Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Kisah Buya Muhammad Nur Mahyuddin (Bagian 2) : Menanamkan Kepercayaan dan Kebersihan Diri Santri, Oleh: UU Hamidy
Foto: planetmainframe.com

Kisah Buya Muhammad Nur Mahyuddin (Bagian 2) : Menanamkan Kepercayaan dan Kebersihan Diri Santri, Oleh: UU Hamidy

Mengenai berbagai upacara tradisional di Kampar, seperti ratib beno (meratibkan benih padi yang akan diturunkan ke ladang) dan upacara tolak bala (yang mempertemukan dukun dan ulama serta membacakan mantera), Buya Nur Mahyuddin melihatnya sebagai realitas kehidupan yang merakyat. Meskipun tradisi itu menjurus kepada bid’ah dan syirik, namun pemecahannya menurut pandangan ulama ini jangan sampai mengguncangkan masyarakat. Pemuka adat dan dukun-dukun yang memakai tradisi tersebut, harus diikut-sertakan dalam pengajian-pengajian agama. Beri mereka peranan dalan kegiatan keagamaan.

Sikap yang demikian juga tampak terhadap amalan-amalan tarekat, seperti Naqsyabandiyah, Samaniyah dan Sathariyah (yang sering melakukan beberapa amalan yang khas, seperti suluk, yang dilangsungkan melalui bimbingan syaikh dan khalifah). Kenyataan itu dipandang oleh ulama ini sebagai golongan penganut Islam yang mencoba menjalankan syariat menurut keyakinan yang khusus.

Sebenarnya, apabila seorang muslim menjalankan syariat Islam secara baik, benar dan sempurna, orang itu juga telah mengikuti jalan Rasul dan menuju jalan Tuhan, karena dia telah menempuh kebenaran. Jadi tidaklah harus melalui tarekat. Sebab, agama itu bukanlah hanya untuk kesempurnaan diri seorang pribadi, tapi juga untuk emmelihara kesempurnaan umat.

Sebenarnya, walaupun Buya Nur bekas anggota dan pemimpin Masyumi, namun beliau tidaklah seorang Muhammadiyah. Amalan-amalan beliau dan gaya pendidikan agama di Daarun Nahdhah lebih mendekati mazhab Syafi’i. Dalam hal amalan agama Islam, Buya Nur Mahyuddin boleh digolongkan Syafi’iyah.

Ulama ini memandang masalah agama sebenarnya tidak bisa dipisahkan dengan negara, sebab negara itu memerlukan umat dan juga sebaliknya. Oleh karena itulah, dari masa mudanya beliau telah berkecimpung dalam pergerakan politik Islam menentang Belanda. Mula-mula beliau ikut Majelis Islam A’la Indonesia, sebelum 1940. Kemudian menjadi anggota Masyumi di daerahnya tahun 1943.

Dua tahun kemudian bulan November 1945, diangkat menjadi ketua partai itu untuk daerah Bangkinang. Buya Nur melihat Masyumi merupakan satu-satunya wadah, bagaikan sebuah kapal induk dengan kapal-kapal kecil umat Islam di sampingnya. Tapi kata beliau, ‘’Kini kapal itu sudah ditenggelamkan. Meskipun kita selamat sampai ke darat, kita tidak lagi membuat kapal lain yang bisa diyakini untuk membawa kita kepada tujuan.’’

Dalam pandangan serupa itu, maka tokoh ini tidak pernah tertarik lagi kepada politik. Bupati Kampar pernah minta agar Golkar dimajukan dalam lingkungan Daarun Nahdhah, namun beliau menjawab dengan rendah hati, ‘’Saya tidak akan masuk apapun saja. Tapi saya tidak anti partai atau golongan apapun juga. Kalau saya terlibat salah satu golongan, sekolah saya akan rugi. Cita-cita mencetak ulama akan kandas; murid akan terbatas dan ulama lulusan Daarun Nahdhah terjebak kepada pihak tertentu. Saya menghindari kotak-kotak. Saya bisa berdosa oleh hal ini.’’

Dengan wajah Indonesia seperti sekarang ini, beliau melihat kegiatan politik umat Islam sudah berlalu. Sejak partai Masyumi membubarkan diri tahun 1960, dalam penilaian ulama ini tidak ada lagi wadah perjuangan umat Islam yang patut ditumpang. Tetapi meskipun begitu, menurut beliau, tujuan Islam adalah menegakkan yang haq, yang benar.

Untuk itu partai politik bukan satu-satunya jalan. Menjaga aqidah Islam juga berarti menegakkan kebenaran, yang kelak dapat diharapkan memberikan keadilan dan kemakmuran. Karena itulah, lembaga pendidikan seperti Daarun Nahdhah, merupakan jawaban yang terbaik untuk menjawab tantangan sekarang ini.

Strategi pembinaan ulama yang beliau lakukan dalam lembaga asuhannya ialah dengan menanamkan kepercayaan dan kebersihan diri sendiri. Uang sekolah (madrasah) yang baru beliau pungut, sering tak disimpan begitu rupa, tetapi sering berada begitu saja di atas meja beliau. “Biar hilang kalau memang ada murid yang hendak mencurinya,” kata beliau. “Nanti di akhirat diterima,” lanjutnya.

Untuk menanamkan sifat itu, tokoh ini tidak mau mempunyai ruangan kantor khusus, karena beliau hendak bergaul secara terbuka dengan murid-murid. Baliau mendambakan, murid-muridnya menjadi orang yang terpercaya. Untuk menjaga kepercayaan itu jugalah ulama bekas tokoh Masyumi ini tidak mau menerima bantuan yang sifatnya mengikat. Kalau ada bantuan yang sifatnya mengikat dari seseorang atau sesuatu kekuatan politik, maka menurut belau, kita akan mengabdi kepada orang, bukan lagi kepada Tuhan.

Buya Nur Mahyuddin bisa menerima berbagai latihan keterampilan untuk murid-murid madrasahnya, tetapi latihan itu harus diawasi begitu rupa, agar tidak sampai mengurangi perhatian terhadap pelajaran dan amalan agama. Beliau khawatir latihan keterampilan berhasil, sehingga murid-murid semisalnya menjadi seorang tukang, tidak lagi menjadi ulama. Yang baik kata beliau ialah, ya ulama ya tukang.

Melihat keadaan umat Islam sekarang ini beliau tidak gelisah. ‘’Kita harus sabar menerima ujian”, katanya. Lebih lanjut diterangkan, bahwa ujian itu dapat diatasi dengan mencetak ulama. ‘’Kita harus memenuhi anjuran pemerintah, sebab kita berada di bawah. Kita tidak dapat menentang begitu saja terhadap pemerintah, tentang keadaan yang berlaku.’’

Sewaktu hal yang sama ini dihadapkan kepada para muridnya, maka murid-murid itu memberikan reaksi. Buya lantas mengatakan, “Kita tidak perlu menentang pemerintah atas keadaan yang sekarang ini yang menimpa umat Islam; kalau menentang, menentang saja dalam hati. Sebab sekolah agama itu harus memperlihatkan semua yang baik. Sekolah agama itu tak mungkin melakukan keributan seperti sekolah umum, begitu pula terhadap pemerintah.”

Terhadap murid-muridnya, masalah kebersihan diri (dari berbuat dosa) amat dikhawatirkan oleh pimpinan madrasah Daarun Nahdhah ini. Terutama kaum perempuan. Karena itulah tiap murid perempuan yang akan masuk madrasah ini harus diantarkan oleh orangtuanya. Oleh karena itulah asrama murid perempuan diletakkan oleh beliau di sisi rumahnya, agar mudah diawasi. Tiap tamu yang akan menjumpai murid perempuan harus seizin pemimpin (beliau).

Karena khawatir akan rusaknya akhlak itulah, pihak Daarun Nahdhah keberatan membuat Pusat Informasi Pesantren (PIP) yang nantinya akan menayangkan gambar-gambar televisi di sana. Dalam pandangan Buya Nur, televisi itu menipiskan iman, kecuali kalau bisa diatur. “Kalau bisa diatur pemakaiannya, ya bagus, tapi kan lama-lama biasanya tidak bisa diatur,” kata beliau.

Ulama ini berprinsip, sedapat mungkin kita harus menjauhi godaan-godaan yang ada. Beliau tak setuju rambut murid-murid lelaki dipanjangkan begitu rupa, tapi harus pendek seperti beliau (sebab dikhawatirkan akan menggoda yang lain untuk mengikutinya). Baju seorang murid yang pernah penuh dengan tulisan dan gambar dibuang sang ulama ke sungai Kampar, kemudian digantinya dengan baju baru yang hanya memakai satu warna tanpa tulisan-tulisan.

Dalam penilaian ulama ini, aqidah agama Islam memang tampak makin dangkal. Hal ini menurut penilaian Buya itu karena sekolah-sekolah agama semakin berat menjadi sekolah umum yang hanya mengajarkan agama sedikit saja. Itulah sebabnya Daarun Nahdhah tidak mau begitu condong kepada sistem atau kurikulum sekolah umum. Malah untuk mengambil gaya berat kepada ilmu agama itu, dalam kelas VII madrasah itu hampir 100 persen diberikan pelajaran agama Islam saja.***

(Sikap dan Pandangan Hidup Ulama di Riau, UU Hamidy)

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *