Home / Bunga Rampai / ‘’Kita Mau Dibunuh’’ (Anekdot Perantau Kuantan di Malaysia)
Foto: pengirismultyguna.blogspot.co.id

‘’Kita Mau Dibunuh’’ (Anekdot Perantau Kuantan di Malaysia)

*Cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Nama pelaku adalah nama yang sebenarnya. Diceritakan kembali oleh Purnimasari.

Leman dan Muhammad Taib adalah perantau yang handal dari Rantau Kuantan (Kuantan Singingi, Riau) di Malaysia. Pada tahun 1930, setelah bersusah payah melalui jalan laut dan darat, kedua anak bujang dari Kuantan ini berhasil menjejakkan kakinya di Tanah Semenanjung. Mereka kemudian mencari tempat untuk menyadap getah di Shah Alam. Pada masa itu, cukup banyak orang Kuantan yang punya kebun getah di Malaysia, salah satunya di Shah Alam.

Karena cuaca kadang-kadang tidak baik, maka Leman dan Taib tidak bisa menyadap getah. Lalu mereka pun mencari akal. Ternyata, kereta api yang mengangkut getah lewat setiap malam dari Kuala Lumpur ke Klang. Maka sekarang keduanya dapat ide kalau sudah kesulitan.

Karena kereta api itu jalannya lambat maka Leman dan Taib dapat dengan mudah naik ke atas gerbong. Lalu mereka mengambil beberapa keping getah dan menjatuhkannya ke bawah. Keesokan harinya baru mereka jual kepada tauke yang tentu saja akan merasa heran.

Tauke: ‘’Oh, getah kamu berdua sudah bagus keringnya?’’
Leman: ‘’Iya tauke, karena kami menjemurnya dengan baik.’’

Lalu setelah terima uang getah hasil rampasan ini, Leman dan Taib menuju pasar Kuala Lumpur. Mereka langsung mencari restoran yang bagi mereka nama itu juga tidak biasa mereka kenal. Mereka cuma tahu bahwa di kedai orang keling itu ada minuman yang terbuat dari es yang kabarnya sangat enak.

Maka kedua anak bujang gelandangan ini memilih salah satu kedai orang keling lalu masuk. Begitu masuk, langsung ditanya oleh orang keling yang punya kedai.

Orang keling: ‘’Awak mau makan apa?’’
Langsung dijawab Taib: ‘’Kami pesan es dua gelas.’’
Orang keling: ‘’Oh es campur.’’
Leman dan Taib sudah ragu mau mengiyakan tapi akhirnya dijawab juga sambil tergagap, ‘’I-iya.’’

Lalu keduanya mengambil tempat duduk.

Beberapa saat kemudian kedengaranlah suara mesin pengukur es. Leman lalu bangkit dari tempat duduknya dan bangkit ke depan melihat orang keling itu bekerja. Maka tampaklah oleh dia es batu yang tengah dikukur itu berserakan bagaikan kaca. Leman keheranan dan segera berjalan cepat menuju Taib yang masih duduk.

Taib: ‘’Ada apa?’’
Leman: ‘’Kita mau dibunuh oleh orang keling ini.’’
Taib: ‘’Kenapa?’’
Leman: ‘’Pecahan kaca yang akan dimasukkannya ke dalam gelas kita.’’

Lalu Leman menarik tangan Taib dengan keras untuk segera keluar demi menghindari ‘nasib malang’ ini. Setelah sampai di rumahnya, Leman pun bebual lagi dengan Taib.

Leman: ‘’Ha, inilah Leman. Kita ini tidak punya getah untuk dijual. Lalu kita mencuri getah di kereta api. Itulah jadinya nasib malang menimpa kita oleh Allah. Sekarang marilah kita berhenti mencuri dan menyadap getah dengan jujur di Shah Alam.’’

Hasil kejujuran mereka kemudian memang menjadi bukti. Kedua perantau ini pulang ke kampung halaman pada awal tahun 1950 dengan membawa alat pemasang sendi rumah yang ketika itu sangat diperluka di Kuantan dan diberi nama jip. Mereka juga membawa gong yang juga tidak ada di Rantau Kuantan.

Leman kemudian memutuskan tinggal di kampung halaman. Taib kembali ke Malaysia dan membuat kebun getah yang sangat luas di Kuala Jempol, Negeri Sembilan, dekat Istana Seri Menanti.***

Check Also

”Apa yang Sudah Bung Tulis?”, Oleh: Purnimasari

Selain karena berkah dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang paling utama, salah satu hal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *