Home / Bunga Rampai / Menjabat Sampai Liang Lahat, Oleh: Purnimasari

Menjabat Sampai Liang Lahat, Oleh: Purnimasari

Semakin tua dunia, semakin banyak hal yang terbalik. Mari kita lihat keganjilan itu dari satu sisi saja. Pada awal kelahiran Islam dengan Nabi Muhammad sebagai pemegang teraju umat, diikuti oleh para sahabat serta pemimpin Islam yang cemerlang seperti Umar Abdul Aziz, orang-orang yang minta jadi pejabat justru dipandang aneh.

Hari ini, meminta jabatan bukan lagi hal yang aneh. Malah sampai ada yang namanya ‘’lelang jabatan’’. Siapa yang mau, silakan mendaftar. Akibatnya, menjadi pejabat itu bukan lagi diminta tetapi meminta.

Mengapa dahulu meminta jabatan dianggap aneh? Karena ini seakan-akan orang yang bersangkutan tidak tahu, bahwa menjadi pejabat itu akan dituntut dengan tanggung jawab yang besar. Meminta jabatan berarti orang yang benar-benar mencari beban, padahal ia belum tentu mampu memikulnya. Maka lihatlah bagaimana pejabat di Indonesia. Hampir seratus persen mereka memang telah merancang hidupnya untuk mencari jabatan. Bahkan, mereka mau menjabat sampai ke liang lahat.

Di lain sisi, orang-orang yang memperlihatkan tidak ambisi mencari kedudukan, takkan pernah dipilih memegang jabatan. Padahal, orang yang tidak punya ambisi inilah sebenarnya yang punya potensi untuk memegang amanah jabatan dengan jujur lagi ikhlas. Karena, ia bebas dari berbagai tujuan sempit, sehingga tidak akan menyalahgunakan jabatannya karena memang punya dasar akhlak mulia dan bebas dari ambisi keduniaan.
Pejabat hari ini, ingin menjabat sampai mati. Ia tidak melihat bagaimana maut memutus segala angan-angan, meruntuhkan kekuasaan, memisahkan dan mengakhiri segala ambisi. Bahkan jika ada ucapan yang bergaya sufis seperti: ‘’Kalaulah kematian itu ada dijual di kedai, kami sudah lama membelinya’’ akan dipandang sebagai perkataan yang konyol.

Dunia Islam banyak memberi tamsil yang menyindir tentang hakikat nilai jabatan. Suatu ketika, Khalifah Harun ar-Rasyid sedang berada di suatu majelis dan Ibnu as-Sammak datang menghadap. Saat itu khalifah merasa haus dan minta diambilkan air. Saat khalifah memegang gelas dan hendak meminum air di dalamnya, Ibnu as-Sammak pun bertanya, ‘’Amirul mukminin, jika Anda dilarang meminum air di gelas itu, berapa besar Tuan akan menebusnya?’’
Harun pun menjawab, ‘’Dengan separuh kerajaanku.’’ Saat khalifah telah menghabiskan air di gelas itu, Ibnu as-Sammak kembali bertanya, ’’Bila Tuan tidak bisa mengeluarkan air seni dari tubuh Tuan, berapa besar Tuan akan menebusnya?’’

Harun menjawab, ‘’Dengan separuh dari kerajaanku.’’ Maka Ibnu as-Sammak pun menimpali, ‘’Kerajaan yang harganya hanya segelas air dan air seni, tidak sepantasnya diperebutkan.’’

Para pejabat sekarang, tak hanya meminta untuk menjabat, mereka bahkan memperebutkan jabatan. Sementara itu, mereka pun berada dalam mata rantai yang panjang untuk melakukan kejahatan. Apa yang dapat diharapkan oleh rakyat dari para pejabat seperti ini? ***

Check Also

Ke Baitullah Setelah Mengusung Jenazah, Oleh: Purnimasari

Kabar duka itu begitu tiba-tiba. Hampir setiap orang yang mendengarnya langsung terperanjat. Si Fulan telah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *