Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Menjadi Budak, Oleh: UU Hamidy

Menjadi Budak, Oleh: UU Hamidy

Allah Maharaja umat manusia, Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad Saw Junjungan Alam, agar manusia menjadi makhluk yang merdeka. Alquran adalah satu-satunya aturan kehidupan yang benar-benar sesuai dengan fitrah manusia. Berpegang kepada selain Alquran, sama dengan bergantung kepada jaring laba-laba, sehingga bagaikan terjatuh dari langit, lalu hilang tak tentu rimbanya. Bagaimana memakai Alquran yang benar menjadi aturan kehidupan, telah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw melalui para sahabatnya, yang ternyata sudah terbukti mampu menampilkan generasi umat manusia yang terbaik di muka bumi. Kalau manusia benar-benar mau merdeka, ikutilah Nabi Saw dengan para sahabat Beliau yang telah memakai Alquran sebagai pedoman hidup. Itulah aturan hidup manusia yang sempurna dan diridhai Allah. Selain itu, hanya jalan yang dimurkai Allah dan jalan yang sesat, sehingga hanya mendatangkan bencana kepada umat manusia.

Manusia yang merdeka itu hanya takut kepada Allah, Maha Pencipta lagi Maha Kuasa, tidak takut kepada manusia dan makhluk. Sebab, makin takut manusia kepada Allah, makin takut pula makhluk kepadanya. Dia taat dan bersandar dengan akidah kepada Allah sehingga jadi kuat mengendalikan hawa nafsunya. Dia cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad fisabilillah, sehingga dia dicintai oleh manusia. Inilah buah akidah yang benar, sebagaimana ditampilkan oleh Junjungan Alam Nabi Muhammad Saw dengan para sahabatnya. Tetapi anehnya, setelah manusia diciptakan merdeka lalu diberi syariah Islam yang sesuai dengan fitrahnya, manusia yang bodoh lagi pembangkang itu lebih suka menjadi budak, agar dapat hidup bergelimang dengan maksiat untuk memuaskan hawa nafsunya.

Marilah kita lihat beberapa tiplogi budak dalam zaman teknologi canggih abad ini. Pertama, budak harta. Demi mendapatkan harta dan kekayaan, manusia memakai cara apa saja yang dapat memenuhi hasratnya, sehingga dia jatuh hina. Lihatlah para pengusaha merusak alam, memalsu barang, menimbun dan memainkan timbangan serta takaran. Perhatikanlah orang berhutang apa saja sehingga penghasilannya selalu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Dalam pandangannya, tidak ada beda harta haram dengan halal. Inilah yang menyebabkan manusia abad ini bergelimang dengan riba yang diancam kekal dalam neraka.

Kedua, budak kekuasaan, pangkat dan jabatan. Perhatikanlah tipu daya mereka mencari kekuasaan lewat pemilihan umum. Pakai uang untuk beli suara, janji bohong, memaksa dan mempermainkan surat suara. Itulah sebabnya Pemilu itu sebenarnya bukan lagi proses pemilihan mencari yang terbaik. Tapi adalah medan pertarungan merebut kekuasaan. Akibatnya, partai dan lembaga negara jadi sarang sengketa. Karena kekuasaan dipegang tidak dalam bingkai beribadah kepada Allah maka penguasa itu menjadi zalim dan menindas rakyatnya. Budak kekuasaan ini tidak segan-segan menjual kekayaan negerinya kepada pihak asing, demi kepentingan kekuasaan yang telah jadi sembahannya.

Ketiga, budak gelar. Ada gelar akademik dan gelar kemasyarakatan. Budak gelar ini tidak senang hatinya sebelum ada gelar pada namanya. Kalau dapat, gelar itu berada di depan dan di belakang namanya. Maka untuk mencari gelar-gelar itu dia meninggalkan anak isterinya berbulan bahkan bertahun-tahun, sehingga anak dan isterinya tidak terkawal dengan baik. Dia tidak malu menjiplak karya orang lain atau mengupah minta buatkan karya agar dapat gelar S1, S2 dan S3. Begitu pula gelar seperti ‘’Bapak Bangsa’’, ‘’Negarawan’’ dan ‘’Datuk Setia Amanah’’. Kebanyakan yang menerima gelar tidak mampu melaksanakan amanah yang terkandung dalam gelar tersebut. Sebab gelar itu hanya untuk sanjungan kepada yang diberi gelar, agar dapat diperbudak oleh yang memberi gelar. Sementara itu, haji pun dipandang sebagai gelar, sehingga kalau sudah naik haji lalu tidak dipanggil haji atau hajjah, memberi kesan yang tidak senang.

Keempat, budak kecantikan dan penampilan. Demi terkesan punya penampilan cantik, perempuan juga telah menempuh berbagai cara. Ada yang melalui operasi plastik dan bedah tertentu sampai memasang susuk pada beberapa bagian tubuh. Dengan keadaan itu mereka sebenarnya menderita. Tetapi ditahan penderitaan itu demi penampilan yang anggun. Demi penampilan itu wanita telah membuka auratnya di mana dan kapan saja. Malah pamer aurat itu dipertandingkan dengan berbagai acara dan hiburan. Acara ini bersemarak pada media cetak dan elektronik, sehingga menjadi sumber pendapatan oleh para pengusaha dan cukong. Sementara si budak kecantikan hanya laku ‘’dijual’’ selama belum redup wajahnya.

Kelima, budak popularitas. Demi mendapatkan nama yang terkenal pada media cetak dan elektronik, manusia abad ini membuat tingkahlaku dan perbuatan yang aneh. Yang tak wajar dilakukan dengan akal sehat karena hanya membuang umur dengan sia-sia. Maka muncullah manusia berjalan mundur, kemudian ada orang yang menarik gerbong kereta api dengan giginya, lalu ada pula yang bertualang dengan sepeda motor melompat dari ketinggian ratusan meter. Perbuatan ini diikuti oleh berbagai gambar porno dan karikatur serta bermacam pertunjukan aneh yang menyesatkan orang kepada tahayul dan perbuatan syirik.

Demikianlah, manusia akhirnya telah menjadi budak di panggung dunia karena tidak mau memakai aturan hidup yang sesuai dengan fitrahnya, yakni syariah Islam yang telah dibentangkan oleh Alquran dan Sunnah Nabi Saw. Mereka memandang terbelenggu oleh undang-undang kehidupan dari Allah dan Rasul-Nya, lalu mencari kebebasan dengan mengikuti kemauan hawa nafsu yang justru menjatuhkan mereka menjadi budak.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *