengaruh batin terhadap si sakit. Dengan adanya tawar (yang dulu disebut mantera atau monto) maka ramuan dianggap mempunyai kekuatan batiniah. Akibatnya si sakit mempunyal rasa harap akan kesembuhannya, sehingga timbul semangatnya untuk mengatasi penyakitnya.

Kekuatan batin daripada tawar yang diberikan dukun Melayu terhadap ramuan memang punya dasar. Dukun Melayu itu memandang penyakit tidak membunuh dan obat tidak menyembuhkan. Yang membunuh itu bukan apa dan siapa, tetapi tiada lain daripada Tuhan itu sendiri. Maka semua penyakit niscaya ada obatnya, kecuali penyakit yang akan membawa kematian.

Bersabit dengan itu, maka setiap dukun itu akan membuat obat (menawari ramuan) dia sering berkata, “Marilah kita sama-sama meminta kepada Tuhan, semoga bertemu obat dengan penyakit”. Kemudian dukun menawari obat dengan membaca Bismillah dan menutupnya dengan minta dikabulkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian memang wajar si sakit memperoleh kekuatan semangat yang memadai. Sebab dukun telah meminta suatu kekuatan yang melampaui kemampuan manusia.

Dengan kodrat dan iradat yang berpunca kepada Allah, dukun itu melalui obatnya berharap si sakit dapat tertolong. Karena sesungguhnya pada sisi Allah, obat itu pada hakikatnya tidak bernilai apa-apa, Obat itu hanya sebagai simbol ikhtiar dari manusia, yang diharapkan dapat menjadi sebab oleh Allah untuk penyembuhan. Sementara pada hakikatnya, tanpa obat pun seseorang tetap bisa sembuh dengan kehendak Allah.

Tidaklah dimungkiri bahwa masih ada sebagian kecil dari dukun Melayu yang kurang Islami. Mereka mendukun masih bertumpu kepada makhluk halus seperti hantu, jin dan setan. Praktik ini misalnya masih kelihatan dalam balian, bedewo dan membuang ancak (lancang). Tetapi dukun atau kemantan yang demikian sudah jauh surut dalam kehidupan orang Melayu. Sebagian mereka ini masih bertahan pada beberapa puak Melayu tua, seperti Talang Mamak, Suku Laut dan daerah pedalaman. Yang memang amat tertinggal dalam pendidikan serta kurang terpelihara kehidupan agama Islam di situ.

Obat dipandang sebagai ikhtiar, sebab Tuhan telah memberikan budaya berupa pikiran, perasaan, kehendak, angan-angan dan tenaga bertindak. Obat bukanlah segala-galanya. Sebab bagaimanapun juga sesuatu akan sampai juga pada ajalnya. Karena itulah orang Melayu berucap “ikhtiar dijalankan, untung menepati”. Kita berikhtiar karena jalan nasib itu dirahasiakan oleh Tuhan, Dengan berbagai upaya, kita akhirnya mengetahui dan menemukan jalan nasib itu. Dan itu harus diterima sebagai bagian daripada iman.

(Jagad Melayu, UU Hamidy)

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *