Home / Bunga Rampai / Penunggang Gelombang, Oleh: Purnimasari
Berselancar gelombang bono di Sungai Kampar, Riau. Foto: pedomanwisata.com

Penunggang Gelombang, Oleh: Purnimasari

Dulu membuat gerun. Kini dipandang anggun. Dulu membuat ngeri, sekarang malah dinanti. Jika para rodeo menunggang kuda di daratan, para peselancar bekudo bono di sungai. Mereka larut dalam ombak pipa dengan lorong panjang, mengejar lidah bono yang menjulang, tenggelam dalam terowongan ombak yang berkembang biak. Mereka tiba-tiba berubah menjadi penguin yang menanti gulungan ombak.

Dari sejumlah lokasi berselancar yang ‘’tidak biasa’’ seperti di Mentawai Sumatera Barat, Krui di Lampung, Plengkung, Pulau Merah dan Klayar di Jawa Timur, Ombak Tujuh di Jawa Barat, berselancar sungai hanya ada di Riau dan sekaligus yang terhebat. Padahal, di sini tiada langit biru. Tiada pasir putih. Yang ada justru coklatnya air sungai dan bibir sungai yang mulai letih diterjang abrasi.

Hanya ada dua sungai di dunia yang bisa diarungi dengan berselancar. Pertama adalah sungai Amazon yang mengalir di Benua Amerika bagian selatan. Dan kedua adalah sungai yang memiliki ombak layaknya di laut –yang dikenal dengan sebutan gelombang bono– di sungai Kampar, Riau. Untuk kualitas ombak, Kampar lebih hebat dari Amazon.

Selama ini, kita lebih banyak mengeluhkan tentang buruknya infrastruktur untuk menjangkau bono. Mulai dari buruknya jalan yang membuat sakit pinggang hingga susahnya listrik. Kita lupa tentang bibir sungai yang tiap hari digerus abrasi. Kita alpa tentang hutan-hutan di pulau-pulau kecil di sekitar lintasan bono yang telah digasak perusahaan. Pulau-pulau kecil tempat bono bermula bisa tenggelam karena struktur tanahnya kebanyakan hanyalah tanah lempung.

Kita sibuk mengeluhkan tentang masyarakat yang telah letih membuat berbagai cenderahati untuk para pelancong. Padahal, yang mustahak untuk diselamatkan adalah kelestarian alam semula jadi sebagai akar tunggang perekonomian masyarakat. Inilah sejatinya sumber utama mata pencaharian mereka. Jika masalah lingkungan tak segera dibenahi, keajaiban bono akan segera pergi.

Berselancar bukanlah olahraga murah. Di Mentawai saja, paket sekali main bisa mencapai 7.000 dolar Australia atau sekitar Rp75 juta. Itupun dengan fasilitas kapal sederhana, bukan yang mewah seperti fiberglass. Dalam dunia peselancar, mereka selalu mengatakan sesuatu adalah mungkin. Mulai dari menunggangi ombak sebesar bus, hingga ukuran gergasi sebesar rumah. Mereka menolak membiarkan rasa takut untuk memang. Masalahnya, apakah pemerintah kita punya nyali yang sama untuk sisi pembangunan dan menjaga lingkungan? ***

Check Also

”Apa yang Sudah Bung Tulis?”, Oleh: Purnimasari

Selain karena berkah dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang paling utama, salah satu hal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *