Home / Bunga Rampai / Kunci Fenomena Manusia (Akib di Bilik Kreatif), Oleh: Purnimasari
Abdul Kadir Ibrahim bersama UU Hamidy di Bilik Kreatif. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif.

Kunci Fenomena Manusia (Akib di Bilik Kreatif), Oleh: Purnimasari

Rabu (7/11) Bilik Kreatif kembali kedatangan tamu. Kali ini yang datang adalah penyair yang juga penulis buku, Abdul Kadir Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan panggilan Akib. Pertemuan bakda Ashar itupun diisi dengan perbincangan yang akrab bersama UU Hamidy.

Sebenarnya, ada banyak topik yang dibicarakan keduanya. Tetapi salah satu yang menjadi titik tumpu adalah menyikapi karya-karya sastra yang hadir saat ini, terutama puisi. Menurut UU, kebanyakan karya-karya sastra yang ada sekarang hanya sebatas menceritakan fenomena manusia. Ia hanya sekadar membicarakan hal-hal yang ada di permukaan bumi.

‘’Padahal kunci dari semua fenomena manusia adalah Allah. Jika karya-karya itu tidak disandarkan kepada Yang Di Atas Langit, maka nilainya akan semakin berkurang. Sebab semua yang terjadi di muka bumi ini harus dikembalikan kepada Yang Di Atas Langit (arasy) ,’’ ujar UU.

UU mencontohkan karya-karya Raja Ali Haji yang tak pernah lekang oleh zaman. Itu karena karya-karya itu disandarkan kepada Al Quran dan as-Sunnah. Lihatlah bagaimana Gurindam Dua Belas. Setiap baitnya niscaya dapat dicarikan dalilnya baik dalam Al Quran maupun as-Sunnah. Sebab itu adalah hal yang menarik jika Gurindam Dua Belas kemudian ‘diterjemahkan’ dalam bentuk lain dengan memberikan dalil baik dari Al Quran maupun as-Sunnah.

Karena itu, lanjut UU, semua karya-karya sekuler hanya berputar-putar tentang fenomena kemanusiaan yang ibarat benang kusut. Lalu fenomena itu dijawabnya dengan antropologi dan filsafat buatan manusia. Padahal ini semua luntur oleh ruang dan waktu. Karena itu akhirnya semuanya kandas.

Sedangkan karya yang bergantung pada rahmat Allah, demikian UU, tidak akan pernah berakhir. Karena rahmat Allah, taufik dan hidayah-Nya juga tidak akan pernah berakhir. Maka karya-karya yang mengandung nilai tauhid seperti itu akan hidup sepanjang zaman seperti Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji.

‘’Karena dia bergantung pada kebenaran yang tidak lekang oleh ruang dan waktu,’’ ungkap UU.

Di sisi lain, Akib juga menilai masih minimnya kritik terhadap karya-karya sastra yang ada saat ini. Jika sang sastrawan sendiri yang membuatnya, tentu akan dinilai subyektif meskipun mungkin dia memang punya kemampuan untuk itu. Malah yang terus dibahas adalah karya-karya Raja Ali Haji seperti Gurindam Dua Belas yang sebenarnya telah ‘selesai’.

‘’Meminjam pena Hasan Junus, membahas karya Raji Ali Haji adalah memperkenalkan orang yang sudah tak perlu lagi diperkenalkan. Sebab itu yang perlu dibahas adalah karya-karya yang hadir sekarang,’’ tutur lelaki yang dijuluki Sultan Penyair ini.

Keduanya juga sempat membicarakan tentang Balai Maklumat di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Menurut Akib, semasa dia menjadi salah seorang pemegang teraju di pemerintahan, Balai Maklumat ini mendapat bantuan yang cukup memadai. Selain membuat mikro film untuk naskah-naskah kuno dan bantuan pengadaan barang, para penjaga juga mendapat bantuan honor. Tetapi setelah dia tak lagi menjabat di bidang itu, bantuan itu pun lesap pula.

Malah, lanjut anak jati Natuna ini, justru warga negeri jiran yang banyak memanfaatkan keberadaan Balai Maklumat. Buku-buku karya Raja Ali Haji diterbitkan di negeri jiran dalam bentuk mewah baik kualitas kertas maupun sampulnya. Buku-buku itu kemudian dijual dengan harga Rp2 juta per eksemplar.

UU kemudian menimpali dengan keunggulan Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat. Dalam masjid itu ada tempat muzakarah dan bilik rehat untuk para musafir. Bayangkan, di abad ke-18 sudah ada orang yang memikirkan merancang masjid sedemikian rupa.

‘’Kita sekarang masih ada juga yang bertanya apakah berdoa itu mengangkat tangan atau tidak. Persoalan ini sudah dibahas di Masjid Sultan Riau pada tahun 1823,’’ ungkap UU.

Kembali ke inti pembicaraan, UU menegaskan bahwa apapun bentuk karya, ia seharusnya disandarkan kepada Yang Maha Pencipta. Dengan demikian, karya itu jadi lebih bernilai. Sebab pada hakikatnya, kebudayaan adalah amanah Tuhan. Dan setiap insan niscaya akan diminta pertanggungjawaban atas segala perbuatannya.

Sebelum pamit, Akib memberikan hadiah kenang-kenangan pada Bilik Kreatif berupa salah satu buku karyanya yang bertajuk Doa Langit Mekar Cinta Laut.***

Check Also

Kopiah Pak Dekan, Oleh: Purnimasari

Pada awal tahun ‘80-an, ketika Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan (FKIP) Universitas Islam Riau (UIR) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *