Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Kilat Cermin, Oleh: UU Hamidy

Kilat Cermin, Oleh: UU Hamidy

Banyak sekali sekarang terjadi musibah dan malapetaka. Baik malapetaka yang datang dari alam maupun  dari pihak manusia itu sendiri. Dari pihak alam yang paling dahsyat adalah tsunami di Aceh, letusan gunung Merapi Jawa Tengah, gempa Bumi di Sumatera Barat dan masih banyak lagi berupa banjir bandang, tanah runtuh serta banjir besar luapan sungai ketika musim penghujan. Dari pihak manusia misalnya kasus pembunuhan di Lombok, kasus pembunuhan petani di Mesuji Lampung, kasus jahit mulut rakyat Pulau Padang di Meranti, kasus jahit mulut tiga kampung Anak Balam di Jambi dan supir maut yang menggilas 8 orang di Tugu Tani Jakarta.

Mungkin rangkaian musibah atau bencana ini pernah dipikirkan oleh orang yang punya akal budi dan lebih-lebih dari orang yang mendapat petunjuk dari Allah sebagai orang yang beriman. Tapi ternyata hampir tak ada yang mencoba menyampaikan gambaran hasil pikiran maupun renungannya. Ini memberi tanda rasa tanggung jawab antara sesama manusia atau persaudaraan sosial sudah jauh luntur. Bahkan, persaudaraan orang beriman juga sudah jauh menipis. Masing-masing berjalan menghadapi nasibnya sendiri-sendiri.

Keadaan ini memberi petunjuk bahwa peranan para pemimpin, lebih-lebih jajaran pejabat pemerintah yang memegang teraju pemerintahan, hampir tak membekas lagi, sehingga muncul sindiran dari rakyat “negeri auto pilot’’ yang maksudnya negeri yang tidak punya pemimpin. Rakyat memandang pemerintah tidak mampu menanggulangi berbagai malapetaka, musibah serta rangkaian kesulitan yang menimpa negeri ini. Rakyat dan pemerintah berjalan sendiri-sendiri tanpa menghiraukan satu sama lain. Masing-masing hidup nafsi-nafsi.

Bagi orang yang akalnya mendapat cahaya iman dari akidah yang benar, keadaan ini dapat dipahami dengan mudah. Pangkal bala itu dapat ditandai dari cermin yang dipakai oleh pemimpin bangsa yang notabene adalah pemegang kekuasaan pemerintahan. Mereka bercermin pada dunia demokrasi sekuler yang telah jadi tatanan dunia global. Dalam sistem dajjal ini niscaya tidak akan dapat dilihat mana yang haram mana yang halal, mana yang benar mana yang batil, mana yang diridhai Allah dan mana yang akan dikutuk-Nya. Sebab, dalam demokrasi sekuler manusia tidak mau diatur oleh hukum Allah Yang Maha Bijaksana. Mereka hanya mau diatur oleh hukum buatan manusia yang mencampurkan yang hak dengan yang batil, sehingga masyarakat jadi kalang kabut. Hidup dengan gaya moderen dalam alam pikiran jahiliyah.

Maka akibatnya, juga tak ada pemimpin terutama pemegang hulu kekuasaan, yang dapat memberitahukan kilat beliung, yaitu segala sesuatu yang dapat mendatangkan bencana. Bencana yang sesungguhnya datang dari kekuasaan Allah malah dikatakan sebagai bencana alam. Padahal, tanpa kehendak Allah sesungguhnya alam tidak dapat mendatangkan bencana. Allah mendatangkan malapetaka, agar manusia menyadari akan dosanya, berpikir dan menginsyafi kesalahan yang telah berlaku. Tetapi hal ini tidak terbaca apalagi disadari oleh manusia yang terkungkung oleh alam pikiran demokrasi sekuler. Inilah bukti konkrit bahwa manusia tidak akan pernah selamat oleh sistem kufur tersebut.

Manusia yang diciptakan Allah dari setetes air yang hina itu membangkang bahkan memusuhi Allah Yang Maha Perkasa. Mereka tak menyadari bahwa Dia-lah Tuhan yang maha memelihara, menghidupkan dan mematikan serta menjaga jagad raya ini siang dan malam tanpa punya rasa mengantuk apalagi lalai. Jika manusia ingin selamat, maka pertama-tama harus membaca apa makna cobaan dan bencana yang ditimpakan Allah terhadap dirinya. Cobaan dan bencana itu hanya dapat_dipahami dengan benar melalui pedoman hidup yang benar pula yakni Alquran petunjuk bagi alam semesta serta Sunnah Nabi Muhammad Saw teladan utama umat manusia. Inilah cermin umat manusia  yang sekaligus memberitahukan pula kilat beliung yakni azab yang akan menimpa mereka, sehingga insan yang beriman menempuh jalan hidup menurut Syariah Islam agar selamat dunia-akhirat. Ini harus disadari oleh umat manusia. Semua urusan akan kembali kepada Allah yang berbuat kebajikan akan mendapat balasan yang baik pula, sedangkan yang membangkang dan melakukan kejahatan akan dibalas pula dengan azab yang pedih.***

 

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *