Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Nilai-nilai Kepemimpinan Melayu (Bagian 4), Oleh: UU Hamidy
Mahkota Emas Sultan Siak di Provinsi Riau. Foto: cagarbudaya.kemdikbud.go.id

Nilai-nilai Kepemimpinan Melayu (Bagian 4), Oleh: UU Hamidy

4. Beberapa Perkara yang Patut Dipertimbangkan

Demikianlah lintasan kepemimpinan dunia Melayu di Riau. Dengan gambaran ini dapat dikesan betapa puak Melayu punya tradisi kepemimpinan yang mampu membuat warga masyarakat punya potensi untuk mengurus dirinya sendiri. Mereka punya pemimpin dengan gaya hidup yang sederhana, tapi punya akhlak yang mulia serta tajam berpikir untuk memecahkan persoalan yang dihadapi oleh masyarakatnya. Inilah satu di antara beberapa aspek kehidupan yang membuka peluang pada masyarakat puak Melayu di Riau meraih kesejahteraan hidup. Faktor ini jugalah yang telah membuat Riau punya kekayaan yang melimpah.

Dasar-dasar kepemimpinan serupa ini seyogianya mendapat pertimbangan dalam pemerintahan daerah di Riau. Jika otonomi daerah memang ditaja untuk meningkatkan taraf hidup dan martabat di Riau, maka layaknya kiranya dipertimbangkan lagi beberapa perkara berikut ini.

1. Pemerintah otonomi daerah hendaklah bekerja sama dengan lembaga adat puak Melayu dalam usaha meningkatkan kembali kemampuan masyarakat memelihara dan membina dirinya sendiri. Pemerintah jangan lagi memakai pendekatan politik seperti Orde Baru, tetapi bisa kultural antropologis.

2. Lembaga adat puak Melayu hendaknya diberi peluang memperbaiki peranan dan keberadaannya agar dapat memainkan peranan yang positif bagi masyarakat yang dipandunya.

3. Lembaga adat pantas mendapat subsidi dari pemerintah daerah. Sebab sebagian dari pendapatan daerah itu berasal dari masyarakat adat. Subsidi itu akan digunakan untuk mendorong kegiatan lembaga adat agar dapat berbuat lebih memadai.

4. Sistem masyarakat Melayu yang memakai kenegerian, kepenghuluan maupun pebatinan yang sederhana dan mudah dipimpin, pantas diperhitungkan kembali meskipun agaknya tidak serupa benar dengan yang lama itu.

5. Masyarakat adat hendaklah mendapat andil dalam perusahaan yang berasal dari tanah masyarakat adat. Masyarakat adat harus ikut serta mengelola perusahaan sehingga dapat menjadi sumber pendapatan mereka, serta tidak membuat mereka hanya menjadi kuli perusahaan. ***

Check Also

Teknik Bercerita (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy

2.  Beberapa Teknik Bercerita Teknik Bercerita Tradisional Teknik bercerita sesungguhnya bukanlah hal yang baru sama …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *