Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Mengepung Ikan di Sungai Kuantan, Oleh: UU Hamidy
Lubuk Karakak adalah sebuah lubuk yang amat terkenal di sepanjang Sungai Kuantan. Lubuk ini tak hanya terkenal karena ikannya yang banyak, tapi juga karena lubuk ini dipandang paling dalam dan paling sakti. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif.

Mengepung Ikan di Sungai Kuantan, Oleh: UU Hamidy

Karena daerah sepanjang Sungai Kuantan dari dahulu terkenal sebagai daerah karet alam, maka mungkin banyak orang menduga sebagian besar dari kesibukan penduduknya habis dengan urusan sebagai petani karet tersebut. Rupanya perjalanan hidup masyarakat setempat sampai saat ini telah cukup jauh berubah dan bergeser. Hidup sebagai petani karet saja tidaklah lagi memadai. Hal ini pada satu hal disebabkan oleh kebun karet rakyat yang sudah terlalu tua –dan amat susah untuk mengadakan peremajaan—ditambah lagi oleh pasaran harga karet alam yang belum begitu cerah. Pada sisi lain kelihatan betapa panen padi di daerah ini makin tahun makin jauh menurun, sehingga secara kasar diperkirakan lebih dari 50 persen penduduknya terpaksa membeli beras, alias hasil sawah dan ladang mereka tidak mencukupi.

Kenyataan hidup yang demikian, ditambah dengan berbagai tuntutan akan hasrat kehidupan masa kini, sedikit banyaknya telah menyebabkan warga kampung sepanjang sungai itu mulai memandang dan mencoba berusaha dalam kegiatan lain. Pencaharian rakyat sekarang ini di samping diperkirakan 50 persen masih hidup sebagai petani karet alam dan bersawah, telah ditunjang dengan membuat papan, mengumpulkan hasil hutan terutama petai, membuat gula enau, dan menangkap ikan.

Jika pada masa dulu terutama sekitar 20 tahun yang silam, kegiatan semacam itu hanya sebagai tambahan pencaharian semata-mata, maka buat masa kini masing-masing kegiatan tersebut mulai mendapat tempat yang berarti.

Kegiatan menangkap ikan mendapat kesempatan yang cukup baik dalam musim kemarau. Dalam musim kemarau itu Sungai Kuantan amat dangkal airnya, beberapa daerah persawahan banyak yang hampir kering. Jika daerah persawahan yang hampir kering itu ditangkap ikannya dengan cara merawang atau marawang, maka ikan-ikan dalam Sungai Kuantan ditangkap dengan cara yang disebut mengepung.

Untuk mengepung ikan di Sungai Kuantan tidaklah dapat dilakukan begitu saja, dalam arti tanpa adanya suatu persiapan dan upacara. Sebelum kegiatan mengepung itu dimulai, setiap kelompok pengepung lebih dahulu mengadakan suatu upacara. Upacara itu lazim disebut menyima. Dalam upacara menyima ini hadir semua anggota kelompok, serta dipimpin oleh seorang dukun dan didampingi seorang pemuka agama. Dengan menyima atau upacara sima, dimaksudkan kegiatan mengepung nanti dapat berjalan dengan baik. Tidak ada gangguan dari hantu-hantu yang tinggal di air, serta gangguan lainnya yang mungkin terjadi.

Upacara sima atau menyima ditandai lebih dahulu dengan memotong seekor ayam di tepi sebuah lubuk Sungai Kuantan. Setelah itu semua biaro-biaro dalam ayam tersebut dimasukkan ke dalam sebuah tempat yang disebut sanggar, dilengkapi dengan bore botiah, sirih dan rokok sebanyak 3 batang. Semua bahan ini ditempatkan demikian rupa di dalam sanggar tadi sehingga merupakan suatu hidangan. Ini memang dimaksudkan sebuah hidangan untuk penghuni lubuk dan sungai tersebut. Lazim hidangan itu disebut untuk (h)antu air, yaitu hantu yang biasanya tinggal dan berkuasa di dalam air. Hantu ini amat perlu didekati demikian rupa, mengingat kegiatan mengepung itu akan berlangsung di atas permukaan air dan di dalam air sungai.

Setelah hidangan di atas sanggar itu disiapkan, sang dukun lalu menghanyutkannya di lubuk di pinggir upacara itu berlangsung. Sewaktu memberikan ‘’hadiah’’ ini kepada penghuni lubuk, sang dukun menurut cerita membacakan beberapa mantra, di mana dalam mantra itu diadakan berbagai perjanjian dan ketentuan antara pihak yang akan mengepung ikan dengan pihak ‘’penguasa’’ lubuk dan air sungai. Upacara ini dapat juga dipandang sebagai upacara mempererat persahabatan antara dua pihak tadi, karena bagi mereka baik anggota pengepung maupun penghuni lubuk sama-sama dipandang sebagai pihak anak cucu Nabi Adam. Dalam perjanjian itu disebutkan pula sampai di mana kegiatan mengepung akan diadakan, sehingga disebutkan ke mudik sampai ke lbuk anu dan ke hilir sampai ke lubuk anu pula.

Upacara diramaikan dengan makan bersama. Kemudian seorang pembaca doa menutup upacara tersebut. Sesudah ini selesai, kegiatan mengepung dapatlah dimulai.

Mengepung ikan dilakukan dengan mempergunakan jala dan perahu. Di daerah kampung Sungai Kuantan dikenal empat macam jala. Jika kita memperhatikannya, maka ada jala yang kasar benangnya serta kasar lubangnya, kemudian ada lagi lebih halus benangnya serta lebih kecil lubangnya. Rupanya menurut kualitas seperti itu ada 4 macam tingkatan jala:
1. Jala rambang (paling kasar benangnya)
2. Jala perumbuk (kurang kasar benangnya)
3. Jala pantau ulu (halus benangnya)
4. Jala rapat (paling halus benangnya)

Untuk mengepung ikan dipergunakan jala rambang. Sebabnya ialah karena ikan yang hendak ditangkap ialah ikan yang besar-besar. Mengepung ikan kira-kira dilakukan dengan mempergunakan 20 sampai 40 buah perahu. Tiap perahu ada seorang tukang jala, dan seorang tukang kemudi perahu.

Peristiwa mengepung ikan kira-kira berlangsung sebagai berikut. Masing-masing perahu membentuk suatu susunan demikian rupa, sehingga menghasilkan semacam lingkaran di atas permukaan air sungai. Sesudah itu tukang jala berdiri mempersiapkan jalanya. Setelah itu, sesudah tiap penjala siap, mereka menebarkan jalanya bersama-sama. Setelah jala turun ke dalam air, tukang kemudi perahu mengusahakan demikian rupa, sehingga jala dapat turun dengan baik, tanpa mendapat gangguan perahu. Juga sewaktu jala ditarik ke atas, tukang kemudi hendaklah arif mengemudikan perahunya, agar segalanya berlangsung dengan baik.

Jika jala sudah ditarik ke atas semuanya, maka mereka kemudian mencari tempat yang baik lagi, yang diperkirakan banyak ikan bermain atau mencari ikan di sana. Karena kegiatan mengepung dimulai dari arah hulu ke hilir, sampai ke tempat yang terakhir. Ikan yang mereka perdapat diletakkan dalam perahu, diikat dengan gosiar yang biasanya terbuat dari rotan.

Sasaran kelompok pengepung ikan sepanjang Sungai Kuantan terutama ialah tempat-tempat yang lubuk. Tempat yang lubuk adalah bagian sungai yang dalam airnya, biasanya banyak ikan bermain dan mencari makan di sana. Sebuah lubuk yang amat terkenal di sepanjang Sungai Kuantan ialah Lubuk Karak. Lubuk ini tak hanya terkenal karena ikannya yang banyak, tapi juga karena lubuk ini dipandang paling dalam dan paling sakti. Lubuk ini dipandang tempat Raja Hantu Air. Lubuk ini pernah bahkan sering dalam musim kemarau, oleh sebuah jala terjala 12 ekor ikan patin. Dalam peristiwa sepert itu, dalam lubuk ini dapat dibongkar ikan sebanyak 50 ekor, dalam waktu hanya sekitar 2 jam saja. Ikan sebanyak itu diperkirakan ada seberat 250 Kg.

Masih banyak lagi lubuk-lubuk lain yang menjadi sasaran dalam mengepung ikan. Kalau kita urutkan dari mudik ke hilir, di Sungai Kuantan akan dijumpai lubuk-lubuk sebagai berikut:
1. Lubuk Botuang di Pulau Aro Teluk Kuantan
2. Lubuk Kopa di Kopa
3. Lubuk Joam di Sentajo
4. Lubuk Rantau Talau di Benai
5. Lubuk Tilan di Siberakun
6. Lubuk Karak di Siberakun
7. Lubuk Panjang Ronge di Siberakun
8. Lubuk Ndek Tandan di Simandolak
9. Lubuk Pandulangan di Simandolak
10. Lubuk Koto Tuo di Siberakun
11. Lubuk Bintungan di Simandolak
12. Lubuk Ikan Lomak di perbatasan Simandolak dengan Pangean
13. Lubuk Pengian di Pangean
14. Lubuk Soba di Baserah

Peristiwa Sima cukup memberi kesan kepada kita betapa masyarakat daerah ini masih mengakui kekuatan alam ghaib. Maka pengakuan itu bukan hanya dalam soal keselamatan itu saja. Baik jala dan perahu maupun saat akan berangkat pergi mengepung tidaklah mereka biarkan terjadi demikian saja. Atau kalaupun memang terjadi seperti apa yang telah terjadi, namun mereka mencoba membaca tanda-tanda kejadian itu. Tiap bacaan ditafsirkan menurut perhitungan super natural. Dihubungkan dengan firasat-firasat, mimpi-mimpi, tanda-tanda alam yang dianggap aneh, serta kemungkinan berbagai kekuatan yang akan hadir dengan sendirinya tanpa usaha manusia.

Dari alam pikiran yang semacam itu, maka mereka percaya ada perahu dan jala yang pengasi, dan ada pula yang tidak. Perahu dan jala yang pengasi adalah perahu dan jala yang dengan mudah memberikan keberuntungan kepada mereka sewaktu mengepung. Perahu maupun jala yang pengasi, selalu memberi hasil. Jarang yang tidak akan memberi hasil. Jarang mereka pulang dengan tangan kosong.

Karena ukuran pangasi adalah ukuran menurut perhitungan kekuatan ghaib, maka untuk mendapatkan perahu dan jala yang pangasi tidaklah dapat dibuat dengan sengaja. Dia hanya didapatkan dengan usaha yang diluar kemampuan pula. Dia hanya diperoleh dengan kebetulan, karena si empunya rupanya bernasib baik. Dia –yang pangasi itu—dikenal dengan tanda-tanda.

Adapun akan tanda-tanda jala yang pangasi itu biasanya ialah banyaknya orang mendatangi atau mengunjungi kita, dalam masa mana kita menyirat atau membuat jala. Misalnya sewaktu kita sedang menyirat jala itu datang orang membayar piutang kepada kita. Ada kalanya datang orang memberikan makanan sebagai hadiah. Kadang kala mungkin orang menghimbau kita. Sedangkan tanda perahu yang bertuah atau pangasi ialah yang mempunyai motan. Motan adalah semacam tunas kayu, yang rupanya secara kebetulan terdapat di ruang tengah perahu itu.

Karena jala dan perahu yang pangasi amat susah didapatkan, maka masing-masing tukang jala menggosokkan sesuatu kepada jalanya sebelum pergi mengepung. Segala macam benda yang diperkirakan dapat memberi nasib baik, yang digosokkan pada jala itu disebut gusukan. Beberapa gusukan amat khusus sifatnya, ialah camaro. Camaro adalah hiasan rambut wanita, boleh berupa rambut itu sendiri, boleh juga terbuat dari bunga kenanga, bunga pandan maupun barang lainnya. Pokoknya diikatkan ke rambut.

Tapi semua camarokah dapat dipakai untuk gusukan? Tidak. Camaro yang dapat dipakai tidaklah camaro yang murahan, yang gampang didapat. Camaro yang mempunyai tuah itu ialah camaro urang kawin jolong, di mana sang istri sudah hamil. Camaro semacam itu hendaklah diambil tanpa sepengetahuan si empunya. Setelah camaro itu diambil, barulah diberitahukan kepada calon ibu tersebut. Biasanya yang mengambil atau ‘’si pencuri’’ memberitahukan dengan memberi janji bahwa dia akan memberi hadiah kalau jalanya dapat menangkap ikan. Masih banyak lagi macam gusukan yang lain. Di antaranya: capo runtuah ulek tagantung-gantung (ulat tergantung-gantung) dan talutuak pisang.

Meskipun upacara sima telah berlangsung sebelum kegiatan mengepung dimulai dan doa sudah dibacakan sebagai penutup, yang semuanya ini bertujuan untuk memperoleh selamat dan berkat, namun tidaklah berarti telah ditutup semuanya jalan ke arah kerugian dan bahaya. Sungai Kuantan bukanlah sungai yang bersih dasarnya dalam arti tidak mempunyai sisa-sisa pohon kayu dan benda-benda lainnya, yang dapat menyebabkan jala tersangkut di sana. Meskipun sebagian besar telah dikenal oleh tukang jala tempat-tempat yang mempunyai tunggak, yaitu tempat-tempat yang dapat menimbulkan jala tersangkut di dalam air, sehingga jala rusak dan ikan tak tertangkap, tapi sering juga gangguan tunggak itu tak dapat dihindarkan.

Jika sebuah atau lebih tepat barangkali sepucuk jala sudah kena tunggak, maka diperlukan tukang selam. Orang inilah yang akan melepaskan jala itu di dalam air dari tunggak tersebut. Untuk menyelam diperlukan orang yang panjang napasnya. Tapi panjang napas saja barulah merupakan syarat pertama. Masih ada hal lain yaitu larangan dan pantangan yang harus dijauhinya. Atau ada juga yang membawa tangkal berupa ingu atau sirih, dengan maksud mendapat keselamatan. Tidak diganggu oleh penghuni lubuk atau tempat tersebut. Larangan yang amat penting diindahkan ialah: jangan menyelam pakai baju dan perhiasan lain seperti cincin. Penyelam tentulah penting, karena tidak tiap penjala mampu menyelam. Karena itu tukang selam biasanya dibelikan celana kotok (celana dalam) oleh si pengepung itu. Kadang-kadang juga diberi ikan, kalau tukang selam itu tidak memperoleh ikan.

Dari uraian di atas sudah kita ketahui ada empat komponen yang diperlukan dalam tiap unit pengepung. Komponen itu ialah: tukang jala, tukang kemudi, jala dan perahu. Masing-masing bagian itu diperhitungkan dalam pembagian hasil ikan yang diperoleh. Hasil kepung biasanya dibagi tiga. Satu bahagian untuk tukang kemudi. Satu bahagian lagi untuk yang empunya jala dan perahu. Dengan demikian kegiatan mengepung akan kelihatan sebagai kegiatan yang selalu melibatkan berbagai anggota masyarakat. Kegiatan ini bukan sekadar kegiatan yang mengutamakan hanya untuk mencari rezeki. Ia juga sesungguhnya suatu kegiatan yang memberi pengakuan, betapa kehidupan bersama hanya mungkin dibangun dan dibina, dengan cara bersama serta dengan penuh partisipasi dan saling menghargai satu sama lain.***

(Kedudukan Kebudayaan Melayu di Riau, UU Hamidy)

Catatan:
1. Marawang, kegiatan menangkap ikan yang dilakukan bersama-sama dalam sebuah lubuk yang hampir kering pada daerah persawahan (bukan di dalam Sungai Kuantan).
2. Biaro-biaro dalam, adalah semua alat pencernaan termasuk hati.
3. Sanggar, semacam rakit yang dibuat dari bambu.
4. Bore botiah (beras bertih), beras yang sudah direndang atau digonseng, bukan digoreng.
5. Gosiar, alat untuk mengikat ikan. Gosiar itu dimasukkan ke dalam insang ikan, kemudian diikatkan demikian rupa, sehingga ikan tak mungkin lepas.
6. Lubuk Pandulangan, disebutkan demikian karena zaman dahulu kabarnya orang mendulang emas di sana.
7. Urang kawin jolong, yaitu pasangan jejaka dan perawan, keduanya belum pernah kawin sebelum itu.
8. Capo runtuah, semacam daun kayu, berasal dari kayu yang runtuh.
9. Tangkal, benda yang diharapkan mempunyai kekuatan ghaib untuk menolak bahaya.

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *