Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Lubang Biawak, Oleh: UU Hamidy

Lubang Biawak, Oleh: UU Hamidy

Pribadi agung Nabi Muhammad Saw telah memancar dari segala sisi kehidupan Beliau. Pantaslah Beliau mendapat sanjungan Junjungan Alam, sebab akhlak mulia Beliau adalah contoh tauladan bagi umat manusia yang mengharapkan hidup terhormat di muka bumi dan mati dalam kemuliaan di sisi Tuhan Semesta Alam.

Simaklah bagaimana rukun serta indahnya kehidupan maupun pergaulan Pribadi yang luhur ini dengan para sahabatnya. Perhatikanlah bagaimana Khatamul Anbia ini memberikan pesan yang bernas kepada umatnya. Kedalaman maknanya telah mengukir keindahan bahasanya.

Dalam suatu percakapan dengan para sahabatnya Beliau mengatakan “Kalian nanti akan mengikuti mereka sejengkal demi sejengkal, sehingga akhirnya masuk lubang biawak pun kalian juga mengikuti mereka”. Para sahabat bertanya, “Siapa mereka itu ya Rasulullah?“. Jawab Nabi Saw, “Siapa lagi kalau bukan Yahudi dan Nasara”.

Saksikanlah bagaimana Nabi Saw menyampaikan pesannya. Beliau tidak memakai kata-kata langsung yang mendukung makna terang-terangan. Tetapi memakai gambaran yang berisi permisalan sehingga terasa halus tapi membekas. Percakapan itu amat menarik setelah kita memperhatikan keadaan umat Islam pada hamparan muka bumi sekarang ini.

Umat Islam sudah punya padoman atau pandangan hidup Alquran yang diturunkan dari sisi Allah pencipta langit dan bumi. Itulah pedoman hidup yang sebenarnya yang benar-benar menjamin keselamatan hidup umat manusia, baik di dunia dan lebih-lebih di akhirat.

Bagaimana memakai Alquran menjadi pedoman hidup telah dicontohkan oleh Nabi Saw kepada para sahabatnya, sehingga para sahabat Nabi Saw adalah yang terbaik daripada umat Islam. Para sahabat Nabi Saw benar-benar memakai Alquran menjadi rambu-rambu kehidupan serta meneladani perkataan dan perbuatan Junjungan Alam itu.

Sekarang umat Islam tidak memakai Syariah Islam yang bersandar kepada Alquran dan Sunnah Nabi Saw secara kaffah. Syariah Islam hanya dipakai secara terbatas. Dalam kehidupan bernegara boleh dikatakan mereka memakai sistem demokrasi yang sebenarnya ditaja oleh Yahudi dan Nasara.

Dalam kebudayaan umat Islam juga banyak yang terlena oleh gaya hidup orang kafir itu. Keadaan ini membuat Syariah Islam yang seyogianya mengatur kehidupan mereka, malah berada di bawah aturan atau sistem kehidupan buatan manusia. Hal ini membuat generasi muda umat Islam kebingungan, bagaimana aturan hidup yang datang dari Allah dan Rasul-Nya bisa tersingkir oleh aturan buatan manusia yang hanya digunakan untuk kepentingan hawa nafsu yang rendah.

Kebingungan itu dapat dijernihkan oleh percakapan Nabi Saw dengan para sahabatnya tadi. Umat Islam telah mendapat jalan yang lurus dari Allah dan Rasul-Nya, yakni Alquran dan Sunnah Nabi Saw. Siapa saja yang berpegang kepada Alquran dan Sunnah Nabi Saw, niscaya tidak akan tersesat dalam hidupnya.

Dalam masa kehidupan Nabi Saw telah ujud negara dan masyarakat yang sejahtera lahir dan batin, karena Nabi Saw menyelenggarakan kehidupan umat Islam dengan pedoman kepada Alquran. Para sahabat Nabi Saw menjadi umat Islam yang pilihan, sebab mereka melakukan amal makruf nahi mungkar sesuai dengan pedoman Alquran dan tuntunan Assunnah dari Nabi Saw.

Tetapi setelah itu ternyata umat Islam pindah kapada jalan “biawak” yakni jalan hidup buatan manusia yang bernama demokrasi. Akibatnya, umat Islam jatuh hina tertindas bahkan kembali hidup terjajah di bawah sepatu orang kafir.

Bila kita membaca Surah Al-Baqarah ayat 120, maka kehinaan yang menimpa umat Islam sekarang ini dengan mudah dapat dijawab. Semula orang Yahudi dan Nasara tidak suka kepada umat Islam, sebelum umat Islam hidup seperti jalan hidup mereka.

Sekarang umat Islam telah hidup dengan memakai sistem demokrasi yang menjadi jalan hidup mereka. Tatanan dunia global juga telah mereka kuasai dengan sistem demokrasi beserta segala turunannya. Sungguhpun begitu, dalam diplomasi yang licik, umat Islam disapa dengan kata sahabat, tapi dalam hatinya tetaplah memandang umat Islam sebagai musuhnya.

Mengapa mereka memusuhi umat Islam karena mereka menolak kebenaran Alquran dan membenci tuntunan hidup dari Nabi Saw. Mereka tidak senang jika Alquran menjadi undang-undang kehidupan umat Islam serta gelisah hidupnya jika umat Islam mencontoh kehidupan Nabi Saw dengan para sahabatnya. Mereka dengki melihat di mana agama Islam datang, di situ bersemi kehidupan yang sejahtera lahir dan batin. Sementara mereka di mana datang dangan sistem demokrasi dan agama mereka mendatangkan bencana dan penindasan.

Sekarang, dengan jalan hidup demokrasi, umat Islam dengan mudah dapat didikte seperti yang mereka kehendaki. Maka umat Islam memusuhi saudaranya sendiri bahkan dengan enteng membidiknya dengan senapan. Umat Islam jadi penyokong kapitalis dengan ribawinya.

Bahkan penguasa-penguasa negeri Islam tidak segan-segan menyatakan dirinya tidak setuju Syariah Islam dipakai untuk mengatur kehidupan bernegara. Maka yang terjadi ialah Allah tidak lagi menjadi Pelindung dan Penolong umat Islam, sebagaimana termaktub dalam ujung ayat 120 Surah Al-Baqarah tadi.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *