Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Pengarang Bagaikan Minyak Wangi, Oleh: UU Hamidy

Pengarang Bagaikan Minyak Wangi, Oleh: UU Hamidy

Allah Swt menciptakan hidup dan mati untuk menguji siapakah yang terbaik amalnya. Amal orang durhaka yang buruk, tersimpan dalam kitab Sijjin. Sedangkan amal baik dari orang yang berbakti tersimpan dalam Illiyyin, kitab yang disaksikan para malaikat dan didekatkan kepada Allah, sehingga orang yang berbakti itu berada dalam kenikmatan.

Pesan Alquran pedoman hidup umat manusia yang telah menyampaikan kebenaran, menggugah hati nurani mukmin sejati membuat amal kebajikan sebaik-baiknya, dengan niat beribadah serta menyerahkan hidup dan mati hanya semata-mata kepada Allah Rabbul Alamin.

Karena itulah dia selalu diperlukan oleh masyarakatnya. Sebab, dia menjadi tempat bertanya akan segala pelik kehidupan serta tempat berberita terhadap apa yang telah berlalu.

Semangat inilah yang telah mendorong para ulama pewaris para nabi membuat karangan yang tiada tepermanai nilainya. Ulama terpandang dari 4 mazhab yakni Imam Malik bin Anas, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Hanafi dan Imam Syafi’i telah mengokohkan mazhabnya dengan kitabnya masing-masing.

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah menampilkan karangannya yang istimewa dalam bidang Hadits Nabi Saw. Masih banyak lagi para ulama atau imam dengan karangannya yang mashur seperti Imam Gazali, Imam Ibnu Katsir dan Imam Nawawi. Para imam ini namanya harum oleh kitab karangannya yang mengagumkan.

Kitab mereka yang berjilid-jilid itu bagaikan mata air bagi kaum muslimin sampai hari ini untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang luas lagi mendalam mengenai ilmu yang paling tinggi yaitu tentang Alquran dan Sunnah Nabi Saw.

Kitab yang dikarang oleh para imam yang merupakan ulama yang cemerlang itu, telah menjelaskan makna dan tafsiran kandungan wahyu Allah dalam Alquran sehingga Allah dapat dikenal dengan ilmu yang benar. Begitu pula kajian tentang Hadits Nabi Saw dan peri hidup beliau dengan para sahabatnya, telah memberikan gambaran hidup yang jernih tentang Pribadi yang agung itu, sehingga beliau benar-benar dapat menjadi suri tauladan bagi yang rela mengikuti sunnahnya.

Dua macam pegangan umat Islam untuk memelihara hidupnya itu, selalu memberi dorongan kepada para ulama yang piawai, berbuat kebajikan dalam setiap tarikan nafasnya, sehingga mereka juga telah mengarang tentang ilmu lainnya, seperti ilmu pasti alam, anatomi, astronomi dan ilmu bahasa.

Kitab para ulama yang cemerlang itu telah tersebar kemana-mana bagaikan minyak wangi yang harum, semerbak serta memberi aroma yang indah. Ulama yang mengarang kitab itu menjadi harum pula namanya, sesuai dengan luasnya muka bumi yang dijelajahi oleh kitab karangannya.

Kitab yang berisi ilmu bagaikan minyak wangi ini telah dihirup dengan nafas keruhanian oleh sidang pembaca. Karena itu para ulama dengan kitab ribuan jilid itu telah menjadi lautan ilmu. Mereka bagaikan pelita yang tak kunjung padam. Suluhnya bercahaya di dunia. Terangnya sampai ke akhirat. Merekalah yang membuat negeri jadi indah serta selesa didiami.

Sekarang banyak orang terkenal, tetapi belum tentu punya nama harum, seperti para ulama pewaris para nabi yang mengarang berjilid-jilid kitab tentang ilmu yang sebenarnya ilmu yakni ilmu mengenai Alquran dan Sunnah Nabi Saw. Mereka hanya terkenal sebatas bendawi, seperti barang-barang yang terjual di mana-mana. Tidak punya nama harum, karena tidak punya karangan yang mampu memberikan sentuhan batiniah.

Kalaupun mereka punya karangan (tulisan), tapi karya itu tak mampu menggerakkan sukma pembacanya untuk mengenal apa makna penciptaan dirinya. Begitulah hanya terkenalnya para pejabat (polotisi), orang kaya, artis, jenderal dan penulis sekuler. Mereka hanya terkenal bagaikan benda, yang tidak mampu mencerahkan pribadi yang mengenalnya.

Sebab karya mereka tidak memberikan semangat kepada sidang pembaca merintis jalan hidup yang benar, sebagaimana terbentang oleh Syariah Islam yang selalu terlukis dalam karangan para ulama pewaris para nabi. Karena itulah mereka hanya dikenal karena ada patung untuk dirinya.

Berbeda dengan para imam atau ulama terpandang yang mengarang kitab agar umat manusia mengenal Allah dengan ilmu yang benar. Kitab mereka yang ribuan jilid itu memberi peringatan kepada sidang pembaca tentang apa arti hidup dan mati. Menerangkan bahwa dunia semakin jauh, sedangkan akhirat semakin dekat.

Maka tidak ada pilihan lain bagi umat manusia selain membentuk dirinya menjadi orang yang taat terhadap Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang selalu memberi cahaya kepada mata dan hati mereka, karena selalu mengharap petunjuk dan rahmat kepada Allah yang telah memberi cahaya kepada langit dan bumi.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *