Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Kritik Rida K Liamsi terhadap Melayu dalam Kumpulan Puisi ’’Tempuling’’ (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy
Foto: tripzilla.com

Kritik Rida K Liamsi terhadap Melayu dalam Kumpulan Puisi ’’Tempuling’’ (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy

1. Dimensi Kebenaran dalam Karya

Karya apapun juga di muka bumi ini, baru bermakna bila bicara tentang kebenaran. Karya yang tidak bicara tentang kebenaran, hanya akan sebatas selera hawa nafsu, meskipun karya itu juga dapat mendunia. Sebaliknya, karya yang berbicara tentang kebenaran dapat menyentuh hati nurani yakni bagian yang terdalam dari jiwa manusia.

Meskipun barangkali tidak mendunia, namun karya itu membubung ke langit, sehingga dapat bernilai di sisi Tuhan. Karena itulah, pesan yang benar telah menjadi satu di antara muatan estetika Melayu. Inilah pandangan hidup yang terkesan oleh kumpulan puisi Rida K Liamsi dengan tajuk Tempuling, setelah dibaca lambat-lambat berulang-ulang dengan segenap kemampuan penghayatan.

Marilah kita ambil yang sederhana saja. Memang benar tempuling itu nama semacam tombak besi yang dipakai nelayan puak Melayu untuk menangkap ikan, Tempuling adalah tombak piarit yang tajam, yang kadang-kadang dilengkapi dengan tali rotan oleh nelayan Melayu, untuk menarik ikan yang sudah tidak berdaya kena tempuling.

Tempuling harus digunakan dengan kecepatan dan ketetapan yang tinggi. Cuai sedikit saja, ikan yang melintas takkan kena. Kemudian, kalau ikan telah kena, harus hati-hati. Sebab ikan itu hanya ditahan oleh piarit mata tempuling. Bukan seperti kena serampang yang bisa bermata 2 atau 4. Atau seperti kena jala yang dapat mengepung seluruh penjuru. Karena itu nama tempuling untuk kumpulan sajak ini memang cukup sanggam. Sebab nama itu dapat mengungkapkan suatu peristiwa kehidupan yang benar-benar punya medan yang menantang, di mana nasib dipertaruhkan.

Sebagai seorang warga Melayu di gugusan Pulau Tujuh kawasan Laut Cina Selatan, Rida K Liamsi telah menyaksikan bagaimana puak Melayu di rantau itu menanggulangi kehidupannya. Mereka punya dunia yang berhubungan dengan laut. Ini semuanya menjadi pengalaman dan perbendaharaan kata sajak-sajak Rida. Menjadi lambang dan kiasan hidup yang mampu memancarkan keindahan setelah disentuh dengan pembayangan dan tangan lasak.

Dalam kumpulan sajak Tempuling, manusia bagaikan nelayan dalam perjalanan hidupnya, dirangkai dengan indah dan menarik oleh Rida dengan dunia Melayu perairan berupa laut, ombak, angin, pantai, kemejan, nibung, camar dan elang laut. Dari sinilah muncul budaya maritim Melayu yang menampilkan perahu, tempuling, kail, layar, umpan, sentak dan tikam.

Rida K Liamsi menyadari rentang waktu yang panjang dalam berkreativitas telah menyebabkan banyaknya aspek yang mewarnai sajak-sajaknya. Alur waktu dan tempaan hidup menjadi urat nadi yang di dalamnya mengalir darah yang tak seluruhnya bewarna satu.

Ada darah kehidupan, darah masa lampau dan darah_mimpi-mimpi dan gelisah yang tak pernah putus. Pengakuan penyair ini memberi tanda betapa banyaknya ragam pengalaman, sentuhan kehidupan serta berbagai harapan maupun kecemasan akan suatu bayangan, yang telah dilebur, dirangkai dalam baris-baris puisinya. (bersambung)

(Jagad Melayu, UU Hamidy)

Check Also

Menjadi Anak Angkat Bupati Madura, Oleh: UU Hamidy

Allah Yang Maha Kuasa Pemegang Kuda Takdir Apa yang Engkau kehendaki terjadi Meskipun aku tidak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *