Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Manusia B e r h a s i l, Oleh: UU Hamidy
Foto: lifeinsaudiarabia.net

Manusia B e r h a s i l, Oleh: UU Hamidy

Al Quran kitab peringatan umat manusia petunjuk jalan yang benar, telah memberi penjelasan yang mudah dipahami, bagaimana membangun diri menjadi orang yang berhasil. Tidak gagal mempergunakan umurnya dalam menunaikan kehidupan.

Insan yang mendapat hidayah menjadi orang berhasil pertama-tama mempercayai yang ghaib. Dan punca daripada keghaiban adalah Allah Yang Maha Ghaib. Allah tidak dapat dijangkau oleh panca indera dan pembayangan, sehingga menimbulkan kesadaran bahwa ada kekuasaan dan kekuatan yang maha dahsyat mengatur dan memelihara jagad raya dan seisinya.

Dengan demikian dia mendapat tempat bergantung yang benar-benar tidak diragukan lagi kemampuannya. Dia tidak bergantung kepada kekuatan manusia seperti penguasa dan tokoh partai, tidak juga kepada dirinya sendiri, apalagi kepada harta dan benda, sebagaimana manusia mencari kekuatan dalam alam demokrasi.

Dengan beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa, insan yang akan berjaya ini yakin akan mendapat taufik dan hidayah dari Allah Yang Maha Pemurah untuk menempuh hidup yang penuh tantangan. Dia mendirikan shalat dengan ikhlas sebagai bukti taat dan patuh kepada perintah Allah serta menyerahkan hidup dan matinya hanya untuk beribadah kepada Allah semata.

Dia becermin kepada uswatun hasanah Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam yang telah berhasil membangun kehidupan para sahabatnya menjadi generasi umat yang terbaik di muka bumi. Shalat dan sabar dijadikannya sebagai penolong.

Dengan shalat, insan yang berhasil ini terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Demikianlah dia merasa yakin akan berhasil dalam hidupnya dengan berpegang teguh kepada Al Quran dan Sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam yang sesuai dengan fitrah umat manusia.

Dengan panduan Al Quran dan Sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam, manusia yang menuju keberhasilan ini berpikir logis dengan akal sehat. Dia membandingkan hidup dengan mati, membandingkan dunia dengan akhirat serta surga dengan neraka.

Dia menyadari hidup dunia hanya sebentar, tetapi setelah kematian akan disusul oleh kehidupan yang kekal, yang tempatnya bisa berada di surga atau neraka. Dunia akan digantikan oleh akhirat yang kekal. Karena itu tujuan hidup yang logis ialah menjadikan akhirat sebagai tujuan akhir, bukan dunia.

Cita-cita manusia yang sejati ialah masuk surga. Bukan kaya di dunia berkuasa dan dihormati orang atau terkenal oleh pernak-pernik dunia seperti didambakan oleh manusia dalam alam demokrasi, tetapi berakhir di akhirat dengan masuk neraka. Nilai kebahagiaan dunia sungguh tak sebanding dengan nilai kebahagiaan di akhirat. Orang yang memilih dunia sebagai tujuan hidup benar-benar tidak cerdas berpikir logis.

Manusia yang berhasil, berpikir logis dari sudut pandang iman dan akidah yang benar, punya pandangan hidup melampaui dunia. Dia menyadari dunia dan akhirat tak terpisahkan sebagaimana sebaliknya dipandang oleh demokrasi sekuler.

Karena itu jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat juga hanya satu jalan. Jalan itu ialah menegakkan syariah Islam dengan totalitas yang merupakan pelaksanaan daripada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana telah terbentang dalam Al Quran dan Sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam.

Siapa saja yang ingin bahagia baik di dunia apalagi di akhirat, dia harus mencintai Allah kemudian mengikuti Sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam sebagaimana telah dilaksanakan oleh para shabat Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam yang telah mendapat ridha dari Allah sedangkan mereka ridha pula kepada Allah. Pilihan lain, taat kepada manusia dengan jalan demokrasi yang menentang Allah dan Rasul-Nya, hanyalah tipuan setan dengan memberikan kesenangan yang palsu.

Insan yang berhasil ini memahami bahwa kebahagiaan tidak disangkutkan pada harta, jabatan, gelar dan pangkat maupun kepada penampilan dan kemasyhuran. Tetapi disangkutkan kepada hati yang tenteram tenang dan damai mengingat Allah dengan segala sifat-sifatnya yang maha agung lagi maha terpuji.

Itu bukan berarti hidup dengan mencampakkan (anti) dunia. Sebab pegangan yang benar dari syariah Islam ialah carilah kebahagiaan negeri akhirat, tapi jangan pula mengabaikan dunia. Jadi, akhirat harus lebih utama daripada dunia, karena nilainya yang tiada tepermanai.

Itulah sebabnya, insan yang berhasil ini berjalan di muka bumi dengan tenang, tidak sombong membanggakan diri. Dia tidak mati-matian kutung-katang mencari benda dan perhiasan dunia siang dan malam, yang menyebabkan hatinya gelisah dan lalai mengingat Allah, yang semua urusan akan kembali kepada-Nya.

Dia merenungkan berbagai bencana yang terjadi di dunia seperti telah disampaikan oleh Al Quran. Karun yang terbenam ke dalam bumi karena diperbudak oleh harta. Fir’aun yang tenggelam ke dalam laut, karena diperbudak kekuasaan yang tirani.

Namrud penguasa egois yang kejam. Anak Nabi Adam yang membunuh saudaranya karena kedengkian yang berlapis cinta buta. Anak Nabi Nuh yang tidak taat kepada bapaknya. Istri Nabi Luth yang durhaka kepada suaminya. Dan banyak lagi umat lain yang telah dibinasakan oleh Allah karena ulah perbuatan mereka yang tidak takut kepada Allah serta tak mau patuh mebgikuti bimbingan para Rasul Allah.

Ini semuanya menjadi bukti bahwa yang dapat memberikan kebahagiaan itu tidak lain daripada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Adalah demi ketaatan juga, insan yang berhasil ini mengeluarkan zakat menolong sesama manusia dengan harta, tenaga dan pikirannya, sehingga dia banyak berjasa kepada manusia dan alam sekitarnya. Dengan amal saleh itu dadanya tenang, hatinya tenteram mengingat dan bersyukur memuji Allah dalam keadaan duduk, berdiri dan berbaring.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *