Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Menang Sorak Kampung Tergadai, Oleh: UU Hamidy

Menang Sorak Kampung Tergadai, Oleh: UU Hamidy

Demokrasi benar-benar telah menyihir umat manusia dewasa ini. Bagaimana tidak dikatakan demikian. Mereka menggantungkan nasib dan harapan kepada demokrasi. Mereka membayangkan dapat mengubah wajah kehidupan dengan demokrasi. Tetapi demokrasi ternyata menjawabnya tidak hanya dengan anekdot, malah dengan ironi. Mari saksikan demokrasi dengan kapitalis gaya neo-liberal membangun dengan pertumbuhan ekonomi telah mendatangkan rangkaian krisis ekonomi dan sumber-sumber alam rusak binasa.

Jika yang merusak itu perusahaan besar, tidak akan ditindak oleh pemerintahan demokrasi. Jika kerusakan itu begitu hebatnya, akan disebut bencana alam, sehingga perusahaan yang merusak alam semula jadi itu tidak disalahkan. Kesulitan lapangan kerja diatasi dengan mengirim tenaga kerja ke luar negeri. Di sana mereka bebas mau jadi apa. Yang perempuan di samping jadi pembantu rumahtangga, boleh sambilan jadi pelacur. Bahkan bisa bawa anak hasil perzinaan dengan majikan ke Tanah Air. Sementara suaminya enak-enak mengisap rokok klobot menanti kedatangan isterinya.

Perusahaan besar yang setorannya lancar, tidak akan diusik, walaupun anak negeri sepanjang sungai yang kena limbah perusahaan tidak dapat lagi memakai air sungai karena tercemar oleh berbagai kuman penyakit. Bahkan meskipun peruhaaan itu telah menenggelamkan 3 desa dengan lumpur, namun di mata demokrasi, bos perusahaan tetap layak jadi calon presiden. Demokrasi memang tidak menampilkan pemimpin yang bengis seperti Fir’aun dan Namrud. Demokrasi menampilkan pemimpin yang licik, yang lembut sentuhan lidahnya, tapi mematikan bisanya. Kalau rakyat tidak setuju, demokrasi mempersilahkan demo dan unjuk rasa, bila dan di mana saja. Tapi pemegang teraju kekuasaan cukup berkata, ‘’biarkan anjing menggonggong tapi kafilah jalan terus.’’

Pada tataran dunia, lihatlah betapa cantiknya Amerika bermain drama. Di mana-mana serdadunya dengan mudah membunuh umat Islam, cukup dengan satu kata yang tak perlu dibuktikan, yakni teroris. Namun demikian, Amerika justru dapat julukan kampium demokrasi. Maka dia dengan mudah melanyau negeri-negeri kaum muslimin sambil merampas kekayaannya. Dan ini di mata pemimpin negeri Islam yang menganut demokrasi, tidak apa-apa. Di Eropa, perempuan muslimah yang menutup auratnya dikatakan tertindas oleh agamanya sehingga perlu ditandingi dengan pawai perempuan yang bertelanjang dada.

Demikianlah, dunia telah mendedahkan apa yang berlaku oleh sistem demokrasi. Namun tiap bencana terjadi, umat manusia tetap juga menyelesaikannya dengan sistem yang rusak itu. Dunia sudah begitu parah menanggung derita oleh demokrasi. Sungguhpun begitu, akal mereka tak mampu meneliti penyakit demokrasi. Ini terjadi karena demokrasi telah memberikan jalan selapang-lapangnya pada hawa nafsu manusia, sehingga akalnya tak mampu lagi mengekang kehendak nafsu yang liar itu. Sihir demokrasi lebih hebat daripada sihir harut dan marut. Dunia jadi edan, kata pujangga Ronggowarsito. Siapa yang tidak ikut, akan dipandang edan.

Dengan demokrasi, manusia mati-matian hendak memperbaiki kehidupannya. Demokrasi yang memberikan kebebasan individu dibayangkan akan mendatangkan kesenangan. Padahal demokrasi hanya memberikan kesenangan dunia yang palsu kepada para penguasa yang zalim, pemilik modal yang pandai putar-belit dan alat negara yang khianat. Rakyat, setelah hutan tanahnya tergadai, diberi kesempatan unjuk rasa, demo dan orasi serta bersorak-sorak di jalanan. Rakyat memang dibuat oleh demokrasi, menang sorak. Tapi kampung mereka tergadai dan berkecai-kecai.

Kemudian rakyat menyandarkan harapannya kepada hukum yang akan ditegakkan oleh demokrasi. Tapi nyatanya, hukum buatan demokrasi hanya diarahkan ke bawah, tidak ke atas. Bagaikan mata pisau, tajam di bawah, tumpul di atas. Sebagaimana juga berlaku pada dunia internasional. Kejahatan Amerika dan sekutunya tidak akan ditindak oleh Persatuan Bangsa Bangsa. Tetapi seorang muslim yang pakai jenggot, celana contreng dan tidak suka keramaian dunia, harus diawasi bahkan dapat ditembak dengan dalih teroris.

Dengan demikian, demokrasi telah membutakan umat manusia mengenal jalan hidup yang benar, yang mendapat ridha dari Allah. Kebenaran jalan hidup yang benar dari Allah itu telah terbentang dalam sejarah umat manusia sebagaimana dengan mudah dapat dibaca dalam Alquran, kitab panduan hidup umat manusia. Tetapi manusia dengan demokrasi, memang benar-benar menjadi makhluk yang suka membantah terhadap Allah Yang Maha Perkasa.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *