Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Penantian Cinta nan Abadi dalam Cerpen ‘’Cinta Ibu’’ Karangan Hary B Kori’un, Oleh: UU Hamidy
Foto: pinterest.com

Penantian Cinta nan Abadi dalam Cerpen ‘’Cinta Ibu’’ Karangan Hary B Kori’un, Oleh: UU Hamidy

1. Serpihan Sejarah

Cerpen ‘’Cinta Ibu’’ karangan Hary B Kori’un setelah dibaca dengan saksama dapat membangkitkan minat kita untuk merenung lebih jauh dan mendalam. Kita seakan diajaknya untuk menghayati bagaimana larutan perasaan cinta yang telah disemaikan oleh Tuhan dalam hati sanubari manusia, memainkan peranan demikian mengesankan dalam perjalanan hidup umat manusia.

Cerpen ini bagaikan memberi tanda, bagaimana kehidupan ini bukan pertama¬-tama digerakkan oleh kekuatan tenaga, tetapi oleh semangat cinta. Cintalah yang membuat kita bersemangat dan gairah atau sebaliknya merasa kandas, dalam mengharungi lautan kehidupan yang luas tidak bertepi. Begitu hebatnya kekuatan semangat cinta, sehingga patutlah penyair besar Jalaluddin Rumi sampai bersyair:

Cinta ialah lautan tanpa pinggir
alam hanya segelembung buih di dalamnya
putaran alam seluruhnya desakan tenaga cinta
tanpanya alam kaku layu tiada nyawa

Sajak itu disambung lagi oleh Muhammad Iqbal yang mengaku sebagai murid Jalaluddin Rumi:

Cintalah meningkat insan tinggi
mencapai kebesaran hakiki
Cinta telah mengukirku hingga selesai
Aku jadi manusia
Tuhan! perjalanan cintaku tak mengenal akhir

Cerpen ‘’Cinta Ibu’’ mempunyai penampilan yang khas dibandingkan cerpen lainnya seperti yang dimuat dalam kumpulan cerpen Pipa Air Mata, pilihan cerpen Riau Pos tahun 2008. Keistimewaannya diperlihatkan oleh kemampuan Hary B Kori’un mengambil serpihan sejarah sebagai bahan cerpennya.

Selama ini jarang pengarang cerpen mengambil peristiwa sejarah untuk menyusun cerpennya. Kebanyakan cerpen, lebih suka mengambil peristiwa yang relatif unik dalam kehidupan sehari-hari. Peristiwa sejarah lebih sering dipakai oleh penulis roman atau novel, seperti Surapati dan Robert Anak Surapati, karangan Abdul Muis, misalnya.

Hary B Kori’un ternyata dapat memanfaatkan peristiwa pulangnya rombongan perantau Jawa dari Suriname ke Indonesia. Peristiwa itu terjadi (menurut catatan Hary B Kori’un dalam cerpennya) tahun 1954. Dengan pimpinan JW Kariodimedjo Ketua Yayasan Tanah Air, rombongan orang Jawa berjumlah 1.014 orang telah bertolak dari Pelabuhan Paramaribo menuju Teluk Bayur, Padang.

Setelah singgah di Amsterdam, kemudian melewati Tanjung Pengharapan (Afrika Selatan) sampailah mereka di Teluk Bayur 5 Februari 1954, dengan jumlah 1.018 orang. Bertambah empat orang sebab ada empat bayi yang lahir di kapal semasa pelayaran.

Tidak lama kemudian kapal menuju pelabuhan kecil Sasak, dan berlabuh pada 12 Februari 1954. Akhirnya rombongan berangkat menuju Desa Tongar di Kenagarian Air Gadang Simpang Empat. Inilah rombongan perantau Jawa yang pulang pertama sekaligus juga terakhir, dari Suriname Amerika Selatan.

Hari B Kori’un telah menapis serpihan peristiwa pulangnya perantau Jawa itu. Serpihan itu bagaikan diayak, kemudian dirangkai, disusun serta direkat demikian rupa melalui imajinasi yang halus, sehingga akhirnya dapat ditampilkan sebuah cerpen yang indah dan menarik.

Satu di antara serpihan itu ialah peristiwa lahirnya empat orang bayi dalam pelayaran dari Paramaribo menuju Teluk Bayur. Seorang di antara bayi itu jadi fokus cerita oleh pengarang di mana bagian-bagian lain kemudian disangkutkan. Bayi yang lahir dalam kapal itulah yang kemudian mengungkapkan kisah cerpen ini.

Teknik mengambil serpihan sejarah seperti dilakukan oleh Hary B Kori’un ini tentu dapat memberikan inspirasi kepada pengarang lainnya. Sebab, sebenarnya dari peristiwa sejarah cukup banyak peristiwa yang dapat ditaja menjadi sebuah cerpen.

Jika hal ini berlaku, maka hubungan cerpen dapat semakin dekat kepada sejarah. Cerpen dapat menjadi semacam satu cara membaca dan menghidangkan peristiwa sejarah kepada khalayak. Jika dalam catatan sejarah peristiwa itu sudah membeku, sebaliknya dalam cerpen dapat terbayang hidup serta bergerak, sehingga mampu menggugah dan mengharukan.

2. Penantian Cinta nan Abadi

Hary B Kori’un membuka cerita dengan kejutan yang lembut kepada pembaca. ‘’Apakah cinta benar-benar ada? Inilah yang sering kutanyakan kepada ibuku, dulu, ketika berbulan-bulan menemaninya di sebuah rumah sakit yang dingin dan bisu. Ibu selalu mengatakan, salah satu kurnia Tuhan yang tak bisa dihapuskan oleh sispapun adalah cinta. Seandainya orang hidup tanpa cinta semuanya akan menjadi besi, patung dan gedung tua, ambruk dimakan waktu. Tetapi cinta tidak. Dia adalah bangunan yang terus ada, meski kita kadang meragukan keabadiannya’’.

Pengarang membentangkan cerpennya, sebagai kenangan tak terlupakan, yang sedang hinggap sebagai lamunan pada tokoh cerita (Aku) yang sedang mengendarai mobillnya dari Pekanbaru menuju Kampung Tongar, yakni kampung ibunya yang terakhir.

Kini perjalananku sudah setengah lebih. Subuh-subuh tadi aku berangkat dari Pekanbaru sendirian. Aku sengaja mengambil cuti hari ini. Aku ingin berada hari ini di sana, Tongar, kampung terakhir ibuku di Simpang Empat Pasaman Barat. Ibu ulang tahun hari ini dan aku ingin ada di dekatnya.

Sang ibu sebenanya sudah cukup lama hidup di kampung Tongar. Namun tetap memilih hidup sendirian. Setiap ditanyakan oleh anaknya, mengapa demikian dia demikian dia mengatakan kepada anaknya, bahwa dia sudah punya janji dengan ayah anaknya itu.

Ayahmu menyuruh ibu berangkat lebih dahulu dengan kapal pertama, dan dia akan menyusul dalam kepulangan selanjutnya. Ibu akan tetap menantinya di sini, katanya berkali-kali setiap kutanya.

Pengarang membuat ketegangan jalan cerita, mengapa sang ibu akan tetap menanti kedatangan suaminya atau ayah anaknya. Jawabnya berada dalam peristiwa sejarah kepulangan orang Jawa dari Suriname ke Indonesia tahun 1954.

Dia kemudian bercerita. Pada 4 Januari 1954 rombongan pertama kepulangan dari Suriname diberangkatkan dengan menggunakan kapal sewaan KM Langkuas milik perusahaan pelayaran Belanda. Sebelum naik ke atas kapal itulah untuk terakhir kalinya ibu bisa melihat ayah. Ibu sedang hamil delapan bulan ketika itu. Karena tidak semua keluarga bisa pulang bersama dan ayahmu tidak mendapatkan tiket, akhirnya ibu disuruhnya pulang lebih dulu bersama kakek dan nenekmu. Dalam perjalanan setelah meninggalkan Tanjung Pengharapan, kamu lahir di kapal. Ibu sedih karena ayahmu tidak ada ketika itu. Tetapi ibu yakin ayahmu pasti akan berangkat dengan rombongan selanjutnya.

Sungguhpun begitu jalan nasib belum tentu mempertemukan harapan dengan kenyataan. Ayah atau sang suami ibunya tak dapat lagi pulang. Ini terjadi, karena pertama tidak ada lagi kapal yang akan mengangkut orang Jawa dari Suriname ke Indonesia.

Sedangkan yang kedua, untuk pulang sendiri ongkosnya terlalu mahal. Sementara dia hanya punya penghasilan sebagai tukang pos di Paramaribo. Tak mungkin mampu membeli tiket ke negeri Belanda. Namun sang suami mengatakan bahwa dia sangat mencintai isterinya, dan minta dikirimkan foto sang isteri dengan anaknya.

Hari berbilang menjadi minggu. Minggu berlalu menjadi bulan. Bulan bertambah menjadi tahun. Begitulah waktu berjalan satu demi satu, sehingga rentangannya semakin lama atau panjang. Namun sang suami tak kunjung pulang. Surat-suratnya tak lagi datang. Tak ada kabar beritanya. Tapi sang ibu yakin, ayah anaknya akan menyusul juga ke Kampung Tongar.

Kita sebaiknya memang harus melupakan ayah, kataku kemudian. Aku tak bisa membayangkan seperti apa ayahku, karena dalam surat yang dikirimkan kepada ibu, tak pernah disertai foto dirinya. Sementara satu-satunya foto yang disimpan dalam dompet ibu sudah lusuh sehingga gambarnya sudah buram.

Sungguhpun begitu, sang ibu yang setia dalam penantian cintanya membalas: Ayahmu adalah kekuatan bagi ibu. Ayahmu lelaki yang baik, berpendirian jujur, bertanggung jawab dan selalu menepati janji. Ibu jatuh cinta kepadanya karena itu, bukan karena ia anak orang Jawa terpandang di Paramaribo.

Sampai pada kutipan itu cerpen telah mengisahkan betapa pilunya perpisahan ini. Sepintas lalu fokus cerita bertumpu pada sang anak. Tetapi hempasan gelombang yang sebenarnya menerjang dada dan hati ibunya. Sang anak sebenarnya telah melihat kenyataan betapa sang ayah tak mungkin pulang lagi.

Karena itulah dia menyuruh ibunya menikah lagi. Bahkan juga begitu saran kakek dan neneknya. Betapa tidak, sebab sang perempuan yang terpisah dengan suaminya ini adalah perempuan cantik. Bagaikan bintang film Marryl Streep, kata anaknya. Tetapi balas ibunya ‘’mereka tak tahu apa itu cinta dan nikmatnya, menyimpan harapan sepanjang hidup’’.

Bayangan kehidupan yang dilalui sang ibu yang hinggap begitu lama dalam lamunan sang anak dalam perjalanannya dari Pekanbaru menuju Pasaman Barat, disudahi oleh pengarang dengan kisah sang ibu pernah sakit lalu dirawat di Pekanbaru selama dua bulan.

Dalam penderitaan sakitnya, sang ibu mengatakan dengan tiba-tiba dia sangat rindu kepada suaminya. Dalam mimpi, suaminya mengajak pulang ke Tangor. Sang ibu berujar pada anaknya, ‘’Kamu harus ingat, cinta yang membuat orang hidup, bahagia atau tidak. Bukan pekerjaan yang mapan, harta yang melimpah dan semua kesenangan’’. Setelah meninggal, jenazah sang ibu dibawa oleh anaknya ke Kampung Tongar, kampung halaman ibunya yang terakhir.

3. Tragedi Lapis Kedua

Perjalanan tokoh kita (Aku) dari Pekanbaru menuju Tongar semakin dekat. Setelah lamunannya berlabuh mengenang kisah yang amat menyedihkan tentang ibunya, ayahnya, bahkan juga dirinya sendiri, sekarang sadarlah pengendara mobil itu, rupanya dia sudah sampai di Kampung Tongar. Dia pulang kampung untuk mengenang hari ulang tahun ibunya. Kerinduan itu hendak dilepaskannya dengan mengunjungi kuburan ibunya.

Meskipun demikian, sekali lagi harapan belum tentu bertemu dalam kenyataan. Setelah sampai di kampung ibunya, apa yang terjadi? Pemakaman ibunya telah rata dengan tanah. Tinggal hamparan luas oleh buldozer, dengan sawit muda yang tumbuh di atasnya. Tanah pekuburan itu dibuldozer malam hari, sehingga tak ada orang kampung yang sempat memindahkan kuburan keluarganya. ‘’Maafkan kami. Kami juga tak sempat memindahkan makam ibu, juga kakek dan nenekmu’’ kata Om Maksum.

’’Hujan semakin deras dan seperti orang gila, aku berlari ke sana-sini di bekas makam, yang kini ditanami sawit itu. Kucabuti sawit-sawit itu dan kulemparkan ke segala arah. Aku menangis sejadi-jadinya dan kemudian terduduk di tanah basah yang telah menjadi lumpur. Haruskah aku menggali seluruh tanah bekas pemakaman ini untuk mencari kerangka ibu? Senja sudah hampir habis, namun hujan tak juga berhenti. Ketika hari benar-benar gelap, Om Maksum dan beberapa orang kampung datang bermaksud mengajakku pulang. Namun dengan suara nyaris tak terdengar, kukatakan pada mereka, ‘’Biarkanlah aku di sini. Aku ingin menemani ibu malam ini. Ibu ulang tahun hari ini’’.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *