Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Pelanduk Melupakan Jerat, Oleh: UU Hamidy
Foto: carigold.com

Pelanduk Melupakan Jerat, Oleh: UU Hamidy

Allah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang mengulang-ulang dalam Alquran kitab panduan hidup umat manusia bahwa setan adalah musuh yang nyata. Setelah Iblis terkutuk karena membangkang kepada Allah tidak mau menghormati Adam, maka ia bersumpah dan minta tempo kepada Allah untuk menyesatkan anak cucu Adam dari jalan Allah. Allah memberi tempo kepada Iblis tapi juga sekaligus memberikan jaminan bahwa hamba-Nya yang mukhlis tidak akan dapat diperdaya oleh setan. Setelah Iblis membungkus tipu dayanya dengan kata ‘’nasehat’’, maka Adam dan Hawa tergelincir melanggar perintah Allah. Setelah setan dan anak cucu Adam mendiami planet bumi yang disebut dunia, maka terjadilah pertarungan antara setan dengan umat manusia. Pertarungan antara yang hak dengan yang batil ini bagaikan pepatah Melayu, ‘’Pelanduk melupakan jerat, jerat tidak melupakan pelanduk’’. Umat Islam bagaikan pelanduk yang sering melupakan jerat setan, sehingga mereka dengan mudah terperangkap kepada perbuatan syirik dan maksiat.

Perhatikanlah bagaimana hebatnya setan memasang jerat dan perangkap terhadap umat Islam, agar mereka menyimpang dari jalan Allah yang lurus. Mula-mula setan menghasung orang kafir supaya berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh. Hasil perbuatan orang kafir itu yang paling hebat ialah runtuhnya Khilafah Islam Turki Usmani 1924. Khilafah Islam negara besar umat Islam yang terakhir ini diruntuhkan melalui siasat Kamal Attaturk, sehingga tokoh yang membenci syariah Islam dan khilafah ini diberi julukan Bapak Bangsa Turki oleh dunia demokrasi sekuler. Runtuhnya Khilafah Turki Usmani membuat dunia Islam bercerai-berai, sehingga umat Islam bagaikan anak ayam kehilangan induknya. Umat Islam yang semula bersatu dalam satu negara besar dengan panduan akidah dan syariah Islam, berubah menjadi sejumlah negara bangsa. Maka putuslah tali persaudaraan seiman umat Islam. Digantikan oleh persaudaraan mereka yang sama-sama berada dalam satu negara bangsa.

Putusnya rantai persaudaraan seiman umat Islam karena tak ada lagi khilafah dan syariah Islam yang menyatukan mereka, membuat orang kafir membuat gagasan lagi bagaimana menghancurkan sisa kekuatan umat Islam. Dijajakanlah nasionalisme dan demokrasi sekuler kepada umat Islam yang berada dalam negara bangsa. Jerat ini ternyata amat mangkus menyesatkan umat Islam. Bagaikan satu butir pil ektasi yang langsung membuat orang kehilangan akal sehat. Dengan paham nasionalisme maka umat Islam menjadi pemuja bangsa dan tanah airnya. Egoisme kebangsaan ini melunturkan persaudaraan seiman umat Islam, sebab cinta bangsa dan tanah air itu telah mengalahkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika ada kaum muslimin yang ditindas di negara lain, mereka memandang tidak punya tanggungjawab untuk membelanya. Tapi kebalikannya, jika ada dalam negaranya umat non-Islam yang teraniaya, mereka bersedia mati-matian memberi pertolongan.

Tanah air atau bangsa itu sebenarnya bukan untuk dicintai, tetapi dijadikan tempat berbakti yakni beramal saleh. Kalau ada orang mengaku cinta tanah air, pertama-tama dia harus membuat tanah airnya itu merdeka. Merdeka dari hukum warisan kolonial, pakai hukum dari Allah yang membuat manusia terhormat dan mulia. Kemudian berusaha kekayaan tanah airnya dikelola oleh negara untuk memberikan kemakmuran bagi rakyatnya. Bukan menyerahkan sumber daya alam negeri itu kepada investor asing dan pengusaha lokal, yang hanya membuat rakyat jadi kuli. Kemudian berbagai investor asing dan lokal itu hanya menjarah kekayaan alam sesuka hatinya, sementara rakyat mendapat bencana berupa kabut asap, banjir, kemarau panjang dan wabah penyakit. Jadi, cinta tanah air itu harus ujud dalam tindakan yang nyata, membuat negerinya merdeka dari berbagai tindakan penjajahan. Percuma berteriak-teriak cinta tanah air, sementara negaranya terjajah dalam politik mengikuti kemauan negara kapitalis, tertekan oleh hukum jahiliyah buatan manusia kolonial dan melarat dalam kehidupan ekonomi, karena segala sumber daya alamnya dikuasai oleh kapitalis sekuler. Inilah perbuatan munafik yang tercela di mata manusia dan terkutuk di sisi Allah.

Jerat setan yang dilupakan lagi oleh umat Islam ialah paham demokrasi. Demokrasi telah mengganti pandangan hidup umat Islam dari tuntunan Alquran dan as-Sunnah kepada pandangan hidup sekuler yang menentang kekuasaan Allah serta melupakan hari berbangkit di akhirat. Dengan demokrasi, umat Islam berteman karib dengan musuh-musuh Allah, bahkan bersedia dipimpin oleh orang kafir. Demokrasi telah jadi merek dagang dunia yang dipayungi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Karena itu hampir tidak ada pemimpin umat Islam yang berani menolaknya. Maka demokrasi telah membuat manusia melupakan Allah, sehingga Allah membuat mereka lupa kepada keselamatan dirinya.

Umat manusia yang lemah lagi hina itu tidak mau menyadari fitrah penciptaannya. Meskipun dia telah diciptakan Allah dari setetes air yang hina, tapi malah berani menentang Allah. Walaupun telah diberi pedoman hidup Alquran dan Sunnah Nabi Saw supaya hidup bahagia, terhormat dan mulia lalu diberi peringatan bahwa setan adalah musuh, namun tetap tak dihiraukan. Umat Islam benar-benar telah jadi pelanduk yang melupakan jerat. Bahkan sudah didatangkan bencana dari langit dan bumi supaya kembali kepada jalan Allah agar selamat dunia dan di akhirat. Namun tetap lebih suka mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh begitu berani menentang api neraka.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *