Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Mitos dan Syariah Islam (Kajian Sejarah Melayu oleh Tun Sri Lanang), Oleh: UU Hamidy

Mitos dan Syariah Islam (Kajian Sejarah Melayu oleh Tun Sri Lanang), Oleh: UU Hamidy

1. Harga Diri dan Mitos
Harga diri merupakan dimensi kehidupan umat manusia. Beberapa jalan telah ditempuh demi mendapatkan harga diri. Yang mengikuti gelombang materialisme telah membangun harga diri dengan kebendaan. Jumlah harta benda dipakai untuk menentukan tinggi rendahnya harga diri. Ada juga yang menyangkutkan harga diri dengan popularitas, sebagaimana banyak ditempuh oleh kaum selebritis. Ada juga yang mencari harga diri lewat kekuasaan, karya dan karier. Tapi ini hampir semuanya bermuara juga pada kebendaan. Maka ada yang punya harga diri, sebatas diri sendiri. Punya harga diri sebatas orang lain. Hanya sedikit yang ingin punya harga diri di hadapan Tuhan. Dalam agama Islam, harta, rupa, keturunan dapat dipandang menentukan harga diri. Tetapi di atas itu, tetaplah agama sebagai ukuran yang terbaik untuk menentukan harga diri.

Pada masa lampau, paling kurang sampai abad ke l5 M, harga diri banyak dipandang orang bergantung pada harta, anak dan kuturunan. Jumlah harta dan anak akan menentukan harga diri. Tapi keturunan juga dipandang penting, sebab hal ini menjadi kebanggaan masa silam. Demikianlah, beberapa puak atau suku bangsa telah membangun harga diri dengan cara membuat cerita masa silam. Ada yang menceritakan nenek-moyang mereka keluar dari buluh betung, ada pula yang turun dari puncak gunung merapi, ada lagi dari putri Junjung Buih. Ada leluhur yang dihubungkan dengan Pandawa Lima, bahkan ada lagi merangkai dengan Raja Iskandar Zulkarnain.

Cerita atau teks lisan tentang asal leluhur itu pada umumnya memberikan gambaran luar biasa, sehingga dapat menimbulkan rasa kagum. Rasa kagum inilah yang diperlukan untuk harga diri, agar tidak merasa di bawah martabatnya daripada pihak lain. Semua cerita ini lebih banyak bersifat mitos semata, karena hampir tak mungkin berlaku dalam dunia nyata. Dunia Melayu itu ternyata tidak menekankan pada asal leluhur, tetapi lebih mementingkan asal raja atau pemegang teraju kepemimpinan. Maka dalam Sejarah Melayu, asal raja-raja Melayu telah dirangkai dengan Raja Iskandar Zulkarnain, raja kerajaan Masedonia yang pernah menjadi raja dunia yang tersohor. Dengan demikian, asal raja-raja Melayu itu tidak sepenuhnya khayali atau mitos. Sebab, Raja Iskandar itu memang manusia sejarah, bukan manusia imajinatif.

Sejarah Melayu telah membentangkan, bagaimana perjalanan Iskandar Zulkarnain menuju Timur. Dia konon pergi ke dunia Timur untuk melihat matahari terbit. Dalam perjalanannya, sampailah raja besar ini ke benua Hindia. Di sini dia dapat menaklukkan Raja Kida Hindi serta membuat raja ini beriman menurut syariat Nabi Ibrahim a.s. Raja Kida Hindi punya putri yang bernama Putri Syahrul Bariyah. Raja Iskandar dinikahkan dengan putri tersebut oleh Nabi Khidzir. Dengan perkawinan itu terjalinlah hubungan antara Raja Iskandar dengan Raja Kida Hindi. Keturunan Raja Iskandar dengan Putri Syahrul Bariyah, satu di antaranya ialah Sang Sapurba. Dalam penjelajahannya, Sang Sapurba sampai ke tanah Melayu, yakni Bukit Siguntang Mahameru di tanah Palembang sekarang ini. Sang Sapurba inilah yang dipandang memberi ‘darah’ keturunan Iskandar terhadap raja-raja Melayu.

2. Syariah Islam Melumpuhkan Mitos
Sejarah Melayu tampaknya hanya memerlukan kebesaran Iskandar Zulkarnain bagi martabat raja-raja Melayu. Karena itu Sejarah Melayu telah membuat rangkaian hikayat yang membuat hubungan antara keduanya. Keadaan ini juga memberi akibat pada Sang Sapurba, yang juga harus diperlihatkan sebagai seorang raja besar. Maka, Sang Sapurba sewaktu mendarat di Bukit Siguntang telah memperlihatkan tiga bukti sebagai tanda keturunan Raja Iskandar, yaitu pedang Corek Mandang Kini, lembing Lembuara dan cap kayu Kempa. Dengan tiga bukti ini maka percayalah Wan Empuk dan Wan Malini yang membuat huma (ladang) di lereng bukit itu.

Meskipun demikian, memandang alam pikiran dewasa itu yang masih karut dengan kepercayaan Animis-Hinduisme, maka Sejarah Melayu juga harus menceritakan kesaktian Sang Sapurba sebagai seorang raja besar agar dapat diterima oleh jagad Melayu dewasa itu. Pertama dibentangkanlah keajaiban bahwa ketika Sang Sapurba dengan dua orang saudaranya tiba malam hari di Bukit Siguntang, maka tampak api menyala di bukit itu. Esok paginya ketika Wan Empuk dan Wam Malini melihat padinya, terjadi lagi suatu hal yang aneh, betapa padinya berbuahkan seperti emas, batang padinya tembaga dan daunnya perak. Lalu yang paling hebat lagi, tiap perempuan yang diperisteri oleh Sang Sapurba pada malam hari, maka pada pagi hari akan kena kedal. Ada sebanyak kurang esa 40 perempuan yang telah kena kedal, karena dikawini oleh Sang Sapurba.

Kita harus maklum bahwa Tun Sri Lanang sebagai penulis Sejarah Melayu bukanlah hanya sebatas bendahara saja, tetapi juga seorang ulama dan cendikiawan yang terpandang dalam zamannya. Dia tentu melihat kenyataan, betapa hikayat pada masa itu adalah media pendidikan yang amat mangkus, sebab dibaca serta didengar bersama-sama oleh khalayak. Pesan-pesan agama Islam tentu amat penting dalam hikayat, sehingga mendorong islamisasi. Hal ini dengan mudah dapat kita ketahui setelah kita membaca pembukaan Sejarah Melayu dengan rangkaian Bahasa Arab, kutipan Alqur’an, pujian terhadap kebesaran Allah Swt serta shalawat untuk para ambiya, terutama terhadap nabi kita junjungan alam Nabi Muhammad Saw. Lebih dari itu, Sejarah Melayu ditulis sebagai hikayat dengan tajuk Sulalatul Sulatin yakni Peraturan Segala Raja-raja. Peraturan harus menyampaikan yang benar, sedangkan kebenaran semata-mata hanya dari Allah dengan Alquran yang disampaikan serta dijelaskan lagi diamalkan oleh Rasulullah SAW. Inilah yang membuat Sejarah Melayu dapat menjadi mutiara segala cerita dan cahaya daripada segala perumpamaan.

Bersabit dengan itu, maka tentulah pada hakikatnya Tun Sri Lanang tidak dapat menerima sepenuhnya tentang cerita kesaktian Sang Sapurba, yang secara tidak langsung berseberangan dengan akidah Islam. Terhadap berbagai peristiwa serupa itu Tun Sri Lanang telah bersandar kepada redaksi “dengan takdir Allah” serta menutup tiap cerita atau hikayat dengan wallahu alam bissawab. Dengan ini dapat terbaca kepiawaian Tun Sri Lanang menampilkan akidah Islam yang kukuh, secara hati-hati memansuhkan mitos-mitos yang karut dalam jagad Melayu dewasa itu. Sejarah Melayu telah memakai teknik dakwah bagaikan akar kayu menembus tanah. Maju pelan-pelan sedikit demi sedikit, akhirnya tembus atau berhasil.

Sejarah Melayu telah memperlihatkan bagaimana yang hak (kebenaran) mengalahkan yang bathil, melalui pertemuan raja Melayu di Palembang bernama Demang Lebar Daun dengan Sang Sapurba. Sang Sapurba berkenan memperisteri Wan Sendari, anak Demang Lebar Daun. Namun pinangan itu tidak diterima begitu saja oleh Demang Lebar Daun. Dia meminta Sang Sapurba berwadat, yakni berjanji dan bersumpah lebih dulu,sebelum pernikahan dilangsungkan. Ternyata Sang Sapurba bersedia menerima wadat itu. Maka sembah Demang Lebar Daun, ‘’Adapun Tuanku, segala anak cucu patik akan jadi hamba ke bawah Duli Yang Dipertuan. Hendaklah dia diperbaiki oleh anak cucu duli Tuanku. Dan jika ia berdosa, sebesar-besar dosapun, jangan difadhihatkan, dinista dengan kata-kata yang jahat. Jikalau besar dosanya dibunuh, itupun jikalau berlaku pada hukum Syarak’’. Pihak Sang Sapurba juga minta janji, ‘’Hendaklah pada akhir zaman kelak anak cucu bapa hamba jangan durhaka kepada anak cucu kita, jikalau ia zalim dan jahat pekerti sekalipun’’. Maka kata Demang Lebar Daun. “Baiklah Tuanku, tetapi jika anak buah Tuanku dahulu mengubahkan, maka anak cucu patik pun mengubahkanlah’’.

Wadat atau perjanjian ini dibuhul dengan bersumpah-sumpahan, barang siapa mengubah perjanjian itu dibalikkan Allah bumbungannya ke bawah, kaki tiangnya ke atas. Inilah perjanjian yang dipagar oleh keimanan pada Allah dan Rasul-Nya, bahwa raja tidak akan menista rakyat sedangkan rakyat tidak akan durhaka kepada raja, dalam dunia Melayu. Dari perjanjian dan sumpah yang dibuhul dengan kutuk Allah itu, kita dapat melihat bahwa Sang Sapurba sebenarnya telah menerima Syariah Islam sebagai dasar teraju pemerintahan. Dengan kata lain, Sang Sapurba telah memakai hukum Syarak sebagai bingkai kekuasaannya. Hal ini sudah terbaca dalam perjanjian, bahwa Sang Sapurba harus memperbaiki anak cucu yakni kata lain memelihara rakyat dengan panduan Islam. Dia hanya dapat dibenarkan melakukan hukum bunuh dengan memakai Syariah Islam.

Berdirinya Syariah Islam sebagai yang hak telah membuat yang bathil jadi luntur, yang hanya bersandar pada kesaktian sebagai sihir yang diajarkan oleh syetan. Akibatnya, segala kesaktian Sang Sapurba juga segera sirna. Hancurnya yang bathil dan tegaknya yang benar, diperlihatkan oleh Sejarah Melayu dalam babak perkawinan Sang Sapurba dengan Wan Sendari. Setelah Wan Sendari menjadi permaisuri Sang Sapurba, maka putri Demang Lebar Daun itu, tidak lagi kena kedal, sebagaimana berlaku terhadap isteri Sang Sapurba sebelumnya. Dengan ini Sejarah Melayu telah membentangkan alam pikiran mistis yang pernah berlaku dalam dunia Melayu. Sedangkan pada sisi lainnya memperlihatkan betapa indah dan baiknya Syariah Islam memandu dan memelihara kehidupan umat manusia.***

 

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *