Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Pandangan Hidup Para Penulis Riau, Oleh: UU Hamidy
Foto: pinterest.com

Pandangan Hidup Para Penulis Riau, Oleh: UU Hamidy

Dalam pandangan para penulis Riau, amat kentara sekali bagaimana agama Islam menjadi pusat segala aktivitas kehidupan. Mereka menulis dalam dua posisi. Pertama sebagai amal kepada Ilahi. Dalam hal ini mereka memandang bagaimana kedudukan mereka sebagai hamba yang hina sehingga dalam berbagai pendahuluan kalam mereka, sering mereka pakai kata fakir untuk memperlihatkan bagaimana kerendahan dan kehinaan mereka di sisi Tuhan.

Dalam posisi lain, mereka memandang dengan karya itu mereka dapat berdialog dengan masyarakat. Atau —untuk meminjam komentar Wiratmo Sukito dalam kitabnya Kesusastraan dan Kekuasaan— menulis menjadi suatu ragam mengkomunikasikan diri penulis dengan pembacanya. Oleh posisi dengan sikap ikhlas serupa itu, tulisan atau karya-karya mereka tidak mengejar keuntungan materi, tetapi semata-mata hanya mengharapkan keridhaan Ilahi, dalam rangka menegakkan kebenaran di tengah-tengah gejolak kehidupan yang selalu punya kecenderungan untuk menyimpang.

Dalam pandangan para penulis Melayu di Riau, imbalan materi terhadap karya-karya tulis mereka, hampir dipandang merendahkan martabat mereka. Atau sekurangnya terkesan akan mengurangi nilai amal mereka di sisi Tuhan, karena bisa menimbulkan perasaan tidak ikhlas.

Raja Haji Ahmad yang lahir kira-kira 1773—ayah Raja Ali Haji—merupakan pengarang Riau pertama dari belahan Kerajaan Riau. Beliau juga disebut Engku Haji Tua, karena beliaulah di antara para keturunan raja-raja Riau yang pertama naik haji. Beliau mempunyai perhatian yang besar terhadap Islam. Agaknya paling kurang untuk belahan Riau, beliaulah yang dapat dikatakan sebagai peletak dasar daripada karya-karya tulis yang bernafaskan Islam. Dalam dunia Melayu Nusantara, beliau bisa dipandang sebagai penyambung mata rantai daripada asas kepengarangan Melayu yang telah dimulai oleh tokoh-tokoh terdahulu, seperti Tun Sri Lanang, Hamzah Fansuri, Samsuddin al Sumatrani, Nuruddin Arraniry dan banyak lagi.

Upaya tokoh pengarang Riau yang awal ini, dikokohkan dengan amat sanggam oleh putranya sendiri yang bernama Raja Ali Haji (1808-1870). Raja Ali Haji memandang Islam sebagai pusat segalanya dalam karya-karyanya, karena dalam pegangan beliau agama ini merupakan pemersatu antara pihak Bugis ke dalam pihak Melayu. Agama ini menjadi suatu dinamik atau tenaga penggerak untuk membuat asimilasi yang baik antara suku Bugis ke dalam suku Melayu, melalui titian tradisi Melayu. Beliau amat arif sekali membaca dunia Melayu dengan sistem yang dianut mereka, di mana agama Islam menjadi syarat mutlak oleh orang Melayu, untuk bisa lebur dalam masyarakat mereka. Islam telah menjadi identitas Melayu yang utama.

Dalam dunia karya tulis pengarang-pengarang Riau, ada sesuatu yang teramat penting ditekankan, yang juga menjadi latar belakang yang kuat bagi sukses mereka dalam berkarya. Mereka memandang bahwa antara karya dengan pribadi pengarang hendaklah konsisten atau bersesuaian. Karya pengarang dengan pribadinya tidak mungkin dipisah, atau dilihat secara berlainan, karena sesungguhnya karya pengarang itu adalah satu bentuk perwujudan pribadinya. Karya suatu hal dan pribadi pengarang suatu hal lain— seperti yang dianut oleh dunia karya tulis sekarang ini sebagai pinjaman daripada pikiran yang dipengaruhi Barat—tak mungkin diterima oleh pengarang Riau. (Dan juga agaknya bagi masyarakat Indonesia yang menerima Pancasila).

Dengan demikian, kajian atau penilaian terhadap sesuatu karya seyogianya juga dengan memperhatikan pribadi pengarang, sejauh mana dia mampu membina dirinya seperti yang tampak dalam nilai-nilai karyanya itu. Bagi pengarang Riau, pemisahan antara karya dengan sang seniman merupakan suatu gejala kemunafikan. Hal itu tak mungkin diterima oleh para pengarang yang memandang Islam sebagai medan laga antara yang benar dengan yang salah, di mana Islam telah tersedia untuk menjadi tali yang erat untuk berpegang.

Karena menulis atau mengarang bagi pengarang-pengarang Riau dan pengarang asal daerah lain yang bermukim di daerah itu, dalam abad ke-19 dan awal abad ke-20, merupakan upaya menegakkan kebenaran dalam rangka mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka karya-karya mereka sebenarnya juga menjadi semacam usaha menyelamatkan masa depan. Pada masa itu di Riau antara politik, agama dan budaya tidak dikuak.

Sang Raja sebagai pemegang kendali politik, juga menjadi ulama dan pengarang. Tidak ada pihak yang merasa dirinya sebagai orang yang paling menentukan, sehingga tidak ada kata kekuasaan dalam kehidupan mereka, sebagaimana juga tampak dalam tradisi Melayu lainnya sebelum itu. Para cendekiawan cenderung lebih disegani daripada kaki tangan kerajaan. Mereka menjadi orang patut dalam masyarakat Melayu karena kemampuan mereka memecahkan berbagai persoalan masyarakat serta memberikan arah dalam kehidupan bersama maupun bagi warga-warga tertentu yang memerlukan kebaikan mereka.

Jika kebenaran harus ditegakkan dalam kehidupan, maka kemerdekaan harus wujud. Tanpa kemerdekaan, kebenaran akan sulit ditegakkan. Ini menjadi ujung tombak mengapa pihak Riau akhirnya mau tidak mau harus berhadapan dengan Belanda. Dalam upaya itu para pengarang Riau telah berbuat banyak, sehingga Raja Ali Haji dipandang Belanda sebagai orang yang berbahaya terhadap kelestarian penjajahan mereka.

Dalam kepentingan untuk mendapatkan harga diri itu, Kerajaan Riau boleh dikatakan telah melakukan 3 macam strategi terhadap Belanda. Pertama, dengan kekuatan bersenjata. Dalam hal ini terkenal telah dicatat oleh sejarah bagaimana perlawanan yang hebat daripada Raja Haji Fisabilillah, yang akhirnya gugur sebagai syuhada dalam pertempuran laut yang dahsyat di Teluk Ketapang (Semenanjung Melaka) tahun 1784. Inilah satu diantara perlawanan Riau, yang hampir menumbangkan kekuatan Belanda.

Selepas itu dilakukan upaya bidang diplomasi, dengan mengirimkan utusan ke Istanbul, Turki dan ke Tokyo, Jepang. Dalam tahun 1904 Raja Ali Kelana telah bertolak ke Istanbul untuk menemui Sultan Turki yang bernama Abdul Hamid, dalam rangka mendapatkan bantuan persenjataan dan diplomasi. Kemudian sekitar 7 tahun kemudian tahun 1913, Raja Hitam Khalid berangkat pula ke Tokyo mencari bantuan kepada Jepang, untuk menghadapi Belanda di Riau. Dalam keterangan lain, keberangkatan Raja Hitam Khalid itu ada dua kali; pertama tanggal 31 Oktober dan kedua tanggal 11 Desember 1913.

Sejarah memperlihatkan gambaran nasib Kerajaan Riau, bagaimana upaya kedua utusan itu tidak dapat berhasil dengan baik. Sebagian mungkin oleh faktor-faktor keadaan itu sendiri, tetapi sebagian lagi di duga oleh pihak Riau karena kelicikan Belanda menggagalkan utusan itu. Dengan dua strategi itu, Riau bisa melihat bagaimana tembok kekuasaan Belanda makin menebal.

Perhatian dalam perlawanan akhirnya berkisar pada bidang lain. Setelah kekuatan (senjata) dan siasat (politik) tidak berhasil, pihak Riau kemudian bertumpu kepada bidang agama dan kebudayaan. Dengan karya-karya mereka yang berbagai ragam dalam citra dan gagasannya, masyarakat di Riau bisa dipandu tidak sampai jatuh kedalam arus kultur Barat yang dibawa Belanda, karena hal itu akan melemahkan semangat menentang penjajahan itu. Suasana di Riau diusahakan harus dalam keadaan anti kolonial.

Meskipun demikian, demi kebenaran juga para penulis Riau dalam hal mampu membatasi diri, bisa saja bekerja sama dalam lapangan ilmu pengetahuan dengan para sarjana Belanda, seperti yang tampak pada kerja sama Raja Ali Haji dengan Van Eisinga, Van de Wall, serta Klinkert dengan para penulis Riau lainnya.***

(Naskah Melayu Kuno Daerah Riau, UU Hamidy)

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *