Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Menumbai : Upacara Mengambil Madu Lebah dalam Masyarakat Petalangan, Oleh: UU Hamidy
Sarang lebah sialang di Pelalawan, Riau. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif.

Menumbai : Upacara Mengambil Madu Lebah dalam Masyarakat Petalangan, Oleh: UU Hamidy

Beberapa puak dan persukuan Melayu di pantai Timur Sumatera agaknya sudah cukup lama mengenal lebah dalam dunia kehidupan mereka. Di beberapa daerah, lebah dipandang sebagai lambang pertanda kesehatan dan rezeki yang murah. Karena itu, bila ada lebah bersarang di rumah (yang biasanya disebut lebah rumah atau lebah sayak, karena sarangnya yang berbentuk bulat seperti sayak atau tempurung), amatlah disukai. Ini adalah jenis lebah kecil yang disebut afis flaera. Kehadiran lebah itu dianggap sebagai pertanda dari Tuhan akan datangnya rahmat kepada penghuni rumah itu.

Persukuan petalangan di Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau yang merupakan hasil asimilasi dari berbagai puak Melayu, juga merupakan suatu masyarakat yang mempunyai hubungan tertentu dengan lebah dalam kebudayaannya. Lebah mendapat julukan dengan lalat putih Sri Majnun. Binatang ini dalam cerita rakyat dikatakan berasal dari gua batu di Makkah.

Datuk Demang Serail sendiri sebagai seorang di antara nenek moyang petalangan, diceritakan telah membawa bibit pohon kayu sialang dari jenis sulur batang ke daerah petalangan sekarang ini, di samping tumbuhan rasau yang dapat dijadikan bahan anyaman. Ini memberi petunjuk bahwa pendatang pertama ke daerah petalangan itu telah mengenal pentingnya madu dan bahan anyaman bagi kepentingan kehidupan.

Lebah dikatakan oleh mereka tertarik kepada pohon sialang karena pohon itu adalah kayu yang sakti. Pohon ini ada yang rampak, serta ada pula yang rindang menjulang tinggi. Begitu bagus tampaknya sehingga lebah tertarik untuk hinggap. Pada lain pihak, kayu jenis sulur batang dianggap sebagai raja kayu. Dengan begitu, segala sesuatu yang tinggal di kayu ini akan aman.

Terdapat hubungan yang erat antara lebah dengan pohon sialang. Besar kemungkinan, kata “sialang”, di samping sebagai nama kayu tempat lebah bersarang, juga dipakai sebagai nama lebah itu sendiri. Sebab, lebah yang bersarang pada kayu sialang telah disebut lebah sialang. Atau sebaliknya, kayu itu disebut kayu sialang, karena lebah sialang bersarang padanya. Disebut lebah sialang, karena lebah itu tinggi sarangnya.

Lebah yang bersarang pada pohon sialang atau lebah sialang pada beberapa daerah disebut lebah hutan. Lebah ini disebut apis dorsata dalam bahasa Latin. Dalam bahasa Jawa disebut tawon gong, sedang orang Sunda menyebutnya odeng. Lebah ini panjangnya ada sekitar 1,9 Cm, merupakan jenis lebah yang terbesar.

Menurut masyarakat petalangan —seperti telah disinggung terdahulu— ada 4 kali lebah sialang itu bersarang dalam setahun. Bila pohon sialang telah dihinggapi lebah, maka penduduk mengatakan “sialang sudah naik”. Keempat musim itu —musim bunga jagung, musim bunga padi, selesai menuai dan masa menebang serta menebas ladang— tidak mempunyai jarak yang begitu panjang. Rata-rata jaraknya ada 3 bulan.

Keempat musim itu memperlihatkan kembali bagaimana hubungan lebah sialang dengan flora di sekitarnya. Dalam musim bunga jagung dan musim bunga padi, mestilah sebagian daripada lebah itu telah mengambil butir-butir madu dari tanaman ladang di sekitarnya. Hanya lebah yang bersarang semasa musim menebang rimba petalangan, yang tidak akan mengambil sari madu dari peladangan penduduk. Dalam musim bersarang yang terakhir ini, lebah itu tentu telah mengambil butir-butir madu dari bunga-bunga bermacam kayu yang ada di rimba kepungan sialang maupun yang berada di rimba simpanan.

Madu lebah dalam musim padi merupakan madu lebah yang paling banyak disukai. Warnanya agak keputih-putihan dan rasanya enak. Sedangkan madu lebah dalam musim-musim lainnya agak keruh, karena agaknya sari madu terlalu banyak ragamnya. Dan rasanya juga beragam, malah ada sedikit kepahitan. ***

(Riau sebagai Pusat Bahasa dan Kebudayaan Melayu, UU Hamidy)

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *