Home / Bunga Rampai / Obor dari Bokor (Kearifan Lokal Memelihara Kampung di Pulau Ransang, Meranti), Oleh: Purnimasari
Inilah Sungai Bokor. Tradisi merawat alam semula jadi di Kampung Bokor hendaknya bisa diwariskan secara turun temurun. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif

Obor dari Bokor (Kearifan Lokal Memelihara Kampung di Pulau Ransang, Meranti), Oleh: Purnimasari

Adat orang hidup beriman
Tahu menjaga laut dan hutan
Tahu menjaga kayu dan kayan
Tahu menjaga binatang hutan
Tebasnya tidak menghabiskan
Tebangnya tidak memusnahkan
Bakarnya tidak membinasakan

Siang yang cukup terik, tengah hari, di awal Januari. Para penumpang yang hendak menyeberang ke Pulau Ransang dari Pelabuhan Tanjung Harapan, Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, sibuk mencari posisi yang strategis dalam boat pancung. Yang paling nyaman adalah duduk di bangku belakang, karena percikan air akibat hempasan haluan boat pancung akan sedikit berkurang. Sekitar 15 menit, boat pancung singgah ke Pelabuhan Peranggas, Desa Lemang, Kecamatan Ransang Barat untuk menurunkan pesisir. Letak Peranggas berhadap-hadapan dengan Tanjung Harapan. Jurumudi kemudian menyusuri Selat Air Hitam hingga bertemu kuala Sungai Bokor. Seketika, kawanan bakau (mangrove) yang terpelihara pun menyambut. Dari Selatpanjang ke Pelabuhan Bokor kurang lebih memakan waktu sekitar 30 menit.

Untuk sampai ke Bokor sebenarnya ada banyak jalan. Bisa lewat Bantar (ibukota Kecamatan Ransang Barat), Sialang Pasung, Tanah Kuning dan pelabuhan Kampung Jepun. Tapi umumnya adalah lewat Peranggas atau menyusuri sungai hingga ke pelabuhan Bokor. Jarak antara Peranggas ke Bokor kurang lebih 8 Km dan bisa ditempuh dengan sepeda motor.

Tiba di Bokor, suasana teduh pun menyapa. Jalan-jalan di kampung dicor semen dan cukup lebar. Pohon buah-buahan begitu mudah dijumpai. Mulai dari yang biasa seperti cempedak, manggis, jambu, langsat dan duku, hingga buah-buahan rimba yang sudah mulai langka seperti tampui, buah kundang (mirip anggur), paye (seperti salak tapi lebih kecil), pulas, lekop, sentul, semprung (seperti duku tapi agak besar) dan lain sebagainya. Batang-batang durian raksasa tumbuh di mana-mana, tinggi menjulang, menjilat angkasa. Nuansa rimba kian terasa ketika kicau burung dan bunyi selenging (iy’ang-iy’ang) menyelinap, menggelitik telinga.

Jika kita berjalan ke kampung-kampung lainnya di sekitar Bokor, maka lintasan-lintasan pemandangan yang dijumpai sungguh menyentuh dawai perasaan atau hati. Ada kebun getah, kelapa, kopi, pinang, kakao, saka, hingga taman padi yang permai diselingi panggung-panggung kecil tempat beristirahat. Kebun-kebun ini silih berganti dan kadang menyatu dalam sebuah komposisi yang unik ibarat sebuah lukisan. Kelapa bisa bersanding dengan padi. Pinang bisa berkawan dengan kopi. Bahkan, teras-teras rumah adalah huma padi. Sungguh persulaman-persulaman yang menenteramkan hati. Mirip jahitan kain perca yang meski main tabrak, campur aduk, namun tetap jelita. Hanya tangan lasak nan piawai yang sanggup menaklukkannya.

Hebatnya, semua komoditas itu berukuran serba jumbo. Semua terasa sanggam karena tanah yang dikawal sungai dan selat ini sangat subur sebab bersemenda dengan air masin. Pendek kata: kemari jadi. Apapun ditanam, hasilnya takkan risau hati. Inilah cuplikan-cuplikan pemandangan alam semula jadi yang sungguh membuat takzim.

Di sepanjang jalan di kampung-kampung, penduduk menjemur pinang dan kopra. Kalau banyak, ia disusun di para-para di pekarangan rumah. Namun tidak diserakkan begitu saja. Buah pinang yang telah dibelah disusun dalam shaf-shaf yang rapi, pertanda yang melakukannya memang bertolak dari pangkal hati. Para perempuan mengumpulkan daun pandan untuk dibuat tikar. Budak-budak tertawa gembira bermain air di parit-parit besar yang membelah kampung mereka.

‘Bela’ Kampung, Sebuah Ritus Tua

Uniknya, masyarakat Bokor masih menegakkan tradisi ‘bela’ kampung. Dalam helat itu, penduduk melakukan ratib saman (berzikir) sambil berjalan keliling kampung. Tradisi ‘bela’ kampung sebenarnya dikenal hampir di semua tempat di Riau. Dalam dialek puak Melayu di daratan biasanya diucapkan dengan kata bolo. Artinya merawat, memelihara. Bedanya, biasanya ratib saman hanya dilakukan dalam surau atau masjid. Biasanya, ratib saman ini dilakukan orang-orang tarikat dengan maksud tolak bala, menghindarkan malapetaka dari kampung. Karena itu ia disebut juga ratib berjalan atau ratib tolak bala. Ini adalah sebuah ritus tua, tradisi yang sudah sangat lama. Paling akhir diperkirakan hanya ada sekitar tahun 1940-an.

Menurut wakil ketua panitia ‘bela’ kampung, Khaidir, ritual ‘bela’ kampung di Bokor sebenarnya juga sudah lama tak dilaksanakan, lebih kurang ada 17 tahun. ‘’Kini kita coba adakan lagi untuk memacu semangat generasi muda bahwa pentingnya pelestarian budaya serta agar jauh dari bala petaka. Karena insya Allah akan diadakan sebuah helat besar di Bokor pertengahan tahun ini, dari hasil rapat dengan penduduk, diputuskan kita harus ‘bela’ kampung dulu. ‘Bela’ kampung sebenarnya ada dua versi, yakni secara adat dan syarak. Secara adat dilakukan dengan membuat sesajian di ancak dan yang secara syarak dilakukan dengan ratib saman keliling kampung,’’ ujar Khaidir yang juga wakil ketua Badan Pembangunan Desa itu.

Menurut salah seorang tetua masyarakat Bokor, Uzir (42), tradisi ‘bela’ kampung dengan ratib saman keliling kampung adalah sebuah tradisi tua dan dulu dilakukan hampir di seluruh daerah di Kepulauan Meranti. Namun seiring perkembangan zaman, hal itu sudah makin jarang dilakukan bahkan nyaris tak ada lagi.

Semasa ia kecil dulu, kenang Uzir, jumlah penduduk yang melakukan ‘bela’ kampung jauh lebih besar. Yang ikut tak hanya puak Melayu, tapi juga Jawa, Banjar dan Bugis. Ketika itu, ‘bela’ kampung tak cuma dilakukan di darat, tapi juga di sungai atau laut. Untuk ‘bela’ kampung di laut, mereka membuat gambar orang-orangan dari pelepah rumbia yang kemudian dihanyutkan ke sungai. ‘’Kalau ‘bela’ kampung yang di laut, sampan-sampan diatur sedemikian rupa lalu diberi galang-galang dari papan sehingga antara sampan ke sampan saling berhubungan. Nanti, bomo (dukun) akan menari-nari di atas papan itu sampai ia serap (macam kerasukan, red). Kadang, ada juga yang sebelum ke sungai, bomo menari di atas dulang yang ada bara api,’’ tutur Uzir.

Kini, lanjut Uzir, ‘bela’ kampung di laut tak lagi dilakukan karena bomo laut sudah tak ada. Meski anak sang bomo laut ramai, ternyata tak ada yang mewarisi ilmu sang ayah. Yang masih hidup hanyalah bomo darat yang akrab disapa Aki Jamil yang kini sudah berusia 80 tahunan. Meski umur sudah uzur, Aki Jamil hingga kini masih jadi bomo. Dengan kondisi tubuhnya yang sudah bungkuk, ia masih bisa membaca mantera-mantera. Dalam aturan mainnya, bomo darat tak bisa melakukan ‘bela’ kampung di laut, begitu pula sebaliknya. ‘’Dulu, ‘bela’ kampung juga diikuti perempuan. Yang paling berat adalah yang di laut. Karena penduduk akan berkumpul di kuala Sungai Bokor dan kemudian terjun ke laut. Mereka mengambil akar-akar kayu yang ada di kuala sungai lalu dibawa pulang untuk dijadikan obat,’’ ungkap Uzir.

Dikatakan Uzir, sebenarnya, semua penduduk boleh ikut ‘bela’ kampung. Syaratnya, sudah akil baligh, berwudhu dan bersih dari hadas kecil dan hadas besar. Di hulu Sungai Bokor yang merupakan kampung tua dekat Sarang Burung dan Sengelir, penduduknya melakukan ‘bela’ kampung ketika buah-buahan sudah mulai masak. Hanya, mereka tak membuat ancak dan ratib saman cukup dilaksanakan di surau. Itu masih dilakukan hingga kini. Uniknya, meski sudah masak, buah-buahan yang ada di sana tak boleh dihabiskan semuanya oleh manusia, tapi harus disisihkan beberapa agar bisa dimakan hewan.

‘’‘Bela’ kampung dilakukan untuk menghindari gangguan makhluk halus dan syetan. Dengan adanya ‘bela’ kampung, diharapkan semua jenis tanaman terhindar dari penyakit. Karena itu ‘bela’ kampung ini boleh diteruskan. Sebab kalau dari sekarang kita sudah mengembangkan tradisi, anak-anak kita di kemudian hari insya Allah takkan lupa. Mungkin bisa saja dilakukan sekali setahun saat tahun baru Islam,’’ tutur Uzir.

Warga Bokor lainnya, Om Bay (40) juga menilai bagus diadakannya kembali ‘bela’ kampung. ‘’Ini sebenarnya sudah tradisi desa kami puluhan tahun lalu untuk menghindari bala. Masa saya kecil dulu, waktu orang sedang berzikir tu, kita tak boleh terserempak (berhadapan), juga tak boleh keluar rumah karena dianggap tak baik,’’ kenang Om Bay.

Unsur Mitos dalam Pelestarian Alam

Kami berkesempatan melihat ‘bela’ kampung pada Senin (3/1) lalu di Bokor. Menurut Penghulu Desa Bokor, Iriyanto Abdullah, ‘bela’ kampung ini dilakukan dua tahap. Pertama, buang ancak yang dilaksanakan pada Kamis (30/12/2010). Kemudian ratib saman tiga hari berturut-turut sejak Ahad (2/1) hingga Selasa (4/1) dengan rute yang berbeda. Hari pertama, ratib dari Dusun Cempedak ke Dusun Durian. Hari kedua, dari Dusun Kelapa ke Dusun Durian. Hari ketiga, sama seperti hari kedua tapi beda tempat.

Pada Kamis (30/12/2010) pukul 8.00 WIB, penduduk membuat ancak dan sesajian. Ancak adalah media sesajian yang terbuat dari pelepah rumbia dan daun kelapa. Ancak biasanya berisi beras putih, daging ayam bakar, serta penganan tradisional seperti lepat dan kue koci (kue yang terbuat dari tepung beras, berbentuk segitiga dan di dalamnya ada inti dari kelapa dan gula). Semuanya dalam kondisi separo masak. Pukul 15.00 WIB, sesajian diletakkan ke ancak dan dibawa ke tempat melepas ancak di dua lokasi. Ketika ancak dibacakan mantera oleh bomo, anak-anak kecil disuruh mencangkung di bawah ancak yang dipercaya untuk buang sial. Selepas itu penduduk menaburkan bertih (beras yang sudah digonseng) ke dalam ancak.

Jumat (31/12/2010) pagi, warga mengambil air penawar ‘bela’ kampung di rumah bomo. Air penawar itu diminum dan dicampur dengan air mandi. Setelah itu mereka melakukan pantang selama tiga hari hingga Ahad (2/1) pukul 13.00 WIB. Pantangan itu di antaranya: tak boleh memotong kayu, tak boleh memetik daun, tak boleh menangkap ikan, tak boleh mengambil daun pandan dan tak boleh mengambil air di sumur umum untuk dibawa pulang. Air sumur, selama masa pantang, hanya boleh dipakai mandi.

Saat ‘bela’ kampung di Bokor pada Senin (3/1) lalu, semua pesertanya, kurang lebih 90 orang, adalah lelaki. Mereka berkumpul di jalan di depan rumah penduduk yang paling ujung. Sebelum berbaris dan memulai ratib saman keliling kampung, mereka membagi-bagikan bertih. Nanti, bertih ini akan dimasukkan ke wadah-wadah air yang diletakkan penduduk di atas kursi atau bangku pas di jalan masuk ke halaman mereka. Tak jarang, bersama wadah air ini penduduk menyedekahkan makanan berupa biskuit.

Perempuan dan anak-anak tak boleh keluar rumah apalagi melintas sepanjang ratib. Masyarakat percaya akan ada bala menimpa untuk orang yang melanggarnya. Di setiap simpang, para peserta ratib berhenti dan pemimpin ratib akan mengumandangkan azan lewat pengeras suara. Karena hanya diikuti para lelaki, ritus tua itu kini seolah-seolah bergeser hanya jadi milik kaum maskulin. Sepintas, mirip tradisi tua di Jepang yang juga cenderung berpusat pada kaum Adam (patriarch centric). Begitu para peserta ratib melewati rumah, barulah kaum perempuan dan anak-anak berani keluar rumah dan mengambil air yang sudah diberi bertih tadi. Air itu bisa direnjis-renjiskan ke rumah, diminum, atau dijadikan campuran air untuk mandi.

Selain untuk merawat kampung, ‘bela’ kampung juga bertujuan menghalau bala. Karena itu, zaman dulu, ‘bela’ kampung juga kadang diadakan setelah suatu desa mengalami musibah. Pengalaman serupa itu masih membekas di ingatan salah seorang warga Bokor, Sopandi. Menurutnya, di awal tahun 1990-an, daun-daun durian di Bokor banyak dihinggapi ulat. Melihat kejadian itu, penduduk Bokor melakukan ‘bela’ kampung. ‘’Alhamdulillah, hingga saat ini, insya Allah belum ada musibah yang melanda kampung kami,’’ ujar Sopandi.

Jika kita perhatikan, masih ada beberapa mitos yang dibungkus lewat cerita rakyat (folklore) yang kemudian dijadikan panduan. Inilah dongeng di mana jembalang dan mambang menjadi cameo-nya. Semaju apapun bangsa, tetap punya mitos walau mengalami demitologisasi. Oleh kita yang hidup hari ini, mitos itu mungkin kebanyakan tak masuk akal. Padahal, itu adalah hasil pengalaman ratusan tahun. Namun, unsur mitos adalah suatu teknik pelestarian alam dalam minda orang Melayu. Sehingga tak ada orang yang berani ceroboh memperlakukan alam di luar ketentuan adat resam Melayu dan panduan Islam yang lurus. Jadi, mitos hanya bersifat sementara, sebelum orang punya pikiran logis terhadap kelestarian alam. Walaupun, untuk dukun-dukun yang mengambil jalan kidal kadang digunakan untuk kepentingan irasional yang sangat terbatas. Jadi, puak Melayu menyimpan logika dalam mitosnya.

Pembuatan ancak dan sesajian adalah peninggalan zaman animisme. Namun itu tidak disembah oleh orang Melayu. Bahkan, di beberapa tempat di Meranti, pembuatan ancak dan sesajian sudah tak ada lagi. Yang tinggal hanya memasukkan bertih ke air.

Menurut budayawan Yusmar Yusuf, memasukkan bertih ke air bermakna mengharapkan berkah, rezeki, sekaligus simbol kemakmuran. Semua itu merupakan bagian dari penyusunan tanda-tanda suci (hierofany) karena setiap ritus selalu diikuti tanda-tanda suci. Dalam ‘bela’ kampung dimensi air (sungai atau laut) adalah pengharapan akan ikan yang banyak. Itu bisa terlihat pada ‘bela’ (semah laut) untuk terubuk di Selat Bengkalis yang diterajui pawang. Juga di Selat Asam di Desa Baran Melintang di Pulau Merbau, Meranti. Selain di Bokor, ‘bela’ sungai dan kuala juga di Sungai Suir, Kecamatan Tebing Tinggi Barat, Meranti. Konon, menurut cerita, sang pawang keturunan batin Suir berdiri di atas tubuh ikan pari yang timbul di tengah-tengah Sungai Suir.

‘’Semuanya menjaga keseimbangan manusia dan alam. Dengan menuju puncak bijak (wise) dan bajik (virtue). Kaidah-kaidah lokal yang kompromi dengan logika alam. Malah di era krisis energi dan perubahan iklim yang ekstrim, ihwal ini menjadi ‘cultural exercise’ (latihan kebudayaan) yang menarik dan testable (bisa diuji) untuk kehidupan yang nyaman (liveable),’’ ujar Yusmar yang juga anak jati Teluk Belitung, Meranti ini.

Memperlakukan Alam Bagai Manusia

Kearifan puak Melayu memelihara alam sehingga lingkungan hidup di Riau telah lestari dalam rentangan ratusan tahun, adalah suatu hal yang layak diketahui. Semua itu berpunca pada pemakaian alam yang sebatas keperluan pribadi dan persukuan, tidak diolah massal dan cepat. Hari ini, dengan alasan modern, manusia telah melakukan pencemaran dan merusak alam dalam tempo beberapa tahun saja. Gundulnya hutan belantara, perairan tercemar, punahnya flora dan fauna bisa berbalik memberi ancaman pada umat manusia.

Bagaimana tetua puak Melayu memberi kearifan pada anak cucu dan kemenakannya agar menjaga dan memelihara alam lingkungan telah terkumpul dalam bidal, gurindam, pantun, talibun, syair, petatah-petitih, koba dan cogan-cogan kebijaksanaan yang jadi peneraju hidup dan penuntun berperilaku dalam tata nilai bagi orang Melayu. Ia penyelamat hidup, sekaligus penyelamat lingkungan itu sendiri.

Seperti ditulis UU Hamidy dalam bukunya Kearifan Puak Melayu Riau Memelihara Lingkungan Hidup (UIR Press, Januari 2001), kemampuan masyarakat adat Melayu memelihara lingkungan hidupnya, tak hanya sebatas memberi kemakmuran pada anak negeri. Budaya memakai lingkungan yang terkendali oleh adat (sehingga tak melampaui batas) telah membuat mereka punya kekayaan hutan tanah dengan flora fauna yang tak tepermanai nilainya. Ketika sumber-sumber itu diolah puak Melayu dengan panduan adat atau undang-undang yang islami dari kerajaan (di zaman dahulu), sejarah telah membuktikan, betapa negeri-negeri Melayu telah jadi daerah yang makmur dengan alam yang indah.

Masyarakat adat dengan norma-norma di bawah naungan lembaga adat yang dikemudikan pemangku adat ternyata mampu mengurus diri sendiri. Kesatuan masyarakat adat Melayu dalam bentuk kepenghuluan, pebatinan dan kenegerian ternyata dapat hidup sejahtera dengan memanfaatkan lingkungan alamnya.

Tetua Melayu masa silam sebenarnya punya pandangan yang jauh ke depan. Dengan membuat lingkungan hidup terpelihara, mereka telah menyelamatkan generasi di belakang. Mereka bukan orang yang egois, yang hanya memandang kepentingan dan kesenangan diri mereka. Dalam hal hutan tanah, pemangku adat Melayu telah membuat semacam tata ruang yang paling kurang ada empat bagian: rimba simpanan (rimba larangan), tanah kebun dan peladangan, rimba kepungan sialang dan tanah pekarangan. Dalam pemeliharaannya dipandu dengan bidal ‘’kayu ditebang diganti kayu, rima ditebang diganti rimba’’. Inilah ikhtiar merawat lingkungan yang tiada tandingannya.
Semua makhluk hidup mendapat tempat untuk hidup secara wajar dalam tata ruang masyarakat adat Melayu. Inilah kedaan semula jadi yang benar-benar bisa membuat orang merasa damai dan tenteram sebab semuanya adalah pancaran kasih sayang Tuhan yang bisa menggugah hati untuk memelihara baik-baik serta membuka jalan untuk bersyukur dan mengabdi pada Sang Khalik.

Orang Melayu tradisional telah memperlakukan alam bagaikan manusia, sehingga ada sentuhan emosi dalam hubungan manusia dengan alam. Agama memberi panduan hidup dan mati, adat mengawal hidup mulia, sedangkan resam (tradisi) membuat hubungan harmonis dengan alam. Ketika manusia menanggalkan itu semua, maka akan datang bencana. Semula terhadap lingkungan hidup tapi kemudian kerusakan itu berbalik mengancam manusia sendiri. Islam, adat dan resam adalah bingkai yang paling mangkus dalam pelestarian lingkungan alam.

Kini, hutan belantara puak Melayu telah tercabik-cabik dilanyau Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Hutan, tanah dan sungai yang selama ini jadi ‘gudang’ bahan baku kebudayaan Melayu telah dieksploitasi hingga punah-ranah dan mendatangkan bencana ekologis. Ia berlindung dalam modus kebijakan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan telah menjadi ‘jalan pedang’ bagi perusahaan-perusahaan besar. Kesatuan masyarakat adat yang pernah otonom dan indah itu kini berkecai. Sementara warga masyarakat adat jatuh miskin jadi kuli, suatu lapangan pekerjaan yang paling hina dalam pandangan orang patut (ulama, pemangku adat dan tokoh tradisi) Melayu masa silam. Lembaga adat sudah lama disingkirkan dan pemangku adat sering diperalat untuk mengkhianati masyarakatnya sendiri.

Puak Melayu masa silam telah berbuat arif memelihara hutan tanah, daratan dan lautan. Jika kearifan itu tidak didedahkan, generasi budak-budak Melayu kini bisa salah paham, sehingga mereka beranggapan leluhur mereka adalah orang yang rakus dan ceroboh terhadap lingkungan, karena mereka lihat betapa rimba belantara dan lautan telah rusak binasa. Kearifan inilah yang seharusnya bisa jadi bahan bandingan, sumber gagasan dan bahan rencana bagi para pemimpin yang memang ingin meninggalkan jasa. Hanya dengan pemahaman yang memadai serupa itu, dapat dibuat perhitungan yang baik, sehingga masyarakat tidak makin tertindas.

Kita perlu pemimpin yang arif untuk menyelamatkan medan kehidupan dari bencana kerusakan lingkungan. Tanpa kearifan, manusia hanya dapat kesenangan semu. Pemimpin masyarakat adat puak Melayu masa silam telah memandang jabatan sebagai medan juang yang harus meninggalkan jasa untuk dikenang zuriat di kemudian hari. Sebagaimana kata Raja Ali Haji, pengarang Riau yang piawai itu dalam ikat gurindamnya, ‘’hendaklah berjasa kepada yang sebangsa’’. Jika tidak, kearifan itu hanya akan hanyut dalam rangkaian pantun dan gurindam.

Kini, salah satu bukti kearifan lokal yang jenius itu masih bisa ditemukan di Bokor. Inilah saksi bagaimana Melayu membangun peradaban. Inilah spirit menjaga alam yang harus tetap digemuruhkan, jika Riau memang ditahbiskan sebagai salah satu paru-paru dunia. Inilah anugerah yang harus menjadi titik balik kita untuk kembali menghargai alam. Menyelamatkan dunia dari Riau. Inilah obor dari Bokor, suluh yang harus senantiasa dijaga apinya. Namun, jika para pemegang teraju kepemimpinan hanya berpikir sebatas kerongkongan, alamat padamlah ia. Maka, obor dari Bokor, jangan sampai teledor…***

Tulisan ini dibuat pada tahun 2010.

Check Also

”Apa yang Sudah Bung Tulis?”, Oleh: Purnimasari

Selain karena berkah dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang paling utama, salah satu hal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *