Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Nama Negeri dalam Jejak Dakwah Islam di Kuantan Singingi, Oleh: UU Hamidy
Moda transportasi tradisional yang disebut kompang di Batang Kuantan, tepatnya di Kenegerian Siberakun. Foto: Bilik Kreatif.

Nama Negeri dalam Jejak Dakwah Islam di Kuantan Singingi, Oleh: UU Hamidy

Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana serta Maha Pengatur telah memberitakan dalam Al Quran negeri yang telah dihancurkan oleh Allah karena ulah penduduk negeri itu berbuat maksiat. Penduduk yang durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya itu dibinasakan Allah dengan hujan batu, sembaran petir, teriakan yang mematikan dan banjir besar. Demikianlah Allah hendak memberikan pengajaran dan peringatan kepada umat manusia, agar takutlah kepada Allah serta taatlah kepada Rasul-Nya.

Begitulah nama-nama negeri yang berada di sepanjang Batang Kuantan di Kuantan Singingi sepatutnya dipahami oleh anak negeri tersebut, bahwa agama Islam telah pernah berjaya di rantau itu, sehingga anak negerinya hidup terhormat dan bahagia menuju akhirat. Rangkaian nama negeri sepanjang Batang Kuantan itu memberikan gambaran jalannya dakwah Islam menyampaikan hidayah dari Allah kepada penduduk negeri yang mendapat julukan nagori nan kurang oso duo pulua (negeri yang kurang satu dari dua puluh).

Hampir tak diragukan lagi dakwah Islam di Rantau Kuantan itu bergerak dari hilir Batang Kuantan menuju mudik. Ini terjadi karena lalu-lintas zaman dulu bergerak dari muara sungai (laut) menuju ke hulu (mudik). Sungai itu dipandang sebagai batang (kayu) oleh puak Melayu Kuantan, Kampar dan Jambi yang punya cabang dan dahan seperti dilihat pada anak sungai. Karena itulah mereka menyebut Batang Kuantan, Batang Kampar dan Batang Hari. Karena itu para juru dakwah Islam yang berdakwah sambil berdagang niscaya telah datang dari hilir menuju mudik (hulu).

Marilah kita lihat bagaimana dakwah Islam bergerak dari hilir terus ke mudik Batang Kuantan. Maka juru dakwah yang berdagang ini akan menyinggahi tiap negeri. Dipakai teknik berdagang, karena beberapa keuntungan. Pertama, juru dakwah dapat memenuhi hidup ekonominya dengan jual-beli (berdagang). Kedua, mereka mudah bergaul dengan penduduk negeri melalui jual-beli.

Ketiga, nilai-nilai Islam dengan mudah disisipkan (disampaikan) dalam kegiatan jual-beli, sehingga ajaran Islam makin hari makin banyak dikenal oleh anak negeri. Apabila suatu negeri sudah memeluk Islam, maka nama negeri mereka diganti dengan nama negeri Islam. Ini menjadi tanda pula bagi anak negeri mereka meninggalkan agama animisme-hinduisme yang karut, kemudian pindah pada agama Islam yang lurus lagi cemerlang.

Berdasarkan gerak dakwah yang berjalan dari hilir ke mudik, maka besar kemungkinan negeri Basrah (disebut Basora oleh lidah Melayu Kuantan) sebagai negeri pertama menerima hidayah Islam. Negeri Basrah ketika itu tentulah tidak seluas Basrah yang ada sekarang.

Selepas itu kita jumpai negeri Pulau Madinah (disebut sehari-hari dengan Pulau Dina) yang sekarang masuk lingkungan Basrah. Nama negeri Pulau Madinah benar-benar memberikan bayangan hidayah Islam yang penuh rahmat, karena telah dapat dari nama kota Nabi Muhammad Saw, yang sekaligus pusat pemerintahan Islam pertama di dunia.

Setelah kita mudik Batang Kuantan dari Basrah dan Pulau Madinah kita jumpai negeri Siberakun yang pada suatu tebing negeri itu diberi nama Sampa Rola (Bersumpah dengan Allah). Menurut cerita lisan, di Sampa Rola inilah dahulu perahu-perahu juru dakwah bersandar, karena penat mendayung dari hilir.

Selama bersandar di sana mereka tentu juga berdakwah sehingga melapangkan hati anak negeri. Hasil dakwah kepada anak negeri Sampa Rola di Siberakun itu, sungguh luar biasa. Anak negeri Melayu di situ bersumpah akan tetap setia (tawakkal) kepada Allah karena mereka mendapat agama Islam yang penuh rahmat serta petunjuk dalam hidup dunia menuju akhirat.

Setelah itu kita mudik lagi lalu kita jumpai negeri Kopa (dari asal Kufah), negeri tempat Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. Memegang tampuk teraju Daulah Islam. Setelah negeri-negeri sepanjang Batang Kuantan ini mempunyai kadar memeluk Islam yang memadai, maka terbuktilah agama yang menjadi rahmat bagi segenap alam ini, memberikan kesejahteraan lahir dan batin.

Pertama
, sistem nilai masyarakat bersandar kepada Al Quran dan as-Sunnah. Nilai-nilai adat yang dirancang para datuk masa silam menjadi bersendi kepada Syariah Islam, sehingga terkenallah ungkapan ‘’adat bersendi syarak, yang membuat mereka hidup terhormat di dunia dan insya Allah akan mati dalam kemuliaan di sisi Allah.

Kedua, masyarakat Rantau Kuantan membentuk tata ruang yang sesuai dengan panduan Syariah Islam. Terbagilah hutan tanah atas beberapa bagian: rimba simpanan, tanah ladang dan kebun, tanah pekarangan, rimba kepungan sialang. Ini semuanya memberikan kesejahteraan kepada semua makhluk hidup.

Hutan tanah yang terpelihara ini juga memberikan 8 macam pencaharian, yang dikenal dengan tapak lapan: beladang, berkebun, beternak, baniro (membuat gula enau), bertukang, mendulang emas dan mengambil hasil sungai (laut) serta mengambil hasil hutan.

Ketiga, pembagian hutan tanah yang memberikan kebaikan kepada semua makhluk ini juga menampilkan sistem pertanian dan peternakan. Dalam setahun, 6 bulan pertama untuk pertanian, berupa menanam padi dan tanaman lainnya. Setelah padi dituai, maka 6 bulan berikutnya untuk ternak. Ternak dapat merumput pada ladang padi yang sudah dituai, sehingga kotoran ternak memberikan pupuk lagi kepada tanah peladangan itu.

Demikianlah kehadiran Islam kepada orang Melayu di Kuantan. Mereka hidup tenteram lahir batin dengan panduan Syariah Islam yang memberikan batasan tentang halal-haram, hak-batil serta dosa dan pahala. Mereka melihat Al Quran sebagai tali Allah yang direntang dari langit ke bumi, sehingga mereka jadikan tempat bergantung yang kokoh.

Tapi malangnya, setelah kemerdekaan Indonesia yang mengganti panduan hidup kepada demokrasi dalam mengurus negara, maka adat bersendi syarak (Syariah Islam) tersingkir dalam masyarakat Melayu. Mereka akhirnya jadi liar karena hutan tanah mereka menjadi rebut rampas oleh negara dan pemilik modal. Akibatnya mereka jatuh kepada berbagai maksiat oleh sistem demokrasi yang kufur. Padahal tak ada keselamatan selain daripada taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan hidup dalam tatanan Syariah Islam.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

2 Komentar

  1. Abuz Zubair Hawaary

    subhanallah..menarik sekali. semoga dakwah islam berkembang pesat di sana dan masyarakatnya kembali kepada syari’at islam, aamiin.

    • Aamiin Allahumma Aamiin. Alhamdulillah kini sudah mulai sering diadakan majelis-majelis ilmu di Rantau Kuantan. Dan Ustad Abuz Zubair Hawaary termasuk salah seorang ulama yang cukup sering memberikan kajian di Negeri Jalur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *