Home / Bunga Rampai / Ketika Tata Niaga Sagu Masih Timpang; Kita Punya Produk, Orang yang Tetapkan Harga, Oleh: Purnimasari
Sagu merek HMM alias singkatan dari Haji Muchtar Muhammad dari kilang sagu Harapan I di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau siap dikirim ke Jawa. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif.

Ketika Tata Niaga Sagu Masih Timpang; Kita Punya Produk, Orang yang Tetapkan Harga, Oleh: Purnimasari

Berpuluh tahun terkenal sebagai Kota Sagu, berpuluh tahun pula para pengusaha sagu hanya bisa protes turun temurun dalam diam. Sebab meski mereka yang sejatinya menghasilkan produk, yang menetapkan harga justru pihak lain.

Di sinilah letak beda sagu Meranti dengan sagu dari daerah lain. Selain Meranti,di Riau, sagu juga terdapat di Kabupaten Pelalawan, Indragiri Hilir (Mandah), Kampar dan lain-lain. Sementara di Provinsi Kepulauan Riau, sagu ada di Daik Lingga dan Natuna. Di negeri-negeri ini, bahkan juga di negeri-negeri penghasil rumbia di Indonesia, sagu hanya sebatas jadi konsumsi masyarakat lokal. Tapi di Meranti, sagu telah diperdagangkan ke rantau-rantau jauh, di pelabuhan-pelabuhan yang ditempuh bermalam-malam. Salah satu pelabuhan yang menjadi tujuan utama pengiriman sagu dari Meranti adalah Cirebon.

Pengiriman sagu Meranti dari Selatpanjang menuju Cirebon selama ini mengenal dua sistem. Yakni melalui koperasi dan yang non koperasi. Yang menggunakan koperasi umumnya adalah pemilik kilang sagu warga Tionghoa, sementara pemilik sagu Melayu lebih memilih menggunakan jalur non koperasi.

Menurut pemilik kilang sagu Harapan II, Syafruddin, ia lebih memilih jalur non koperasi karena merasa lebih nyaman dan terbuka. ‘’Kalau lewat koperasi, cenderung hanya orang yang dekat dengan pengurus saja yang bisa mengirim lebih banyak. Sebab itu tak heran, hubungan koperasi dan yang non koperasi seperti perang dingin AS dan Rusia,’’ ujar pria yang akrab disapa Pak Din ini.

Dikatakannya, hingga saat ini yang banyak memegang bisnis sagu adalah orang Tionghoa. Hampir semua kapal-kapal sagu yang berangkat ke Cirebon dimiliki warga Tionghoa. Karena itu, banyak juga orang Melayu yang menjual sagunya lewat orang Tionghoa. Sekarang, biaya pengiriman sagu ke Cirebon untuk satu partai mencapai Rp3,5 juta. Itu belum termasuk pengeluaran untuk membayar retribusi, asuransi, upah angkut dari kilang ke Selatpanjang (berkisar antara Rp2-Rp2,5 juta), uang sandar (mencapai Rp30 ribu per kapal), uang jahit (jika ada goni yang koyak) dan lain sebagainya.

Total jendral, lanjut Pak Din, pemilik kilang harus menyiapkan uang paling tidak Rp20 juta untuk mengirim satu partai. Dengan harga Rp3.000 untuk satu kilogram sagu, dan satu partai ada 520 goni dengan kapasitas satu goni adalah 50 Kg, diperoleh pendapatan kotor sebesar Rp78 juta. ‘’Tapi itu belum dipotong biaya pengiriman, operasional kilang, gaji karyawan dll. Kita juga harus menghitung penyusutan karena selama di perjalanan biasanya susut minimal 200 Kg. Walau dijemur bagaimanapun tetap ada penyusutan. Karena itu kami selalu berusaha mengirimakan minimal dua partai sekali trip agar ongkos produksi bisa tertutupi,’’ ungkapnya.

Menurut Pak Din, ketika harga bahan baku naik, harga jual sagu ternyata tidak ikut naik. Ketika harga goni dan BBM naik, harga sagu tetap begitu-begitu saja. Bahkan pernah ketika harga BBM naik, kapal tak mau muat sebelum biaya pengiriman ditambah. Sementara, sebenarnya, harga asli tepung sagu yang dibeli di Cirebon adalah Rp2.600 dan mereka jual lagi jadi Rp3.000. Sehingga, dari satu partai saja, perusahaan dagang di Cirebon sebenarnya sudah dapat untung bersih Rp600.000 tanpa ada kerja.

Untuk bisa mencapai produksi satu partai, demikian Pak Din, biasanya dapat dicapai dalam waktu 3-4 hari tergantung bahan baku. Sebab itu, agar produksi kilang maksimal dan pasokan bahan baku stabil, minimal harus bisa dikirim dua partai. Jika kilang sudah menggunakan mesin yang lebih modern, yakni dengan sistem oven, sehari bisa menghasilkan minimal 150 goni. Sedangkan kalau yang tradisional lebih tergantung cuaca karena sagu perlu dijemur menggunakan panas matahari. Kalau dari segi penampilan, tepung sagu dari kilang oven lebih bagus, tetapi jika dari segi rasa lebih mantap yang kilang tradisional.

Pemilik kilang sagu juga harus membayar berbagai macam pajak. Mulai dari mengurus izin halal, pajak bulanan, pajak air bawah tanah, mengurus tanda daftar industri, izin UU Gangguan (HO), surat izin usaha perdagangan (SIUP), surat izin tempat usaha (SITU) dan tanda daftar perusahaan perorangan.

‘’Karena itu saya lebih pertahankan kualitas daripada mengejar untung besar. Kalau jatuh, terpaksa ganti merek. Harus ubah merek dulu baru orang percaya,’’ ujar pemilik kilang yang terletak di Sei Berkung Suir Kanan, Desa Tanjung Kecamatan Tebing Tinggi Barat ini.

Permainan Harga, Persaingan Tak Sehat

Sementara itu, menurut pemilik kilang sagu Harapan I, Amiruddin (42), Cirebon juga melakukan permainan harga. Kalau jatah suatu perusahaan dagang berkurang, harga bisa naik sehingga mengakibatkan persaingan tidak sehat. ‘’Kelemahannya, kita yang punya produk, tapi tak bisa menetapkan harga. Itulah sebenarnya guna koperasi, untuk menstabilkan harga,’’ ujar Amir.

Kalau koperasi berfungsi, lanjutnya, hal inilah sebenarnya yang harus dibenahi. Jika semua petani sagu bisa bersatu dalam sebuah asosiasi, mereka bisa menetapkan harga dan membuat klasifikasi harga sagu berdasarkan jenis-jenisnya , misalnya tipe A, B dan C. Dulu sebenarnya pernah dibentuk wadah perkumpulan petani sagu seperti Selat Air Hitam dan Asosiasi Sagu, tapi keduanya gagal.

‘’Kalau sekarang, kita tidak tahu harga. Apa stabil, apa turun atau malah naik. Jadi susah menetapkan ongkos produksi. Karena itu harga jual yang terakhir yang jadi patokan. Harga sagu paling-paling cuma naik kelipatan Rp50. Sekarang, tidak punya kebun pun bisa buat kilang,’’ ungkap Amir.

Dikatakannya, kalau bulan Ramadan, biasanya perusahaan dagang melakukan penumpukan karena tenaga kerja di Cirebon banyak yang pulang. Saat ini setidaknya ada 10.000 ton sagu per bulan yang dikirim dari Selatpanjang ke Cirebon. Tapi di Cirebon, paling-paling yang terpakai cuma sekitar 5.000 ton. Jadi Selatpanjang sebenarnya mengirim lebih. Sisanya dibeli lagi oleh berbagai daerah seperti Jakarta. Satu kapal biasanya memuat 1.040 sak atau minimal dua partai.

Di Cirebon, kata Amir, sagu paling-paling cuma digunakan untuk bahan tambahan pembuat soun. Sebab soun dari tepung keladi jauh lebih enak dan sagu hanya sebagai tambahan agar ia lebih lengket. ‘’Dulu kita pernah coba jual ke Klaten tapi harga tak cocok dan ongkos jadi tinggi. Kirim ke Malaysia dan Medan juga ada, tetapi sedikit. Jadi tetap di Cirebon karena kualitas airnya lebih bagus dan pelabuhannya strategis. Kelemahan kita di Meranti adalah air kita merah. Jadi jika ada 10 kilang, ada 10 juga warna sagunya. Karena itu sekarang ada yang nakal dan pakai kaporit untuk menjernihkan air. Kalau di Cirebon sistemnya agak longgar. Kalau sistem kontrak lebih susah, basah sedikit mereka tak mau terima,’’ beber Amir.

Untuk kilang besar, lanjut Amir, minimal harus ada dana Rp200 juta per bulan untuk operasional saja. Sementara untuk konsumsi mencapai Rp20 juta per bulan. Karena para pekerja ditanggung makan sarapan dan makan siang serta dua kali snack. ‘’Kalau satu kilang punya 3.000 jalur, baru takkan pening. Jadi ada 1.500 batang per bulan sebab satu jalur berisi 20 batang. Akhirnya memang harus produksi yang dinaikkkan dan memperluas kebun.

Sekarang, bisa bertahan saja sudah cukup baik. Kalau harga sagu Rp3.500 per Kg itu baru cocok dengan kenaikan harga bahan. Apalagi sagu ini permintaan lebih tinggi daripada pemakaian,’’ tuturnya. Jalur adalah istilah khusus untuk satuan atau sistem metrik (bentangan) yang umum digunakan di wilayah Melayu pesisir. Satuan meter/metrik adalah depa (bentangan ujung tangan kiri dan ujung tangan kanan). Sebab itu, ukuran ini bisa elastis tergantung ukuran tinggi badan manusia. Tapi, rata-rata, untuk satu hektare adalah 3,5 jalur.

Selain itu, biaya perawatan kebun minimal dilakukan tiap enam bulan. Yakni untuk menebas dan menyisip (jika ada yang mati). ‘’Paling tidak itu dilakukan sampai rumbia berusia lima tahun. Baru bisa agak lega sikit. Tapi tetap belum aman karena masih ada hama seperti kumbang dan monyet,’’ kata Amir.

Dijelaskan Amir, sagu Meranti belum bisa mencapai kualitas ekspor karena kadar airnya minimal harus 12 persen. ‘’Ini yang susah, kecuali kalau kita pakai oven listrik. Kalau oven kayu, hasilnya tergantung api. Kita belum bisa bersaing, jadi ikut saja. Harga sagu biasanya dipengaruhi oleh tepung ubi (tapioka). Jika harga tapioka turun, harga sagu juga ikut turun. Sempat tepung jagung dari Cina masuk, sagu bisa terancam. Karena harga mereka lebih murah dan kualitas bagus. Dulu pihak Sampoerna pernah ingin membeli sagu basah dari kilang, tapi dengan sistem kontrak. Tapi permintaan itu susah dipenuhi karena kendala alam dan bahan baku,’’ kata Amir.

Sementara itu, menurut salah seorang koordinator pengiriman sagu ke Cirebon, H Deli Yuzar (58), saat ini di ada 11 kilang yang mengirim di luar koperasi dan sekitar 40-an kilang melalui koperasi. Satu kapal bisa memuat 700-800 ton tepung sagu. Untuk yang di luar koperasi biasanya sanggup mengirim hingga dua kapal sebulan. Untuk tenaga kerja bongkar muat sudah ada langsung dari pelabuhan induk. Pengiriman Selatpanjang-Cirebon biasanya ditempuh empat hari empat malam.

Bagi Deli, pekerjaan sampingan ini telah ditekuninya sejak berusia 21 tahun. ‘’Jika sagu sudah banyak terkumpul, saya lah yang mencarikan kapal. Karena kilang sagu banyak, satu kapal tidak bisa diisi sendiri oleh kilang tertentu. Karena itu saya yang memberikan porsinya. Biasanya sesuai besar kecilnya kilang yang dimiliki. Kalau di koperasi, ada tiga orang lagi yang pekerjaannya seperti saya,’’ ujar Deli.

Dikatakannya, satu kapal biasanya berisi 25-30 partai. Biaya satu partai sekitar Rp3,5 juta dan upah muat Rp25.300 per ton. Fee dari satu kapal mencapai Rp125.000 per partai. Menurut Deli, agar tata niaga sagu di Meranti tak timpang lagi, Pemkab dan pihak terkait harus bersama-sama mencari solusinya. Salah satu menurut Deli adalah mendirikan industri hilir sagu. Sehingga, Meranti tak hanya sebatas mensuplai bahan baku. ‘’Sekitar 70-80 persen sagu di Cirebon dijadikan soun. Sedangkan pabrik soun di Meranti cuma ada satu yakni di Alai. Biaya transportasi yang hingga kini masih mahal juga harus ditekan. Di samping itu mendirikan BUMD yang khusus mengurus sagu juga sebaiknya dilakukan,’’ ujar Deli.

Di sisi lain, Ketua Koperasi Harmonis, Indra Wijaya mengatakan, saat ini ada 40-45 kilang sagu yang menjadi anggota koperasi. Biasanya, koperasi yang berlokasi di Jalan Merdeka Selatpanjang ini sanggup mengirim 4-000-4.500 ton per bulan. Meski demikian, pria yang akrab disapa Akok ini juga mengakui jika sagu Meranti masih susah untuk menembus pasar ekspor.

‘’Kita masih tergantung alam. Kalau musim hujan, susah menjemur tepung sagu, kalau musim kemarau, susah dapat air. Di Meranti ini kita kesulitan karena airnya merah. Jadi warna tepung sagu tiap kilang bisa beda-beda,’’ ujar Akok didampingi salah seorang pengurus Koperasi Harmonis lainnya, Baharuddin.

Jika para pemegang tali teraju di Meranti tak segera mengurai kusut masainya tata niaga sagu ini, agaknya, judul album kedua salah satu grup band asal Riau yang juga mengambil tajuk yang sama: Sagu, adalah tamsil yang tepat. Yakni: Beda Impian.***

Check Also

”Apa yang Sudah Bung Tulis?”, Oleh: Purnimasari

Selain karena berkah dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang paling utama, salah satu hal …

2 Komentar

  1. Artikel ini sangat membantu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *