Home / Bunga Rampai / Pacu Jalur dari Masa ke Masa; Jangan Sampai Bangkrut karena Budaya, Oleh: Purnimasari
Masyarakat Kenegerian Siberakun mengecat jalur menjelang helat pacu jalur. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif.

Pacu Jalur dari Masa ke Masa; Jangan Sampai Bangkrut karena Budaya, Oleh: Purnimasari

Hari berganti, bulan berselang, tahun berlalu, sehingga jadi masa lampau. Maka tibalah era Orde Baru yang ditaja oleh Golkar, yang kemudian memberikan kekuasaan mutlak kepada Soeharto selama 30 tahun lebih. Maka muncullah dari lidah Soeharto kata ‘’pembangunan’’.

Sepintas lalu, kata ini akan indah dan memberi semangat serta membayangkan perbaikan nasib. Tapi ternyata kata-kata itu lebih kuat lagi dari buldozer untuk mengalahkan siapa yang menentangnya. Maka ketika kata itu diarahkan kepada orang lemah, rakyat jelata, orang miskin, dia segera memakan korban. Sebab yang tiba pada rakyat jelata ialah malapetaka, penindasan dan intimidasi, jika mencoba menantang kata ‘’pembangunan’’.

Menurut budayawan Riau yang juga anak jati Rantau Kuantan, UU Hamidy, itulah yang kemudian menjadi bencana kepada hutan tanah puak Melayu Rantau Kuantan. Mula-mula rimba belantara mereka diserbu oleh Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dengan komandan para jenderal yang khianat.

Maka bertumbanganlah kayu-kayu besar menjadi balak. Lalu diajaklah puak Melayu menjadi buruh kayu balak. Kemudian hutan tanah ini dibagikan dengan percuma kepada para transmigran tanpa mau tahu terhadap puak Melayu yang berada di sekitarnya.

Tapi yang lebih dahsyat lagi, hutan tanah ini dirampok untuk perusa¬haan perkebunan baik swasta maupun pemerintah. Caranya? ‘’Semuanya kan mudah diatur’’, itu dulu kata Wapres Adam Malik.

Maka bekerjasamalah pejabat yang zalim, pemilik modal yang serakah, kaki tangan pemerintah yang kejam dan orang bagak (kuat) yang bengis melakukan tipu daya kepada masyarakat adat lewat pemangku adat yang munafik.

Akhirnya, hutan tanah masyarakat adat puak Melayu pun dengan mudah dikuasai. Masyarakat adat melihat hutan tanahnya berkecai-kecai dengan mata berkaca-kaca, mengurut dada dalam kemiskinan, menjadi buruh perkebunan sekadar cukup minum makan.

Mereka tak dapat lagi membuat kebun getah dan ladang yang baru, penambah dan pengganti kebun dan ladang yang lama. Ketika tiba musim penghujan, maka datanglah bahaya banjir yang sampai menghanyutkan rumah dan ternak mereka.

Lalu dapat apa mereka ini? Mereka dapat bantuan bahaya banjir yang melimpah, yakni barang-barang afkir, angul dan rusak, yang bagi para pejabat dan orang kaya tak ada gunanya.

Hari berganti, bulan menjelang, tahun berlalu, masa jadi silam. Lantas bagaimana dengan kayu jalur? Menurut Seniman/Budayawan penerima Anugerah Sagang 2007 ini, sampai awal tahun 2000-an ini, kayu jalur masih dapat dicari dengan susah payah pada sisa-sisa hutan yang belum dipakai oleh perusahaan. Tapi kualitasnya sebenarnya bukanlah untuk kayu jalur. Itu hanya tiada rotan akar berguna.

Perusahaan-perusahaan itu malah mendapat kesempatan ambil muka pada masyarakat kampung. Caranya? Menebangkan kayu jalur dari jenis apa saja yang ada, dihantarkan ke kampung dan diberi lagi bantuan uang membuat jalur.

Maka tergambarlah betapa baik hatinya para pengusaha perkebunan itu. Tetapi keserakahan manusia terhadap hutan tanah memang lebih dahsyat daripada kuman kanker yang menggerogoti tubuh manusia. Hutan tanah dalam bentuk rimba belantara sebentar lagi niscaya akan punah. Ketika itu terjadi dengan kehendak Allah, sebagai ulah perbuatan manusia, ke mana lagi kayu jalur dicari? Oh tak ada.

Seperti diutarakan UU, pada mulanya pacu jalur telah muncul dari gunak-ganik (kegiatan sosial budaya) puak Melayu Rantau Kuantan. Paju jalur hampir dapat dipastikan sudah dikenal pendu¬duk Rantau Kuantan paling kurang sejak tahun 1900.

Setelah Belan¬da menduduki Teluk Kuantan dalam tahun 1905, Belanda ternyata memanfaatkan kebudayaan jalur dengan cara melanjutkan tradisi ini. Belanda hanya menggantinya, yang dirayakan bukan lagi hari besar Islam tapi hari ulang tahun Ratu Wilhelmina tiap 31 Agustus.

Pada zaman dahulu (sampai sekitar 1930-an) mereka mengilang tebu, mengerjakan ladang dengan tobo (organisasi tani). Setelah ladang selesai dikerjakan, mereka pindah kerja mengilang tebu. Setelah semua tebu para anggota dikilang, maka diadakanlah upacara pembubaran tobo pada tiap kampung atau banjar.

Sebelumnya, tiap kesatuan tobo mempunyai perahu besar. Gunanya bermacam-macam, terutama sebagai sarana transportasi di sungai, mengangkut berbagai jenis barang dan hasil bumi. Pada upacara pembubaran tobo itu, perahu besar yang dipakai oleh kelompok tobo itu dipacukan di Batang Kuantan. Keramaian ini menjadi tontonan yang amat disukai oleh warga masyarakat sepanjang Batang Kuantan (dari Lubuk Jambi hingga Cerenti).

Maka setelah itu, perahu besar berubah menjadi jalur. Jalur dibuat oleh tiap banjar (yang kemudian diganti namanya oleh Soeharto dengan desa). Tampillah pemangku adat memakainya untuk upacara adat. Para datuk hilir mudik di Batang Kuantan mengunjungi kegiatan upacara dengan menaiki jalur.

Karena itulah jalur diukir, dihias sedemikian rupa, sehingga indah dan menarik jadi kendaraan oleh para pembesar adat. Kemudian jalur dipacukan pula untuk keramaian hari besar atau untuk gunak-ganik negeri yang penting.

Jalur memerlukan kayu besar yang umurnya tidak kurang dari 30 tahun. Kayu jalur yang berkualitas baik memerlukan kayu berumur sekitar 50 tahun. Maka kehadiran jalur pun membuat puak Melayu Rantau Kuantan memelihara hutan belantara lebih lestari.

Dalam hutan tanah atau ulayat mereka dikenal rimbo larangan (rimba simpanan). Rimba larangan ini punya peranan penting. Yakni sebagai cadangan air musim kemarau, tempat berkembang biak flora dan fauna, binatang, burung, ikan dan kayu-kayan.

Sumber ekonomi berupa hasil hutan seperti rotan, petai dan buah-buahan bahkan juga kayu gaharu dan getah balam. Dan yang istimewa adalah tempat ‘’melalau’’ kayu jalur. Melalau artinya dibiarkan terpelihara dan tumbuh dengan aman sampai waktu yang ditentukan. Tidak dianiaya apalagi diganggu-gugat.

Sampai tahun 1950-an, tanah ulayat masyarakat adat terpelihara dengan baik. Sebab dipandu dan dijaga oleh pemangku adat. Sebab itu, sampai masa itu, kayu jalur dengan mudah didapat di rimba larangan.

Ini jugalah yang menjadi jawaban mengapa ukuran jalur sekarang lebih kecil dibandingkan dengan jalur zaman dahulu. Karena kayu yang besar sudah habis maka hanya tinggal kayu kecillah yang akan bisa dijadikan kayu jalur.

Padahal jenis kayu yang bisa dijadikan kayu jalur bukanlah kayu sembarangan. Kayu jalur haruslah kayu yang tahan air dan tidak mudah pecah kalau dibuat jadi jalur. Beberapa jenis kayu yang kerap dipilih untuk kayu jalur karena kualitasnya baik adalah kayu kure, kayu uyung, kayu banio, kayu tonam dan kayu marantia sogar.

Ketika jalur kalah, masyarakat akan segera mencari sebab akibat. Mereka memang mula-mula mencari sebab akibat yang masuk akal. Mungkin jalur kalah karena mendapat alur arus sungai yang tidak deras, onjai yang kurang kuat, tukang timbo lalai menimba air, tukang concang kurang kisok (kuat) mendayung bahkan mungkin tukang kemudi yang tidak sigap.

Tapi, jika ini tidak berlaku, maka kekalahan jalur akan diar¬ahkan kepada alam irrasional. Jalur kalah karena kena pompan, yakni kalah dalam adu kekuatan gaib. Jalur kalah karena jalur lawan berhasil memompan dengan kekuatan gaib pihak dukunnya. Pompan itu yang terpenting di antaranya ialah dengan membunuh mambang jalur pihak lawan. Sementara mambang adalah bagaikan nyawa oleh jalur.

Maka ketika itu, puak Melayu Kuantan yang ‘mabuk’ jalur, tak sadar lagi dia memeluk agama Islam yang melarang keras perbuatan syirik. Karena itu, menurut ayah dua anak ini, pacu jalur salah-salah bisa membuat masyarakat adat di Rantau Kuantan semakin jumud dan irrasional.

Karena mereka kembali percaya pada kekuatan-kekuatan mahluk halus seperti mambang, hantu jembalang, orang bunian dan sebagainya. Karena mahluk-mahluk halus yang akan dipercaya mampu memberi kekuatan gaib pada jalur lewat dukun jalur.

Sementara itu dukun jalur sendiri juga membuat ramalan-ramalan imajinatif yang tidak masuk akal tentang kehebatan jalurnya dengan harapan dipercaya oleh anak jalur dan masyarakat.

Padahal, seperti telah ditulis UU dalam bukunya Kesenian Jalur di Rantau Kuantan yang terbit Desember 1977, laju tidaknya jalur akan bergantung pada lima aspek. Pertama, arus sungai. Jika arus sungai deras maka jalur akan laju.

Kedua, kondisi fisik jalur seperti bentuk dan ketahanan yang akan memberi keuntungan ketika dipacukan. Jalur yang lemah pinggang misalnya, akan sulit untuk berpacu laju karena haluannya tidak terangkat ke atas dan sulit untuk di-onjai.

Ketiga, kerja sama antar anak pacu. Dan yang terpenting adalah antara tukang onjai dengan tuang kemudi, tukang timba air (timbo ruang) dan tukang concang (komandan anak pacu yang menentuan cepat lambatnya tempo dayung).

Keempat, teknik mendayung. Di samping yang paling penting adalah kecepatan mengayuh juga diperlukan cara mengayuhan (mendorong) air ke jalur. Teknik yang benar adalah air yang dikayuh diarahkan ke bawah perut jalur sehingga jalur semakin terangkat dan mudah meluncur.

Biasanya, para tukang jalur bekerja di hutan selama 10-20 hari. Selama masa itu konsumsi mereka diatur oleh partuo (orang yang dituakan). Dulu tiap hari partuo menentukan tiap kepala rumah tangga agar menyediakan konsumsi lengkap untuk para tukang dan akan digilir.

Tukang pada umumnya terdiri atas kepala tukang pengapik (tukang) dan pembantu tukang. Biasanya selama para tukang (biasanya 3-4 orang) akan bekerja partuo akan menanggung semua keperluan hidupnya termasuk belanja rumah tangga mereka.

Dijelaskan UU, pacu jalur adalah seni masyarakat yang utuh. Di dalam pacu jalur melibatkan bunyi-bunyian. Yakni adanya rarak yang akan mengiringi pacu jalur. Rarak adalah bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh celempong (gamelan) dan gendang serta gong. Rarak bahkan tidak hanya dipandang sebagai sekadar seni tapi juga alat komunikasi.

Masalahnya, manusia memang selalu tidak akan kehabisan akal. Dengan akalnya yang licik, hutan pun bisa semena-mena digunduli.

‘’Jika itu terjadi, tak perlu susah-susah, tinggal pesan jalur plastik atau jalur aluminum dari Jepang,’’’ sindir UU.

Ia juga meminta Pemkab Kuansing terus membangkitkan pemberdayaan ekonomi masyarakat tempatan sehingga mampu bersaing dengan pendatang dalam memanfaatkan peluang ekonomi dalam helat pacu jalur. ‘’Jangan sampai masyarakat justru bangkrut karena budayanya sendiri,’’ tegasnya. ***

*** Tulisan ini dibuat pada tahun 2008. Beberapa keterangan mungkin sudah berubah dan tidak sesuai lagi.

Check Also

Kopiah Pak Dekan, Oleh: Purnimasari

Pada awal tahun ‘80-an, ketika Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan (FKIP) Universitas Islam Riau (UIR) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *