Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Mazhab Riau (Tinjauan dari Sudut Sejarah), Oleh: UU Hamidy

Mazhab Riau (Tinjauan dari Sudut Sejarah), Oleh: UU Hamidy

1. Sepuluh latarbelakang

Perbincangan tentang Mazhab Riau dalam rentangan perkembangan sastra di Riau khasnya serta di Indonesia umumnya, telah muncul paling kurang sejak tahun 2004. Menurut Marhalim Zaini dalam ulasannya tentang kumpulan sajak Griven H Putera ‘’Yang Lokal, Yang Miskin, Yang Kampung, dst…’’ Maman S Mahayana menyimpulkan dari antologi cerpen Pipa (Dewan Kesenian Jakarta, 2004) telah mewartakan sebuah peta lain dalam konstelasi kesusastraan Indonesia. Peta itu ditandai oleh kecenderungan sumber kegelisahan, yakni: luka sejarah, penderitaan panjang puak Melayu, marjinalisasi peranannya dalam hubungan pusat-daerah (Jakarta-Riau) dan tangis masyarakatnya atas kesewenangan para pendatang-penjajah-penjarah. Taufik Ikram Jamil menandaskan, peta yang dikatakan Maman itu telah mengerucutkan wacana Mazhab Riau, sebagaimana dalam cacatan pengantar dikatakannya bahwa wacana Mazhab Riau telah lama dilaungkan dalam konstelasi sastra di Riau.

Jika memang demikian, dasar pandangan yang dikenakan terhadap wacana Mazhab Riau, maka pandangan itu telah memberi tekanan pada kualitas ekspresi para pengarang Riau, dengan sampel antologi Pipa: 33 cerpen dari 7 orang cerpenis. Tinjauan itu bagus, sebab telah berpijak pada kenyataan karya sastra yang ditampilkan oleh pengarang Riau. Sungguhpun demikian, memperhatikan munculnya Mazhab Riau, hanya dari sudut penampilan karya sastra saja, tentulah akan terasa masih kurang memadai. Sejumlah faktor atau masalah lain, sebenarnya juga harus ditinjau (diperhatikan) sehingga dari beberapa faktor itu, keberadaan Mazhab Riau dapat ditakar, apakah sudah kokoh atau belum.

Kalau dengan Mazhab Riau, kita maksudkan suatu arah perkembangan sastra yang ditempuh oleh para pengarang Riau di rantau ini, maka seyogianya kita tak dapat mengabaikan beberapa faktor sejarah yang berada di belakangnya. Sebab tiap perkembangan adalah keadaan lanjutan, bukan awal dari sesuatu. Jadi tiap perkembangan niscaya menjadi faktor akibat, bukan faktor sebab. Dalam hukum sebab-akibat, sebenarnya sebab relatif lebih kuat daripada akibat. Dalam tinjauan yang sederhana ini faktor sebab itulah yang hendak dikemukakan. Maka paling kurang ada 10 faktor sebab, sebagian besar bersifat bermuatan sejarah.

Faktor 1. Majalah sastra Horison terbitan Jakarta adalah satu-satunya majalah sastra yang paling dominan dalam tahun 1970-an. Pada masa itu, seorang pengarang dipandang punya kemampuan yang memadai, kalau karangannya sudah dimuat pada Horison. Tapi Horison akhirnya merosot seirama dengan menurunnya peranan Angkatan 66. Maka pengarang tentu harus mencari media lain untuk menampilkan karangannya. Dan, andaikan Horison masih bertahan, juga tak akan mampu menampung karya-karya pengarang muda seperti di Riau yang jumlahnya makin mengesankan.

Faktor 2. Sejajar dengan merosotnya Horison, hal yang sama juga berlaku terhadap Taman Ismail Marzuki (TIM). Pada tahun 1970-an sampai 1980-an, TIM bagaikan kiblat budaya Indonesia. Merosotnya TIM telah mendesak munculnya taman budaya di daerah serta gedung kesenian seperti Anjung Seni Idrus Tintin di Pekanbaru.

Faktor 3. Perkembangan teknologi informasi, juga cukup menentukan terhadap perkembangan sastra di daerah, terutama di Riau. Terbitnya sejumlah media cetak, terutama surat kabar, memberi peluang yang baik terhadap para penulis di daerah.

Faktor 4. Terbitnya surat kabar Riau Pos sejak 17 Januari 1991, cukup menentukan terhadap perkembangan kegiatan pengarang Riau, sehingga akhirnya dipandang telah mampu menampilkan suatu mazhab sastra dalam belantara sastra di Indonesia. Surat kabar Riau Pos menyediakan halaman budaya (sastra) yang relatif memadai untuk menampung kreativitas pengarang. Pada halaman budaya itu dapat dimuat cerpen, puisi, kritik sastra serta berbagai tulisan mengenai dunia Melayu dan budayanya. Di samping itu masih ada majalah sastra (budaya) seperti Menyimak dan Sagang serta buletin kampus seperti Bahana Nahasiswa (Unri) den Aklamasi (UIR). Lembaran budaya Riau  Pos itu semakin berkibar, karena semakin banyak muncul pengarang yang berbakat. Gema kreativitas itu semakin membahana ketika Rida K Liamsi dengan Yayasan Sagang, berhasil membuat tradisi penghargaan kepada para seniman dengan memberi Hadiah Sagang setiap tahun. Hadiah Sagang dapat dipandang sebagai faktor  5 yang telah mendorong kegiatan para pengarang Riau, sehingga sosoknya makin tinggi menjulang.

Faktor 6. Riau punya bahan yang melimpah dan menarik untuk ditulis dalam karya sastra. Dari panggung sejarah cukup banyak peristiwa dan serpihan kehidupan yang dapat membangkitkan inspirasi bagi pengarang. Satu di antaranya telah diperlihatkan oleh novel Bulang Cahaya karangan Rida K Liamsi, yang telah memanfaatkan bingkai kerajaan Riau Lingga serta intrik-intrik kekuasaan dewasa itu. Belum lagi berbagai wajah kehidupan tradisional puak Melayu tua seperti Sakai, Talang Mamak dan Suku Laut, yang bisa menyentak minat untuk menulis.

Tapi dari sekian yang menarik, masih ada yang paling menarik lagi. Yang paling menarik itu ialah memandang Riau sebagai padang perburuan sudah akan hampir 50 tahun. Dari zaman Orde Baru pemerintahan Suharto sampai zaman Reformasi hari ini. Selama itu Riau diterjang kezaliman yang tak pernah surut. Riau sebagai padang perburuan dengan mudah dapat ditandai dengan hasil minyak Riau yang telah mendukung APBN republik ini lebih dari 30 tahun. Namun Riau tidak dapat memperolehnya seujung tahi kuku. Sementara perkampungan Melayu Sakai, habis diharu biru dengan nasib warganya harus menghindar bagaikan binatang yang dihalau.

Selanjutnya kezaliman yang menindas puak Melayu di Riau itu makin kasat mata lagi pada hutan belantara, kekayaan hutan tanah masyarakat adat di Riau dirampok bersama-sama oleh para pejabat dengan pemilik modal yang serakah, dengan memperalat kaki tangan negara yang khianat serta para preman (orang bagak) yang bengis. Perampokan akan kekayaan slam itu hanya dihalalkan dengan kata pembangunan. Lalu puak Melayu yang telah menjaga hutan belantara itu ratusan tahun, hanya dapat apa? Mereka hanya didatangi oleh bencana demi bencana. Maka adakah tandingan kezaliman yang diterima Riau ini? Tak heran jika Kongres Rakyat Riau mengeluarkan opsi merdeka kepada pemerintah pusat, yang hanya jadi lintah terhadap Riau. Sedangkan penyair Riau Ediruslan Pe Amanriza menurunkan puisi dengan tajuk ‘’Akan Berpisah Jua Kita Jadinya, Jakarta’’.

Itulah perjalanan panjang nasib yang memilukan di Riau. Maka bagaimana tidak akan membangkitkan akal budi para pengarang di Riau, memberikan apresiasi, penyesalan bahkan protes, sementara pihak lain semuanya bisu. Inilah yang telah menimbulkan kesadaran kolektif kepada para pengarang Riau, baik dari anak jati Riau maupun perantau yang telah memandang Riau sebagai kampung halamannya. Kesadaran kolektif terhadap nasib Riau yang demikian akhirnya menjadi kesatuan ide oleh pengarang Riau, sehingga sama-sama membekas dalam karya mereka.

Enam faktor yang pertama itu boleh dikatakan sebagai faktor yang aktual dalam rentang waktu sekitar 20 tahun belakangan ini. Sedangkan faktor ketujuh, kedelapan dan kesembilan, adalah tiga faktor historis menjadi arus bawah yang terpendam, yang selalu menjiwai kehidupan kreativitas pengarang Riau.

Faktor 7. Riau punya tradisi sastra yang terpelihara sejak 2 abad yang silam, Di rantau ini telah ditulis sejumlah hikayat, syair, gurindam, pantun serta berbagai kitab lainnya. Sementara tradisi lisan juga berlaku seperti makyong, mendu, madihin, bakoba, basiacung serta randai, meskipun keberadaannya semakin merosot.

Faktor 8. Riau ternyata punya mata rantai pengarang yang hampir tak pernah putus. Daerah ini telah mencatat 3 gelombang besar para pengarang. Gelombang pertama dari abad ke 19 sampai tahun 1930-an, yakni dari Raja Ali Haji, pengarang Rusydiah Klab sampai Tuan Guru Abdurrahman Sidik dan Soeman Hs. Gelombang kedua dari 1950-an sampai 1970-an, yakni dari Yong Dolah sampai Ibrahim Sattah. Sedangkan gelombang ketiga dari 1980-an sampai 2000-an, yang boleh dikatakan dari Taufik Ikram Jamil, Abel Tasman, Samson Rambah Pasir, Fakhrunnas MA Jabbar dan Husnu Abadi sampai kepada Marhalim Zaini, Hary B Kori’un, Hang Kafrawi, Murparsaulian, M Badri, Olynrison, Griven H Putera dan banyak lagi. Gelombang pertama mempunyai 70 orang pengarang, terdiri dari 37 orang anak jati Riau (33 lelaki dan 4 orang perempuan). Gelombang kedua mempunyai 27 orang pengarang, sedangkan gelombang ketiga kalau sempat dicatat, mungkin sudah berada pada jumlah mendekati 100 orang.

Faktor 9. Di Riaulah bahasa Melayu terpelihara dengan baik sejak abad ke 19 melalui tangan pengarang yang piawai, dengan Raja Ali Haji pengarang yang terpandai abad itu. Bahasa atau dialek Melayu Riau yang terpelihara itu semula disebut bahasa Melayu tinggi. Setelah dipakai sebagai bahasa pengantar di sekolah zaman Belanda, lalu menjadi alat perjuangan, akhirnya diangkat menjadi bahasa nasional dengan nama Bahasa Indonesia. Ini adalah modal dasar yang paling beharga bagi para pengarang.

Bahasa Melayu yang terpelihara itu di samping telah dibuatkan tatabahasa dan kamusnya oleh pengarang Riau, juga telah terekam dalam karangan mereka sejak abad ke 19 sampai awal abad ke 20. Karya mereka ini telah dipandang sebagai naskah kuno Riau. Dari hasil penelitian tahun 1985, tercatat tidak kurang dari 137 buah karangan. Karena Riau sudah punya percetakan masa itu yakni Mathaba’atul Riauwiyah dan Al Ahmadiah Press maka sebanyak 87 karangan sudah tercetak. Percetakan pertama di Pulau Penyengat, sedangkan yang ke dua di Singapura. Kemudahan ini juga telah melapangkan para pengarang Rusydiah Klab menerbitkan majalah Al Imam di Singapura tahun 1906, yang membincangkan masalah agama, masyarakat dan kebudayaan.

Faktor 10. Inilah faktor yang spektakuler, yakni perpustakaan megah Soeman Hs. pustaka dengan arsitektur yang bisa membuat orang berdecak memandangnya, juga akan mempunyai peranan yang baik bagi pengarang Riau. Keberadaan pustaka itu juga memberikan tantangan kepada pengarang Riau untuk bekarya. Betapa tidak, sebab karya pengarang Riau niscaya mendapat tempat istimewa di pustaka itu. Koleksi karya para pengarang Riau dari abad ke 19 sampai sekarang, meliputi 3 gelombang besar pengarang Riau, tentu akan memberi kesan betapa Riau memang layak disebut sebagai negeri para pengarang.

Itulah 10 faktor yang cukup kuat memberi latarbelakang kepada perkembangan kesusastraan di Riau khususnya serta di Indonesia umumnya. Dari 10 faktor itu dapat disimpulkan, betapa dunia pengarang di Riau memang pantas menampilkan suatu arah perkembangan sastra dengan semangat baru kepengarangan. Semangat baru itu telah menampilkan suatu kualitas ekpresi yang segar, menarik dan indah. Dan tidak hanya itu, ekspresi itu juga telah memperlihatkan aspirasi masyarakatnya, yang perlu mendapat perlakuan yang bermartabat. Agar kehidupan ini tidak hanya sekadar sebatas kepentingan bendawi yang sempit, tetapi juga suatu yang memberi peluang bagi kehidupan yang mulia di sisi Tuhan Rabbul alamin.

2. Warna Karya Sastra

Pada gelombang pertama pengarang Riau, para pengarang tidak hanya menulis dalam bidang sastra saja, tapi juga meliputi bidang lainnya. Dari hasil penelitian tahun 1985, sebanyak 137 naskah diperoleh perincian sebagai berikut: bidang sosial 48 buah, agama Islam 43 karangan, sastra 33 buah, tatabahasa dan kamus 8 buah dan ilmu pasti alam 5 karangan. Pada pengarang gelombang ke dua, karya pengarang Riau semakin bertumpu kepada bidang sastra. Dari tahun 1960-1992, pengarang Riau telah mengarang sebanyak 35 kumpulan puisi dan 13 novel termasuk cerpen. Di samping itu ada lagi sekitar 10 buah buku tentang sejarah dan kebudayaan di Riau yang diterbitkan oleh Badan Pembina Kesenian Daerah Riau (BPKD).

Selanjutnya dalam gelombang ketiga, jumlah karya sudah sangat banyak sekali. Tetapi terkesan, kegiatan pengarang memang sebagian besar menulis tentang puisi dan cerpen, hanya sedikit mengenai novel. Karya-karya ini ditampilkan sebagian besar melalui surat kabar Riau Pos dan ada beberapa melalui majalah sastra Sagang. Meskipun Riau Pos sudah membuat dokumentasi yang baik tiap tahun, membukukan kumpulan cerpen dan sajak tetapi yang dimuat pada media lain, akan sulit sekali dihitung, sebab tak ada kumpulannya yang tercatat dengan baik. Begitu pula karya-karya yang diterbitkan atas nama Yayasan Sagang, di luar kumpulan cerpen dan puisi, seperti kumpulan puisi Tempuling, Perjalanan Kelekatu dan novel Bulang Cahaya. Dan masih banyak lagi karya pengarang Riau itu yang diterbitkan oleh Unri Press den UIR Press, bahkan penerbit lainnya. Semuanya ini, belum pernah diteliti berapa jumlahnya, bagaimana ragam tema dan bentuknya.

Perjalanan kreativitas pengarang Riau dari gelombang satu, dua dan tiga telah memberi kesan bagaimana kualitas ekspresi mereka juga sudah berkembang sesuai dengan tantangan zamannya. Tiap gelombang pengarang telah punya kualitas ekspresi yang kemudian tergambar sebagai warna karangan mereka. Karena itu Mazhab Riau itu sebenarnya telah ditaja arahnya sejak dari pengarang gelombang pertama dan kedua. Hanya saja, barangkali harus diakui kualitas ekspresi pengarang Riau gelombang ketiga, terutama yang tertuang dalam karya-karya tahun 2000-an, memang meperlihatkan warna yang lebih tajam daripada sebelumnya. Maka penampilan Mazhab Riau lewat karangannya dapat ditandai paling kurang dengan 3 warna.

Pertama warna masa silam yakni karya-karya yang terinspirasi oleh peristiwa sejarah masa lalu serta gambaran kehidupan puak Melayu tradisional. Kedua, warna Islam. Meskipun tidak sekental pada gelombang pertama, tetapi tetap lestari dalam karangan pengarang Riau. Ketiga warna masa kini. Warna ini bercabang dua, pertama mengenai keresahan yang ditimbulkan oleh kerusakan alam semula jadi, kedua tentang kezalimam yang mendera kehidupan puak Melayu di Riau, baik oleh tangan kekuasaan pemerintah pusat sejak pemerintahan Soeharto maupun oleh pemerintahan sekarang (pusat dan daerah). Keresahan oleh kerusakan alam dan kezaliman dari berbagai pihak itu, telah mendapatkan tempat yang istimewa dalam karya pengarang Riau. Tema ini bagaikan semacam ‘merek dagang’ dalam karya-karya yang hendak dinamakan Mazhab Riau itu. Dan inilah tampaknya yang dikesan oleh Maman S Mahayana serta Taufik Ikram Jamil. Puisi dan cerpen pengarang Riau yang menjalin warna maupun tema itu, mengingatkan kita kepada karya-karya Angkatan 66 seperti Taufik Ismail dan Mansyur Samin, yang menentang kezaliman pemerintah Soekarno, Orde Lama.

3. Bentuk Karya Sastra

Tradisi pengarang Riau dalam gelombang pertama lebih banyak mengambil bentuk puisi dengan penampilan hikayat dan syair, di samping gurindam dan pantun. Karangan berupa syair dan hikayat kemudian berkurang, lalu akhirnya muncul bentuk novel (roman) oleh Soeman Hs tahun 1930-an. Dalam gelombang ke dua novel dan puisi semakin dominan, meskipun cerpen juga mulai berkembang melalui surat kabar Haluan terbitan Padang. Dalam gelombang kedua ini muncullah puisi pola mantera. Di Jakarta  tradisi puisi pola mantera dengan pelopor Sutardji Calzoum Bachri telah membuka wawasan estetika baru dalam perpuisian Indonesia, sehingga Sutardji mendapat julukan Presiden Penyair Indonesia. Sementara di Riau tampil Ibrahim Sattah dengan penyair muda lainnya ketika itu, seperti Dasri.

Dalam gelombang pengarang Riau ketiga, puisi pola mantera memang tidak lagi begitu kentara, terutama sejak meninggalnya penyair Dasri. Namun begitu ragam puisi semakin banyak: ada pola puisi babas, puisi pola surat, pola gurindam, pantun dsb. Di samping itu jenis cerita jenaka ternyata juga terpelihara dengan baik. Dari cerita jenaka Pak Pandir dan Pak Belalang, berlanjut pada cerita jenaka Soeman Hs, Kawan Bergelut, kemudian cerita jenaka Yong Dolah di Bengkalis, kemudian lawak Randai Kuantan, terus lawak Grup Smekot (Fachri-Udin) berlanjut lagi cerita jenaka Wak Atan dari Mosthamir Thalib. Seiring dengan itu cerita rakyat Riau pun kembali dikumpulkan, meneruskan upaya T Nazir yang telah menuliskan cerita rakyat Riau tahun 1970-an, terbitan BPKD Riau.

4. Potensi Pengarang

Kehadiran pengarang Riau yang telah menempuh arah baru dengan gaya yang kritis ini, memang punya potensi yang memadai. Mazhab Riau –jika memang jubah ini pantas disangkutkan di bahunya– seakan mengulang kembali keberhasilan serta kejayaan pengarang Riau dalam gelombang pertama abad ke 19 sampai tahun 1930-an, dengan kekuatan inti Rusydiah Klab (Perkumpulan Cendekiawan Riau). Pengarang Riau gelombang pertama itu, telah meliputi beberapa puak atau bangsa, yakni anak jati Riau 33 lelaki den 4 perempuan, pengarang perantau 33 orang meliputi keturunan Arab, Patani, Minangkabau dan suku bangsa lainnya. Pengarang Riau gelombang ketiga ini juga terdiri dari berbagai puak atau suku bangsa maupun daerah di Indonesia, dengan anak jati Riau sebagai pengarang inti. Mereka boleh dikatakan semuanya kalangan terpelajar, malah banyak yang bergelar sarjana dari berbagai disiplin ilmu.

Keragaman asal pengarang ini memang sekali lagi akan menjadi tenda unik untuk Riau. Riau punya tempat yang strategis dan banyak memberi peluang bagi keuntungan bendawi. Jika sampai tahun 1950-an yang banyak ke Riau hanya Bugis, Arab, Banjar, Minangkabau dan Jawa, maka sejak tahun 1980-an hampir semua jenis puak (suku) bangsa di Indonesia, ada di Riau. Apalagi mitos Riau daerah kaya (meskipun penduduk tradisional Melayu miskin) belum lagi surut pesonanya sampai dewasa ini. Malah ada kemungkinan jumlah pendatang (perantau) ke Riau yang tidak terbendung, bisa membuat kalah limau oleh benalu –sebagaimana tanda-tandanya semakin meyakinkan.

Pengarang Riau yang akan mengokohkan keberadaan Mazhab Riau ini memang memberi harapan. Semangat kreatif yang telah terpelihara sejak pengarang Riau gelombang pertama dan kedua, seakan dinaikan temperaturnya oleh Taufik Ikram Jamil, Fakhrunnas MA Jabbar, Husnu Abadi, Kazzaini Ks, Eddy Ahmad RM, Abel Tasman, Samson Rambah Pasir, Tien Marni den Mosthamir Thalib. Tidak lama berselang, segera muncul para pengarang yang makin bergelora lagi seperti Marhalim Zaini, Musa Ismail, Hang Kafrawi, Hary B Kori’un, M Badri, Murparsaulian, Olynrison, Hasan Aspahani, Gde Agung Lontar, Syaiful Bahri, Mohd Amin MS, Griven H Putera, Sobirin Zaini, Pandapotan MT Siallagan, Dian Hartati, Dien Zurindah, Budi Utamy, dan banyak lagi. Kemampuan mereka yang memadai akan memungkinkan mereka mendapat hadiah Sagang (dari Yayasan Sagang) Ganti Award (dari Yayasan Bandar Serai) dan gelar Seniman Perdana (SP) maupun Seniman Pemangku Negeri (SPN) dari DKR. Jika mereka juga merangkap wartawan, dapat lagi memperoleh Penghargaan Ali Kelana dan Rida Award. Selamat berkarya.***

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Riau Pos, 28 Juni 2009

Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *