Home / Bunga Rampai / Mempertahankan Masa Silam ala Pejabat, Oleh: Purnimasari

Mempertahankan Masa Silam ala Pejabat, Oleh: Purnimasari

Beberapa tahun belakangan, kita kerap menemukan pejabat atau orang yang dekat dengan kekuasaan membuat buku. Baik buku itu ditulis sendiri maupun dituliskan oleh orang lain. Pertanda apa gejala ini? Itu setidaknya memiliki lima alasan. Pertama, soal umur. Pejabat akhirnya sadar bahwa ia suatu saat akan berhenti atau masa jabatannya berakhir. Kedua, pertimbangan nilai nama dalam masyarakat. Ketiga, keinginan mempertahankan pengaruh dalam masyarakat. Keempat, harapan untuk mendapatkan lagi jabatan lain di masa tua (meski tidak dalam bidang pemerintahan/politik). Kelima, keinginan untuk membuat kenang-kenangan tentang kejayaannya. Kita tidak tahu, alasan nomor berapa yang paling banyak dipakai.

Akhirnya, orang (pejabat) juga terlintas tentang masa tua. Yang membayangkan juga akan berakhirnya hidup, datangnya kematian. Maka dia ibarat pepatah Melayu, ‘’gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang’’. Dia juga ingin meninggalkan tanda pernah hidup di muka bumi ini. Tanda pernah hidup itu ternyata bukan batu nisan yang terbaik, walaupun bisa dibuat dari keramik bahkan pualam sekalipun. Sebab hanya berapa orang yang akan mengunjungi kuburannya. Dengan kata lain, hanya berapa orang yang akan tahu, bahwa si pejabat ini pernah hidup di muka bumi. Itupun kalau pula tidak dibongkar karena perluasan kota.

Mempertahankan masa silam dengan foto juga tak bisa aman. Karena foto juga bisa rusak dan hilang. Begitu juga dengan tanda-tanda kebesaran lainnya seperti tanda pangkat, seragam dan beragam tanda jasa. Maka di atas segalanya itu, ternyata bukulah satu-satunya yang terbaik. Sebab semua tanda kenangan masa silam tadi dapat diungkapkan dan diterangkan seluas-luasnya di dalam buku. Bahkan dapat lagi ditambah dengan gambar-gambar semua yang dibanggakan itu. Padahal, itu bukan prestasi dalam hidup. Karena menjabat itu peluang, bukan kualitas jati hidup dirinya. Kejayaan itu ada pada karya.

Nama sudah menjadi mitos bagi orang-orang yang hedonis (memuja lewat ucapan) dan bahkan lebih hebat lagi dari hedonis adalah narsis (memuja diri lewat cermin terus menerus). Maka melestarikan memuja diri yang paling terpelihara juga lewat buku. Karena di situ bisa dideretkan semua foto-foto dirinya yang dikagumi. Paling kurang mulai dari masa belia, pernikahan dan seluruh rangkaian foto penerimaan hadiah.

Pengaruh adalah yang paling susah dilestarikan. Karena seorang pejabat hanya akan berpengaruh selama memegang jabatan tersebut. Tapi jika dia dibukukan, maka pengaruhnya meski tidak ada laggi, tapi dia masih dapat memberitahukan bahwa dia pernah berkuasa. Inilah pelipur lara jika mengalami post power syndrome.

Satu lagi dari kerinduan manusia dalam hidupnya adalah dia hampir tak pernah membayangkan bahwa peranannya akan berakhir. Tapi sungguhpun begitu, peranan yang disukai semakin lama semakin habis. Sementara peranan yang tidak ia sukai muncul sebagai pengganti. Begitulah mula-mula dia berperan hampir dalam beberapa sektor kehidupan (politik, iptek, ekonomi, seni). Dari yang empat ini, mula-mula dia kehilangan pengaruh dalam bidang politik disusul ekonomi dan iptek dan beberapa lama dia bisa bertahan dalam seni.

Namun akhirnya karena faktor usia, juga tidak dapat bertahan dengan kualitas yang baik. Dengan kata lain dia juga harus tersingkir. Tapi dengan adanya buku tentang dirinya yang mencatat seluruh aspek yang dipandang mengagumkan tentang dirinya selama dia berkuasa maka dia masih bisa berharap masyarakat tidak akan membiarkannya terlunta-lunta.

Hal ini ternyata memang sudah dibuktikan bagaimana orang yang menganggap dirinya sangat potensial ini, setelah dia pensiun di masa tuanya sering dijadikan oleh masyarakat sebagai penasehat, pembina dan sejenisnya. Dia berharap takkan terbuang sia-sia dalam masyarakat. Dengan demikian, lewat buku itu terjawablah apa yang diinginkan oleh para pejabat atau orang yang pernah memegang teraju kehidupan itu.

Kita sebagai khalayak menghargai keinginan dan perbuatan seperti itu. Apalagi jika yang bersangkutan memang membuat dengan niat ikhlas. Namun alangkah baiknya jika di dalam buku serupa itu dapat disisipkan semacam strategi oleh yang bersangkutan bagaimana sebenarnya kiat-kiat orang mencapai sukses di medan hidup ini.

Dia mestinya mengatakan secara jujur apa yang dilakukannya secara pribadi dengan mengikuti jalan yang lurus sehingga sampai pada jabatan yang pernah dipegangnya. Dia harus jujur, langkah-langkah apa yang dilakukannya sehingga dia punya jabatan setinggi itu. Ini akan besar artinya pada generasi muda pembaca buku itu. Bagaimana teknik yang bagus yang dapat dibenarkan oleh agama menjadi seorang pemimpin yang cemerlang.

Ceritakan perubahan selama dia memimpin secara jujur. Sebelum dan sesudahnya, jika ia memang orang yang tidak bisa dilupakan. Apa cuma yang berubah selama dia menjabat? Tapi alangkah ironinya jika selama menjabat itu ia hanya diperalat dan ia tidak menyadari karena ia dapat keuntungan materi dari diperalat itu.

Kalau hal itu tidak terbaca dalam buku tersebut, maka sebenarnya buku itu hanya semacam bungkusan saja yang tampak indah, tapi tetap tidak tahu apa isi bungkusan itu yang paling berharga. Karena itulah Albert Einstein sampai mengatakan, ‘’try not to become a man of success, but rather try become a man of value’’ (lebih baik berusaha menjadi orang yang bernilai daripada berusaha menjadi orang sukses). Wallahu’alam.***

Check Also

Ke Baitullah Setelah Mengusung Jenazah, Oleh: Purnimasari

Kabar duka itu begitu tiba-tiba. Hampir setiap orang yang mendengarnya langsung terperanjat. Si Fulan telah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *