Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Mayoritas Menentang Kebenaran, Oleh: UU Hamidy
Foto: river738.org

Mayoritas Menentang Kebenaran, Oleh: UU Hamidy

Allah Maha Bijaksana lagi Maha Perkasa menegaskan dalam Alquran –kitab peringatan alam semesta– bahwa Dia-lah pencipta dan pemilik langit dan bumi serta isinya, mengaturnya dengan kebenaran. Allah mengutus para Nabi menyampaikan kebenaran pada tiap umat manusia agar selamat dunia akhirat. Allah perintahkan manusia hanya menyembah dan minta tolong kepada-Nya, agar manusia merdeka dari perbudakan manusia dan bendawi.

Allah turunkan perintah dan larangan agar manusia hidup terhormat dengan akhlak mulia. Tapi banyak manusia yang menjadi penentang wahyu Allah Yang Maha Bijaksana. Diterangkan dalam Alquran bagaimana mereka menentang para Nabi, tidak mau menerima perintah serta meninggalkan larangan Allah. Mereka sampai menantang para Nabi mendatangkan azab dari Allah Yang Maha Perkasa.

Sekarang perhatikanlah bagaimana manusia menentang kebenaran Allah. Caranya benar-benar hebat, menggempur dari berbagai penjuru. Langkah pertama membuat tatanan dunia global dikendalikan oleh suara terbanyak yang disebut sistem demokrasi. Meskipun panggung dunia telah mereka kuasai, tapi permusuhannya terhadap Islam yang mengemban kebenaran Allah, malah semakin hebat. Peristiwa 11 September yang menimpa gedung WTC benar-benar telah dialamatkan kepada Islam. Peristiwa itu hendak memberi aib bahwa Islam bukanlah agama yang benar, tapi pembuat onar yakni teror.

Begitulah demokrasi hendak memadamkan cahaya Allah, namun Allah tetap memelihara cahaya-Nya. Peristiwa WTC telah menyebabkan 34.000 penduduk Amerika memeluk Islam. Peristiwa itu membuat banyak rakyat Amerika ingin tahu tentang Islam yang sebenarnya. Mereka tidak percaya begitu saja terhadap tuduhan suara mayoritas yang dikumandangkan oleh berbagai media. Hasilnya, akal sehat mereka memahami kebenaran Islam, lalu memeluk agama akan jalan yang lurus ini.

Kemudian, suara mayoritas demokrasi yang didukung oleh media sekuler memburukkan lagi wajah Islam lewat perempuan. Islam dituduh tidak menghargai perempuan, karena tidak memberi kebebasan seperti perempuan Barat berbuat sesuka hatinya. Perempuan Barat dengan pakaian membuka aurat dipandang sebagai perempuan yang maju alias modern.

Padahal, dengan membuka aurat itu perempuan menjatuhkan martabatnya, karena penampilan membuka aurat itu sama dengan binatang. Lihat budaya Barat yang membuka aurat menuai akibatnya. Perkosaan jadi marak di mana-mana, pelacuran berkembang subur disusul oleh pengguguran kandungan atau aborsi akhirnya dilegalkan karena tidak terbendung lagi. Pada muaranya Barat menghancurkan rumahtangganya sendiri.

Suara mayoritas yang ditampilkan demokrasi juga menentang kebenaran Islam dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Mereka menuduh Syariah Islam itu kejam, tidak punya peri kemanusiaan. Mereka ini ngawur, tidak memahami kebenaran Islam yang melindungi darah, kehormatan dan harta umat manusia. Dalam Islam, lebih enteng hancurnya bumi serta isinya daripada seorang muslim dibunuh tanpa alasan yang sesuai dengan Syariah Islam. Membunuh seorang manusia diluar hukum Allah sama dengan membunuh semua umat manusia. Sedangkan siapa yang membunuh seorang Islam dengan sengaja maka balasannya adalah jahannam. Kalau ada orang Islam melakukan pembunuhan atau teror itu bukanlah oleh ajaran Islam, tapi karena masalah lain termasuk dia tidak paham akan kebenaran Islam.

Islam hanya membenarkan 3 macam pembunuhan: pertama, pelaku pembunuhan harus dihukum bunuh (qisas); kedua, orang yang sudah nikah berzina; ketiga, orang yang murtad. Tapi bandingkanlah dengan jujur, jumlah korban oleh teroris yang dilakukan oleh orang Islam yang tidak mengenal kebenaran Islam dengan korban teror pembunuhan oleh pasukan Amerika yang dijuluki kampiun demokrasi, terhadap anak-anak, perempuan serta orang tua yang tidak punya masalah apa-apa dengan Amerika, yang jumlahnya ribuan sampai jutaan di Irak, Afganistan dan negeri muslim lainnya. Belum lagi pembantaian oleh Yahudi Israel sepanjang tahun terhadap rakyat Palestina serta yang terbaru pembantaian muslim Rohingya oleh umat Buddha di Birma atau Myanmar. Ini semuanya tak dapat dilindungi oleh HAM demokrasi yang munafik. Jika kita jujur, siapa yang sebenarnya teroris sejati, sudah terjawab oleh data yang sederhana itu.

Selanjutnya, suara mayoritas demokrasi hendak memakmurkan dunia dengan sistem riba dalam segala jalur perdagangan. Hasilnya ternyata hanya menampilkan kaum kapitalis yang buas mengisap darah ekonomi rakyat jelata. Setelah alam lingkungan rusak binasa, nilai mata uang terus digerogoti oleh inflasi sehingga membuat orang makin banyak jatuh miskin. Walhasil kekayaan dunia milik Allah ini hanya dinikmati oleh segelintir manusia, yakni kaum kapitalis yang serakah, penguasa yang zalim, pemegang senjata yang khianat, orang bagak yang kejam dan mafia yang licik.

Dunia demokrasi yang memegang suara mayoritas ini mau ke mana? Mana kebenaran suara mayoritas itu, jika ternyata hanya menampilkan kebohongan dan tipu daya. Sementara Islam punya perkataan yang paling benar yakni Alquran (kitabullah) serta sebaik-baik petunjuk yakni petunjuk Nabi Muhammad Saw. Semua kitab agama gagal dalam uji ilmiah, kecuali Alquran. Kebenaran Alquran dijamin dan dijaga oleh Allah. Apa yang disampaikan Alquran tak ada yang bertentangan dengan fakta. Sedangkan yang dikatakan suara terbanyak penuh dengan dusta, karena menuhankan hawa nafsu.

Kebenaran Alquran tidak memerlukan suara terbanyak, sebab kebenarannya dari Allah, bukan kebenaran palsu buatan manusia. Semua orang yang masuk Islam apakah dia ilmuwan maupun para pendeta, mengakui karena kebenaran Alquran yang tidak dapat dibantah. Kebenaran Alquran yang mendasari agama Islam tidak bergantung pada manusia, apakah diakui atau ditolak. Kebenaran Alquran akan tetap paling benar, paling baik dan paling unggul. Sementara kebenaran suara mayoritas dalam demokrasi jika tak ada yang mengakuinya akan b e l a n g a u.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *