Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Menumbai sebagai Kata Kunci Kebudayaan, Oleh: UU Hamidy
Lebah madu di pohon sialang. Foto: Dpkumentasi Bilik Kreatif.

Menumbai sebagai Kata Kunci Kebudayaan, Oleh: UU Hamidy

Membicarakan suatu kegiatan budaya seperti menumbai (upacara mengambil madu lebah) akan merupakan suatu kajian yang mempelajari aspek-aspek manusia atau kelompok masyarakat tertentu dalam hubungannya dengan alam pikiran, perasaan dan cara mereka memandang alam. Kajian serupa itu lazim disebut sebagai kajian antropologi budaya.

Dengan konsep serupa itu, kita sebenarnya mengamati ekspresi manusia dalam bentuk dan arti simbol-simbol yang dipergunakan oleh suatu komunikasi tertentu. Karena itu kita harus mencoba membaca dan menafsirkan berbagai simbol dan kiasan yang mereka pakai dalam dunia kehidupannya.

Ketika kita membicarakan persoalan simbol dan kiasan dalam masyarakat petalangan sebagai masyarakat yang sederhana (dalam arti lebih ringkas sistem organisasinya) maka kita bukanlah berhadapan dengan persoalan logis dan tidak logis. Cara berpikir masyarakat seperti itu, bukan sebenarnya tidak logis. Yang benar menurut John Beattie, mereka berpikir secara simbolik dan kiasan.

Keadaan serupa itu menurut para ahli antropologi dalam budaya apapun juga selalu akan dijumpai komponen-komponen yang tak rasional, tetapi kuat lagi menyeluruh. Kita akan berlaku tidak adil terhadap kekuatan kiasan dan pengucapan halus, jika kita mengharapkan segalanya menurut hukum silogisme yang induktif. Kemungkinan lain daripada cara berpikir juga terbuka luas, sehingga pemikiran yang padu juga boleh bersifat simbolik di samping bersifat ilmiah.

Jika dilihat dari segi makna bahasa, maka menumbai diduga berasal dari kata ‘’tumbai’’ atau ‘’umbai’’, di mana saran arti kata-kata itu antaranya turun, menurunkan. Makna itu masih tampak dalam kata ‘’umbaian’’ (turunkan dari atas ke bawah) dengan mempergunakan suatu alat maumbaian (menurunkan) misalnya tali dan bakul.

Dalam kegiatan menumbai memang tampak ada makna gerak menurunkan sesuatu dari atas, yaitu menurunkan madu lebah dengan mempergunakan tempat madu yang disebut timbo. Timbo diumbaikan atau diturunkan ke bawah dengan mempergunakan tali.

Meskipun demikian, yang lebih penting lagi tentulah makna upacara sebagai budaya manusia petalangan dalam keseluruhan kegiatan kehidupan mereka. Upacara menumbai menampakkan diri dalam warna kehidupan mereka sebagai kekuatan kiasan melalui pengucapan halus. Karena itu menumbai juga memperlihatkan dirinya berupa kekuatan batin, yang sering dalam istilah antropologi disebut kekuatan magis.

Kekuatan kiasan yang mempergunakan pengucapan halus berupa pantun-pantun dalam menumbai lebah sialang, bisa dilihat dari segi dunia budaya pada sisi esoteriknya, serta yang utama dari segi alam pikiran pesukuan petalangan dari warisan tradisi lama.

Keduanya tampak berbaur dalam menumbai, sehingga makrifatnya berpilin dalam bentuk dua tali pandangan batin tersebut. Oleh sebab itu, menumbai juga merupakan semacam kata kunci budaya, untuk menterjemahkan istilah Jan Vansina key word of culture dalam kitanya Oran Tradition yang banyak membahas masalah tradisi.***

(Riau sebagai Pusat Bahasa dan Kebudayaan Melayu, UU Hamidy)

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *