Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Logika Rezeki dalam Demokrasi, Oleh: UU Hamidy

Logika Rezeki dalam Demokrasi, Oleh: UU Hamidy

Allah Maha Pencipta, Maha Kuasa dan Maha Pengatur, tiada sesembahan yang wajib diibadahi lagi disembah selain Dia, mengatur jagad raya dan seisinya dengan maha bijaksana. Semua makhluk yang bernyawa telah ditanggung rezekinya oleh Allah, sebab segala rezeki itu hanya milik Allah semata. Karena itu, rezeki bergantung kepada rahmat Allah, bukan bergantung kepada usaha manusia.

Tetapi ajaran demokrasi sekuler membuat umat manusia memandang enteng kekuasaan Allah, bahkan menafikan rahmat-Nya. Demokrasi mengajarkan rezeki bergantung kepada usaha. Maka logikanya, makin banyak usaha makin banyak rezeki. Itulah sebabnya mereka pakai cogan kata “time is money”, waktu yang dipakai untuk usaha bernilai uang. Inilah yang membuat manusia hidup dalam demokrasi dengan semboyan: kerja, kerja, kerja.

Pandangan demokrasi mengenai rezeki amat membahayakan umat manusia, terutama umat Islam yang akan mengancam akidahnya. Logika demokrasi memandang rezeki bergantung pada usaha sebenarnya tidak masuk akal atau tidak logis. Sebab pada hakikatnya tidak ada hubungan sebab-akibat antara rezeki dengan usaha.

Yang memiliki dan menguasai rezeki adalah Allah yang maha kaya. Bukan usaha manusia yang membuat rezeki. Usaha manusia hanyalah jalan untuk menemukan rezeki. Dan itu tidak mutlak. Tidak tiap usaha membuahkan rezeki. Buktinya, lihat dalam kenyataan hidup. Betapa banyak orang berusaha, tapi hasilnya tak ada, bahkan jadi bangkrut.

Namun lihat logika rezeki bergantung kepada rahmat Allah. Walaupun orang itu tidak berusaha, tapi rahmat Allah yang telah jadi rezekinya, tetap sampai kepadanya. Saksikan orang sakit bahkan pingsan di rumah sakit, apa usahanya mendapat rezeki?

Tapi kenyataannya, betapa banyak orang mengantarkan bantuan kepadanya. Ada yang berupa makanan, ada pula uang serta lainnya. Itu semuanya adalah rezekinya yang datang dari rahmat Allah. Demikian pula berbagai orang terlantar dan tertindas, mendapat rezeki tanpa berusaha atau bekerja.

Begitu pula orang dalam penjara, tetap mendapat rezekinya dari rahmat Allah tanpa hisab. Allah telah menetapkan rezeki setiap makhluk dan niscaya akan sampai kepadanya. Tidak ada kekuatan apapun juga untuk menghalanginya. Begitu pula yang bukan rezeki seseorang, niscaya tidak akan sampai kepadanya, walau dengan kekuatan apapun juga tanpa seizin Allah.

Logika demokrasi yang memandang rezeki bergantung kepada usaha, sehingga waktu hanya bernilai uang, benar-benar telah menyesatkan umat manusia. Manusia tidak menyadari lagi betapa nasibnya bergantung kepada Allah, tapi kepada usaha atau pekerjaannya, sehingga dia menuhankan usaha atau pihak yang memberi peluang usaha kepadanya.

Inilah yang menyebabkan dunia demokrasi menampilkan pemilik modal atau kapitalis yang buas. Menghalalkan segala usaha atau kerja. Yang penting tiap usaha atau kerja mendatangkan uang atau bendawi. Maka, manusia mati-matian bekerja mendapatkan rezeki, sehingga melupakan tujuan penciptaannya beribadah kepada Allah. Padahal Allah itulah yang akan memberi rezeki sebagai buah usaha dan pekerjaannya.

Pandangan demokrasi akan nilai usaha bagi rezeki atau kesejahteraan manusia benar-benar telah membutakan hatinya akan segala nikmat yang diterima siang dan malam dari sisi Allah yang maha penyayang. Malah manusia kehilangan akal sehat sehingga hidayah iman akan semakin jauh dari hatinya.

Memandang rezeki bergantung kepada usaha manusia, bagaikan meminta air tanpa gelas, kepada gelas tanpa air. Begitulah hebatnya jerat setan yang dipasang dalam demokrasi, untuk membangkang kepada Allah yang menciptakan dan memberinya rezeki sepanjang hayatnya.

Allah menyuruh kita berusaha menurut syariat Islam mendapatkan rezeki itu, agar kita beriman kepada Allah yang maha kuasa lagi maha kaya. Rangkaian usaha mencari rezeki itu diharapkan akan menjadi amal saleh bagi manusia sebagai hamba Allah, sehingga akhirnya dapat timbul rasa cinta kepada Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Suka-duka mencari rezeki yang halal dapat menambah iman dan mengokohkan akidah setiap insan. Sebab insan itu akan sadar bahwa dia adalah makhluk yang lemah tidak berdaya. Karena itu harus bersandar kepada Allah yang maha perkasa, agar kita mendapat kekuatan menghadapi medan hidup yang banyak cobaan dan tipu daya.

Itulah sebabnya logika menambah rezeki atau nikmat Allah, bukan dengan makin banyak bekerja atau berusaha, tetapi dengan jalan bersyukur, baik mendapat banyak atau sedikit bahkan tidak berhasil. Tanda bersyukur itu diperlihatkan dengan memakai rezeki di jalan Allah, seperti bersedekah dan memberikan bantuan lainnya dengan ikhlas.

Maka siapa yang bersyukur niscaya dijanjikan oleh Allah akan ditambah rezekinya. Sedangkan yang engkar tidak bersyukur akan tersedia ancaman siksa. Karena itu tinggalkanlah logika demokrasi yang kufur, yang membuat nilai hidup kita hancur. Pakailah logika rahmat Allah yang maha kaya lagi maha pemurah, insya Allah kita menjadi hamba yang tahu bersyukur. Terlepas dari jerat setan dalam dunia demokrasi, mendapat surga di akhirat.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *