Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Menempuh Lautan Hidup dengan Perahu Kecap Cap Benteng dan Layar Cabe Lempuyang (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy
Foto: pickpik.com

Menempuh Lautan Hidup dengan Perahu Kecap Cap Benteng dan Layar Cabe Lempuyang (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy

Nasib saya dengan sebab Yayasan Beasiswa Bakti diurus oleh beberapa orang keturunan Tionghoa menyebabkan saya berkenalan dengan mereka. Maka saya pikir, ini ada peluang untuk ‘menjerat’ nyonya orang kaya keturunan Tionghoa menjadi langganan pembeli barang saya. Tapi, mendatangi rumah orang kaya Tionghoa tidak mudah. Kalau kita mengetuk pintu rumahnya, lalu pembantunya melihat dari dalam. Setelah buka pintu dia akan mengatakan, ‘’Nyonya rumah tidak ada,’’ , jika kita tidak dikenalnya.

Alhamdulillah saya dapat akal. Orang Tionghoa itu biasanya amat hormat sekali kepada orang kaya kalangan mereka. Maka saya segera dapat ‘peluru’. Bukankah pengurus Yayasan Beasiswa Bakti seperti Liem Tiang Hok, Njoo Kiem Liem (Soewignjo), dan Tjoa Tjing Liem (Rachmat Setyadharma) orang kaya?

Karena itu, ‘peluru’ ini harus dipakai. Setelah saya mendapat nama orang kaya Tionghoa dari Nyonya Njoo Kiem Liem, maka saya mendatangi rumah orang kaya Tionghoa tersebut.

Setelah saya mengetuk pintu dan pembantu keluar, saya tanya, ‘’Ada nyonya?’’

‘’Nyonya tak ada,’’ kata pembantu. Lalu saya sambung, ‘’Kamu bohong. Katakan pada nyonya ada tamu yang kenal dia ingin bertemu.’’

Pembantu akan kembali ke dalam rumah dan memberitahukan seperti yang saya katakan. Nyonya itu keluar sedangkan saya berada di depan pintu. Saya berkata, ‘’Maaf Nyonya, saya kenalan Nyonya Njoo Kiem Liem. Dia menganjurkan saya menjumpai Nyonya. Barangkali Nyonya berminat membeli barang kebutuhan dapur dari saya sebagaimana yang dilakukan oleh Nyonya Njoo Kiem Liem.’’

Saya membuka ransel dan memperlihatkan contoh barang yang dijual. ‘’Ini barang dapat Nyonya terima di rumah sebagaimana langganan saya yang lain, tanpa ongkos untuk mengantarkan. Harga paling kurang sama dengan harga toko besar. Nyonya dapat periksa bila ada waktu. Bandingkan harga barang saya dengan harga toko.’’ Lalu saya memberitahukan harga tiap-tiap barang.

Kalau dia masih belum juga tertarik, maka saya lepaskan lagi ‘peluru’ berikutnya yang lebih ampuh. ‘’Barang-barang ini saya ambil dari toko adik Pak Liem Tiang Hok (orang kaya besar di Malang).’’ Mendengar ucapan itu baru dia tersenyum sehingga hubungan dan bicara jadi cair.

Dia segera memberitahukan jenis barang yang dipesan dan berapa jumlahnya. Saya segera mencatat termasuk juga nomor telepon rumah. Untuk kalangan orang kaya Tionghoa ini, masih ada berkah di balik musibah alias blessing in disguised. Setelah peristiwa G30S/PKI, maka orang Tionghoa termasuk yang banyak dicurigai sehingga mereka sedikit banyak merasa tidak tentram.

Untuk usaha ini, mereka berusaha agar lidahnya dalam bahasa Indonesia tidak lagi terkesan sebagai lidah orang Tionghoa. Kisah ini mirip cerita novel Tebusan Darah karya Soeman Hs, pengarang roman detektif yang tiada tandingannya.

Maka pada waktu itu, banyak orang Tionghoa terutama nyonya rumah tangga yang tertarik belajar bahasa Indonesia. Ini adalah peluang yang paling menguntungkan kepada saya karena saya adalah asisten dosen luar biasa pengajar bahasa Indonesia pada IKIP Malang.

Nyonya Njoo Kiem Liem termasuk orang yang punya andil memberitahukan nyonya-nyonya Tionghoa itu agar belajar bahasa Indonesia kepada saya. Maka peluang ini mau tidak mau membuka pintu lebar untuk saya berjualan kepada mereka.

Harga sabun cuci cap Kepiting, karena paling banyak dipakai pelanggan, saya pertahankan harganya yang murah. Ini adalah jerat iklan saya. Harga barang lain juga tidak dinaikkan. Sedangkan harga kecap cap Benteng yang ternyata sesuai dengan selera konsumen, pelan-pelan saya naikkan sehingga akhirnya di atas harga kecap cap Bango. Maka, perahu kecap cap Benteng saya buat bertahan di samping kapal cap Bango di tengah samudera persaingan dagang.

3. Layar Cabe Lempuyang

Cabe lempuyang dan kecap cap Benteng sama-sama hasil usaha rumah tangga. Hanya saja, kecap cap Benteng dibuat istimewa di Blitar oleh rumah tangga orang Tionghoa yang relatif punya modal memadai sehingga punya kualitas yang bisa bersaing. Sementara cabe lempuyang dibuat dengan sederhana sehingga hanya punya daya paling lama lima hari. Itulah sebabnya pada hari ke lima yang tidak laku ditarik.

Semula, minuman ini dipasarkan oleh teman saya Almingun, mahasiswa jurusan tata niaga Universitas Brawijaya Malang. Setelah berjalan tiga bulan, Almingun mundur dengan alasan sulit mendapatkan pelanggan. Dia menawarkan kepada saya untuk memegang layar cabe lempuyang sebab katanya hampir tak ada kedai yang berminat.

Layar cabe lempuyang saya kembangkan dimulai dengan memperhatikan kedai-kedai sepanjang pinggir Kota Malang. Restoran mewah tidak masuk hitungan. Saya perhatikan bila kedai itu dibuka, bila ditutup serta bagaimana kedatangan orang makan minum ke situ.

Saya menawarkan cabe lempuyang ketika kedai pada malam hari sudah akan tutup satu jam lagi. Jadi pemilik kedai tidak lagi begitu sibuk, namun masih ada yang makan minum sekitar empat sampai lima orang. Saya tampil dengan sopan walaupun pakai bahasa Jawa ngoko (rendah). Sambil memperlihatkan botol cabe lempuyang saya berkata, ‘’Tolong Mas, saya dapat menitipkan minuman ini lima botol saja.’’

Sambil melihat botol cabe lempuyang, yang punya kedai membalas, ‘’Wah ndak bisa Dik. Kamu lihat tuh, bermacam minuman malah banyak tak laku.’’

‘’Begini Mas, saya minta bantu titip lima botol saja. Sampai lima hari saya in syaa Allah akan datang. Kalau tak ada yang laku, sampeyan tetap saya beri keuntungan 20 persen. Saya yakin, minuman segar yang dapat mengurangi influenza serta melapangkan tenggorokan ini akan diminati kalau orang sudah mencoba.’’

‘’Jadi, laku atau tidak laku (suara agak keras) Mas tetap dapat keuntungan dari saya.’’

Beberapa orang yang sedang makan (minum) yang mendengar ucapan saya ‘’laku tidak laku Mas tetap dapat keuntungan’’ cukup heran dan kagum, bagaimana anak muda (saya) begitu berani mempertaruhkan minuman ini. Karena itu, setelah saya menginggalkan kedai, beberapa saat kemudian, mereka mencoba membuka botol cabe lempuyang karena dengan mudah mereka ambil sebab saya suruh diletakkan di atas meja makan, bukan di rak kedai pinggir dinding.

Setelah satu bulan saya bekerja, Almingun pun bertanya, ‘’Bagaimana Bung hasilnya?’’ ‘’Ya lumayanlah. Kedai pelanggan kita saya sekarang lebih dari sepuluh (belasan).’’

Dia heran, ‘’Bagaimana Bung bisa demikian?’’ Maka saya katakan kepada dia, ‘’Wah, ini Al, teknik saya memasarkan ini, tidak akan pernah Bung jumpai dalam kuliah tata niaga serta tak ada dalam buku teks pemasaran. Jika Bung mau tahu, silakan ikut saya melakukan eksperimen.’’

Teknik pemasaran ini memang tidak ada ada dalam buku pemasaran manapun juga sebagaimana diakui oleh Alimingun setelah dia menyaksikan bagaimana saya memasarkan cabe lempuyang. Ternyata, setelah dikunjungi pada hari kelima, hampir semua kedai laku menjual cabe lempuyang. Kalau ada sisa satu botol, langsung saya tawarkan kepada yang punya kedai sebagai hadiah.

Begitulah, layar minuman cabe lempuyang akhirnya dapat kembang dengan baik, sehingga bersama perahu kecap cap Benteng dapat sama berlayar menempuh lautan hidup yang penuh misteri. Dengan kudrat dan iradat Allah, pembuat cabe lempuyang dan kecap cap Benteng bisa mendapat lapangan pekerjaan.

Mereka bisa merasa bahagia jika tawakkal kepada Allah dalam usaha mereka, menghadapi persaingan dagang yang hebat di tengah lautan hidup yang tiada bertepi. Sementara saya, yang memegang tali teraju penjualannya, mengharap ridho Allah semata, dapat menempuh lautan hidup dengan selalu bersyukur memuji kebesaran-Nya.***

Check Also

Kritik Rida K Liamsi terhadap Melayu dalam Kumpulan Puisi ’’Tempuling’’ (Bagian 3), Oleh: UU Hamidy

3. Rembang Petang “Rembang Petang” adalah sajak Rida K Liamsi yang benar-benar teduh, tenang, sunyi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *