Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Malapetaka Terbesar, Oleh: UU Hamidy
Foto: parhlo.com

Malapetaka Terbesar, Oleh: UU Hamidy

Allah tiada Tuhan yang berhak diibadahi selain Dia, yang bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan bumi, yang memegang kerajaan langit dan bumi, yang mempunyai 99 nama sanjungan yang indah, yang menciptakan serta mengatur alam semesta dan seisinya, telah menurunkan Alquran untuk mengingat Allah serta untuk mengatur kehidupan umat manusia.

Bagaimana mengatur kehidupan dari tingkat diri sendiri dan keluarga sampai masyarakat dan negara, telah diberi contoh tauladan oleh Junjungan Alam Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dengan memberikan bimbingan kepada para sahabat, sehingga generasi mereka menjadi umat yang terbaik di muka bumi, baik pribadi, keluarga, masyarakat maupun negara. Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam adalah satu-satunya kepala negara yang pertama di dunia yang sukses berhasil luar biasa membangun suatu negara yang sejahtera lahir dan batin.

Manusia yang beriman menyadari dengan akal sehat, dia hidup memerlukan buku petunjuk, agar dia tidak ragu-ragu berbuat dan bertindak menghadapi berbagai perkara dalam hidupnya. Buku petunjuk kehidupan itu ialah Alquran dan as-Sunnah yang telah memberikan aturan yang benar lagi lengkap dalam Syariah Islam yang memegang kategori hak-batil, halal-haram serta dosa-pahala. Manusia yang mempergunakan mata, telinga dan hatinya akan kebesaran Allah, tidak mau umurnya habis oleh urusan dunia mencari kekuasaan, harta serta kemashyuran.

Dia bertanya kepada orang yang alim Alquran dan as-Sunnah tentang perkara yang dia tidak tahu, sehingga perbuatannya terhindar dari maksiat. Manusia yang punya akidah yang kokoh itu menjadikan Alquran sebagai pelajaran, obat serta petunjuk dan rahmat, sehingga dia selalu bergantung kepada Allah Yang Maha Perkasa dalam setiap waktu di mana saja dia berada. Insan yang bertakwa itu meminta tolong kepada Allah dengan shalat dan sabar.

Dia meyakini bahwa hatinya berada dalam kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa, sehingga dia selalu berdoa minta ditetapkan hatinya kepada Allah dalam jalan yang lurus. Mukmin yang sejati itu memandang dunia sebagai ladang amal dan medan ujian, sedangkan akhirat akan menjadi tempat menuai. Yang akan dituai di akhirat hanya satu di antara dua: kalau tidak surga ya neraka. Dia menempuh kehidupan dunia bagaikan musafir yang berjalan lalu berteduh sejenak di bawah pohon, sebelum meneruskan perjalanannya menuju akhirat.

Manusia yang tidak menyadari tujuan penciptaannya oleh Allah Rabbul Alamin, akan membuang Alquran dan as-Sunnah sebagai buku petunjuk dalam kehidupan sehingga hidupnya menuju malapetaka yang besar. Dia menjalani kehidupan tanpa aturan yang benar dari Allah dan Rasul-Nya, sehingga tidak mengenal apa hakikat tujuan hidupnya. Dia tidak mengenal Syariah Islam yang memberi panduan hak-batil, halal-haram serta dosa dengan pahala, maka segala perbuatannya menjadi sia-sia berkubang dalam bencana dan maksiat.

Dia tidak dapat mengambil pelajaran dari kenyataan yang dapat dilihatnya dengan matanya, bagaimana kalau kulkas (lemari es) yang dibuat untuk mendinginkan makanan agar tahan lama, tapi dipakai untuk menyimpan pakaian, tentulah akan berantakan. Demikianlah akalnya ternyata kalau tidak dipandu oleh iman, tidak dapat mengenal mana yang benar dan mana yang batil. Dia tak dapat ditolong oleh akalnya yang hanya punya ilmu sedikit. Mungkin dia pintar, bahkan punya gelar sarjana, namun hatinya buta untuk mengenal kebenaran Allah yang ayatnya terbentang seluas jagad raya ini.

Manusia yang membuang Alquran dan as-Sunnah, tidak mau diatur oleh Syariah Islam yang akan memberikan keadilan dan kebenaran, jadinya lupa kepada Allah, sehingga dia juga lupa kepada dirinya sendiri. Manusia pembangkang ini jadinya berteman dengan syetan sehingga memandang jalan yang sesat dari syetan itu sebagai jalan yang baik. Karena itu pikirannya dikendalikan oleh hawa nafsu yang liar, sehingga akibatnya hawa nafsu itu menjadi bagaikan tuhan. Maka, rangkaian perbuatannya di dunia ini hanya dua: jika tidak membuat dunia menjadi mainan dan senda gurau, mereka akan membuat kerusakan di muka bumi.

Lihatlah manusia yang tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya membuat bermacam permainan, sehingga habislah waktu dan umur dengan sia-sia tak berguna untuk beribadah. Kemudian lihatlah manusia yang menentang Syariah Islam ini membuat aturan berdasarkan kehendak manusia yang terbanyak yang disebut demokrasi lalu mengatur dunia tanpa mengenal hak-batil, halal-haram serta dosa dengan pahala telah mendatangkan malapetaka yang besar kepada penghuni planet ini. Mereka memilih pemimpin yang mereka sebut pesta demokrasi yang biayanya tiada terkira-kira, namun hasilnya bagi kemaslahatan rakyat tidak ada.

Demokrasi itu hanya permainan orang berkuasa, orang kaya, yang punya senjata serta yang punya akal licik. Mereka mencari kekayaan dengan segala cara sehingga riba menindas orang miskin. Mereka cari uang dengan menjual senjata, sehingga peperangan terjadi di mana-mana. Mereka buat barang apa saja yang laku asal dapat uang, sehingga beredarlah bermacam minuman keras, narkoba, perjudian serta bermacam tempat untuk melakukan perbuatan zina. Demikianlah, umat manusia dengan membuang Alquran dan as-Sunnah, lalu memegang demokrasi hanya mendatangkan malapataka yang terbesar, karena merugikan manusia bukan hanya di dunia, tetapi lebih-lebih di akhirat, karena akan dinanti dengan azab yang pedih.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *