Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Memandang Dunia dari Akhirat, Oleh: UU Hamidy

Memandang Dunia dari Akhirat, Oleh: UU Hamidy

Allah Subhanahuwata’ala pencipta langit dan bumi dan seisinya telah menegaskan dalam Alquran kitab rahasia alam semesta, bila tiba kiamat, langit dan bumi serta seisinya akan berakhir. Umat manusia memasuki babak baru kehidupan yakni kehidupan yang kekal di akhirat. Berita tentang hidup setelah kematian ini telah tergambar dalam Alquran disampaikan dengan jelas oleh Nabi Muhammad Saw dengan kata dan perbuatannya terhadap para sahabat. Para sahabat benar-benar memahami kehidupan akhirat, karena mengimani Alquran dan as-Sunnah. Para sahabat benar-benar mengutamakan kehidupan akhirat atas kehidupan dunia. Mereka tidak bergaduh oleh kepentingan dunia yang sempit, tapi malah berlomba beramal saleh menuju akhirat. Inilah yang membuat mereka menjadi generasi terbaik di muka bumi.

Ini memberi tanda Islam telah menerangkan dengan logis bahwa akhirat lebih utama daripada dunia. Dunia hanya fana lagi sementara, sedangkan akhirat kekal lagi abadi. Manusia yang memandang dunia lebih penting daripada akhirat sebenarnya tidak berpikir logis. Sebab tak dapat membedakan betapa besarnya beda nilai dunia berbanding akhirat. Dunia dan akhirat berbeda dalam waktu serta nilai nikmat maupun azab. Tidak heran jika Nabi Saw memandang nilai dunia bagaikan seekor bangkai anak kambing, sehingga para sahabat tidak tertarik membelinya.

Sungguhpun demikian, umat manusia lebih banyak memilih dunia daripada akhirat. Hal ini menarik disimak bagi insan yang rindu bertemu dengan Tuhannya. Kenyataan ini dapat dijawab karena umat manusia lebih suka mengikuti jalan hidup nenek moyang daripada menerima kebenaran Allah yang disampaikan oleh Nabi Saw. Kebanyakan manusia memilih jalan hidup demokrasi yang memakai aturan buatan manusia, menolak hukum Allah dan Rasul-Nya yang akan menyelamatkan manusia dunia akhirat. Dengan mengambil demokrasi sebagai pedoman hidup dalam bermasyarakat dan bernegara, maka terjadilah berbagai kerusakan di muka bumi. Demokrasi mendatangkan kerusakan, karena dengan demokrasi manusia tidak menyadari lagi fitrah penciptaan dirinya yakni untuk beribadah kepada Allah Yang Maha Perkasa. Karena itu dengan aturan yang dibuat demokrasi, tampillah manusia yang zalim baik terhadap dirinya apalagi terhadap orang lain.

Kezaliman sistem demokrasi itu dengan sendirinya menimbulkan penderitaan dan bencana terhadap umat manusia. Hukum buatan demokrasi yang menolak Syariah Islam juga telah merusak tatanan alam semula jadi. Ini terjadi karena aturan buatan demokrasi tidak berdaya mengendalikan ego manusia yang liar serta nafsu yang serakah. Karena itu dunia demokrasi sepanjang waktu sibuk membuat dan mengubah aturan dan hukum untuk menghadapi berbagai bencana kejahatan dari pihak manusia dan alam sekitar. Namun hasilnya selalu kandas.

Mengapa aturan dunia oleh demokrasi tak mampu memberikan keselamatan, keamanan dan kesejahteraan dengan mudah dijawab oleh agama Islam. Aturan maupun hukum yang dibuat demokrasi untuk dunia tidak berpijak kepada fitrah penciptaan manusia oleh Allah. Karena itu segala norma dan hukum buatan dunia demokrasi hanya menampilkan manusia musyrik, munafik, tidak beriman, tidak berpikir menurut panduan Alquran dan as-Sunnah. Bahkan berani menentang Alquran dan Sunnah Nabi Saw. Karena itu dunia diurus oleh demokrasi dengan sudut pandang dunia semata. Padahal dunia adalah ciptaan Allah. Maka hanya Allah Yang Maha Tahu tentang dunia, sehingga tentu juga harus diatur menurut kehendak Allah Yang Maha Bijaksana. Maka Alquran dan as-Sunnah telah menegaskan, dunia harus digunakan untuk kepentingan akhirat. Sebab akhirat itulah tempat kehidupan manusia yang sebenarnya. Bukan dunia untuk dunia, sebab dunia adalah kehidupan yang palsu.

Dengan demikian, mengurus dunia dengan aturan demokrasi adalah jalan pikiran yang konyol. Sebab tidak diurus sesuai dengan kehendak yang menciptakan dunia yaitu Allah Rabbul Alamin. Juga tidak sesuai dengan kehendak Nabi Saw yang telah memberi tauladan dengan sempurna bagaimana mengurus dunia dengan Syariah Islam yang akan memberi rahmat bagi segenap alam. Jadi, kalau mau berhasil mengurus dunia untuk mendapatkan kesejahteraan di dunia dan lebih lagi di akhirat, tidak ada jalan lain daripada mengurus dunia dengan sudut pandang akhirat. Inilah jalan yang ditempuh oleh insan yang berakal yang berpikir sesuai dengan panduan wahyu dalam Alquran dan as-Sunnah. Tidak ada jalan lain untuk kehormatan selain taat kepada Allah dan mengikuti Sunnah Nabi Saw. Bermaksiat kepada Allah hanyalah mendatangkan kehinaan. Kalau tidak di dunia, niscaya menimpa di akhirat.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *