Home / Bunga Rampai / Ketika Sagu Jadi Nafas Kehidupan; Menggantung Asa di Pelepah Rumbia, Oleh: Purnimasari
Hamparan kebun sagu di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Foto: Dokumentasi Bilik Kreatif.

Ketika Sagu Jadi Nafas Kehidupan; Menggantung Asa di Pelepah Rumbia, Oleh: Purnimasari

Bagi sebagian orang di Meranti, sagu adalah tempat mereka menggantungkan kehidupan. Pada abut (bibit sagu) mereka tanam azam hingga ke anak cucu. Di pelepah-pelepah rumbia, mereka rajut impian bernama masa depan. Ia telah menjadi nafas kehidupan. Baik itu sebagai induk semang kilang, pemilik kebun, tukang tebang, pekerja kilang dan bermacam jenis pekerjaan yang dipegang oleh para pekerja sagu.

Negeri Sagu. Itulah salah satu julukan Meranti selain Tanah Jantan. Bagi Syafruddin, Amiruddin, Baharuddin, Tugiman, Paridin dan lain-lainnya, sagu telah menjadi nafas mereka. Sagu telah bersebati dalam kehidupan. Di Pulau Tebing Tinggi saja, sektor sagu menyerap tenaga kerja setidaknya 15 persen.

Kebun-kebun sagu tersebar hampir di merata pulau. Menurut data Bappeda Riau 2008, dari 110.359 hektare areal perkebunan di Meranti, 60.042 hektarenya adalah sagu. Luas areal sagu terbesar terdapat di Kecamatan Tebing Tinggi yang terdiri atas areal sagu rakyat dan swasta. Hingga 2008, luas areal sagu swasta mencapai 23.000 hektare yang terdapat di Kecamatan Tebing Tinggi dan Tebing Tinggi Barat. Data 2008 menunjukkan, total produksi sagu Meranti mencapai 82,720.38 ton dengan jumlah petani mencapai 5.335 kepala keluarga.

Pada tahun 2001, areal tanaman sagu di Provinsi Riau seluas 61.759 hektare yang terdiri dari perkebunan rakyat seluas 52.344 hektare (84, 75 persen) dan perkebunan besar swasta seluas 15.415 hektare (15,25 persen). Menurut Sekretaris Desa Tanjung, Kecamatan Tebing Tinggi, Mahmuddin, saat ini ada kurang lebih 6.000 hektare lahan sagu di Desa Tanjung. Tapi, dari angka itu, hanya sekitar 3.000 hektare yang merupakan kebun produktif.

Hikayat Askar Rumbia

Tugiman (53) adalah salah seorang yang telah memilih jalan hidupnya menjadi askar rumbia. Ia paling tidak sudah 20 tahun bekerja sagu dengan spesialisasi tukang tebang. Namun ia juga bisa menjadi tukang tanam dan memotong sagu. ‘’Dulu upahnya hanya Rp2,5 dan tahun 1975 naik jadi Rp10. Kadang dibayar pakai uang, kadang dibayar pakai sagu. Saya kerja sagu mulai usia 12 tahun. Jadi sekolah hanya sambilan,’’ kenang Tugiman.

Bekerja sebagai penebang sagu seperti Tugiman adalah pekerjaan berisiko tinggi sekaligus teliti, sebab batas sempadan antara para pemilik kebun sagu kerap amat semu. Tapi hebatnya, para penebang sudah hapal tapal batas itu di luar kepala. Risiko alamiah para penebang adalah tertusuk duri rumbia dan duri nibung, keluarga tanaman palma lainnya yang juga akrab dengan rumbia. Zaman dahulu, para penebang kerap bekerja dengan kaki ayam saja. Ketika pulang ke rumah barulah mereka cabut segala duri. Ukurannya bisa dua kaleng susu menengah cap Junjung made in Malaysia.

Jika kebun sagu jauh ke dalam dan jauh pula dari kuala sungai, para penebang bisa seminggu tak pulang. Biasanya, jika kondisi demikian, upah mereka juga ditambah. Saat ini, upah tukang tebang mencapai Rp6.500 per tual. Namun jika posisi tual cukup jauh dari kuala, upah tebang bisa sampai Rp8.000 per tual. Tentang batas sempadan, jika tertebang milik orang sebelah, uang tebang dihitung ulang dan dikembalikan kepada yang empunya. Dulu, penebang dalam satu kampung tak banyak, boleh dihitung dengan jari. Mereka umumnya seketurunan karena penebang adalah sebuah profesi tradisi. Jadi, semua pemilik sagu menggunakan jasa mereka. Tukang tebang khusus hanya bekerja di kebun. Karena mereka bukan tukang ramu seperti para pekerja yang ada di kilang. Saat ini, rata-rata pekerja sagu menerima upah Rp50 ribu-Rp60 ribu per hari.

Ketika dulu hanya mengandalkan kapak, menebang sagu adalah pekerjaan yang cukup melelahkan. Setelah batang sagu tumbang dan dipotong-potong menjadi beberapa tual, penebang kemudian membuat ‘hidung’ untuk menyangkutkan tali sehingga tual-tual sagu mudah dibawa. Selanjutnya mereka akan mengalihkan (musing) tual dengan kayu yang dinamakan boji. Setelah musing, penebang akan nggolek tual. Yakni di mana penebang menggolekkan tual sagu menggunakan dua ‘roda’ kecil yang dipakukan di tengah ke dua sisi tual sagu. Jika dekat, tual sagu akan digolekkan hingga ke kilang. Jika jauh, akan digolekkan ke kuala sungai untuk selanjutnya dibawa ke kilang. Selanjutnya, sagu akan dirakit dengan cara memasukkan tali ke ‘hidung’ tual. Setelah itu, tual akan dikeluarkan dari sungai ke kuala untuk selanjutnya ditarik ke kilang. Saat ini, rata-rata tukang tebang sudah punya kapal sendiri. Sehingga pekerjaan mulai dari menebang sagu hingga mengangkut tual sampai ke kilang telah menjadi urusan mereka.

Awalnya, lanjut Tugiman, menanam sagu hanya untuk sampingan. Sekadar tambahan makanan pokok yang diolah sendiri. Dulu kerja sagu terkenal berat karena benar-benar mengandalkan kekuatan fisik. ‘’Masa dulu kerja lebih berat. Kalau sekarang sagu dihancurkan pakai mesin, dulu diparut pakai tangan. Jika dulu menebang dan memotong pakai kapak, sekarang pakai gergaji mesin alias chainsaw. Kalau hanya punya kebun sagu 1-2 hektare, takkan mencukupi untuk keperluan harian. Malah getah lebih menjanjikan. Apalagi rata-rata sagu hanya setahun sekali ditebang,’’ tuturnya.

Paridin (45) mulai bekerja sagu sejak usia 21 tahun pada 1974. Ketika ia merantau dari Jawa ke Selatpanjang. ‘’Sampai di sini (Meranti, red), saya langsung kerja sagu. Karena waktu itu memang pekerjaan ini yang mudah didapat. Ketika itu, upah bekerja di kilang hanya Rp5.000 per bulan,’’ ujar Paridin yang sempat berinduk semang pada tauke Tionghoa selama setahun. Kini, Paridin telah memiliki kebun sagu sendiri.

Lain di kebun, lain pula di kilang. Bekerja di kilang tergantung pada air. Pekerjaan jadi agak berat ketika sedang musim selatan dimana siang hari air kecil dan malam hari air besar. Menurut pemilik kilang sagu Harapan II, Syafruddin, para pekerja di kilang umumnya dibagi menjadi beberapa macam. Ada yang tukang mengupas kulit sagu, tukang parut, tukang jaga bak pengendap, tukang nyalur, tukang oven, tukang timbang, tukang jahit goni, hingga tukang angkut goni tepung sagu ke gudang. Dari semua jenis pekerjaan itu, yang paling sulit adalah tukang nyalur. Karena ia bekerja memperhatikan debit air di bak menggunakan tali. Sepintas, pekerjaan ini tampak mudah karena tukang nyalur bekerja sambil duduk dan kedua tangannya memegang tali yang disangkutkan di atas.

‘’Sebab itu, semua jenis pekerjaan di kilang bisa dilakukan tukang nyalur, tapi tidak semua pekerja bisa jadi tukang nyalur. Karenanya, tukang nyalur adalah orang pilihan yang sudah benar-benar mahir. Sementara tukang oven harus tahan berdiang menjaga api. Besar kecilnya api mempengaruhi kualitas tepung. Jika terlalu panas, tepung bisa gosong,’’ beber Pak Din, panggilan akrab Syafruddin. Para tukang tebang biasanya libur pada hari Jumat sementara para pekerja kilang mengatur libur sendiri-sendiri. Yang jelas, untuk satu bulan ada 26 hari kerja.

Dari Abut hingga Nyorong

Kehidupan sebatang rumbia dimulai sejak dipilihnya abut (bibit rumbia). Abut biasanya diperoleh dari anak-anak rumbia yang ada di sekitar pohon-pohon rumbia yang sudah besar. Setelah dipilih yang terbaik, dahan-dahan abut dipangkas dan dicabut dari tanahnya. Setelah itu, abut diletakkan di tempat yang sejuk dan lembab seperti rerumpunan pokok sagu. Sebagian petani membuat pembibitan abut di dalam rakit yang terbuat dari bambu atau pelepah rumbia yang sudah tua. Abut kemudian disusun di dalam rakit dan direndam di air yang mengalir. Dalam satu rakit ukuran dua kali satu meter, bisa disemaikan sekitar 160-200 abut tergantung ukuran. Dengan perlakuan ini, diharapkan kemampuan tumbuh bibit jadi meningkat. Waktu penyemaian di rakit ini bisa memakan waktu hingga tiga bulan.

Ketika abut siap ditanam, menurut Pak Din, ada tata cara yang sebaiknya dilakukan. ‘’Menurut cerita orang-orang tua dulu, kalau mau menanam abut, baca shalawat sebanyak tiga kali, dan sebaiknya ditanam sebelum pukul 10 pagi. Selain itu, tidak boleh menanam pakai kaki,’’ katanya.

Dengan kearifan lokalnya, puak Melayu di Meranti telah memberi nama-nama yang unik untuk setiap periode tumbuh kembang sagu mulai dari abut hingga berbuah. Setelah abut, batang sagu disebut dengan nama ngiso tongkeng. Ketika itu, pokok rumbia telah mulai membesarkan punggungnya. Selanjutnya disebut munggur gajah, yakni batang sagu telah tahu arah tumbuhnya. Selanjutnya dikenal dengan sebutan buang duri, mutih dan ekor buntal. Ketika masa ekor buntal, daun rumbia telah mulai halus dan pendek. Ketika daun rumbia sudah pendek-pendek dan siap dipanen, batang sagu dinamakan nyorong. Episode yang terakhir adalah berbuah.

Umumnya, lanjut Pak Din, batang sagu ditebang ketika ia sudah nyorong. Tapi ini tidak mutlak dilakukan karena tergantung juga pada daerah dan kualitas tanah. ‘’Kadang di lokasi tertentu, jika ditebang saat mutih malah yang justru banyak patinya. Ketika ditebang pas nyorong malah sedikit. Ketika ditebang dan di batang sagu ada warna keabu-abuan, biasanya itu banyak patinya,’’ kata Pak Din.

Menanam sagu bisa dikatakan hemat biaya dan hemat tenaga. Sebab ia relatif tidak perlu dipupuk dan tanpa irigasi. Untuk merawatnya, hanya perlu sesekali ditebas semak-semak di sekitarnya yang dirasa akan mengganggu pertumbuhan sagu. Sagu tak perlu terlalu ‘bersih’ seperti sawit. Tetumbuhan lain seperti pakis-pakisan justru disukai rumbia. Meski jangka waktu panennya cukup lama (antara 8-10 tahun), dengan sistem penanaman dan panen sagu tidak mengenal musim dan bisa dilakukan setiap waktu sehingga ia siap diolah jadi bahan pangan kapan saja. Sekali dipanen, rumbia akan tumbuh tunas dan anakan baru dengan tingkat produksi yang juga tinggi. Budi dayanya juga tergolong mudah dan sederhana jika dibandingkan sawit atau padi. Kini berat satu tual sagu rata-rata mencapai 20 Kg. Dari situ biasanya diperoleh 10 Kg sagu dan 10 Kg repu (limbah sagu). Satu tual panjangnya saat ini rata-rata 40-45 inchi dengan diameter 30 inchi.

Rekam Jejak Sang Maestro

Syafruddin (43) sudah bergelut dengan sagu bahkan sebelum masuk SD. Ketika itu, ia sudah mulai ikut datuknya bekerja sagu. Ayahnya, Haji Muchtar Muhammad, bisa dikatakan adalah seorang maestro sagu di Meranti. Kini, dari delapan orang anak Haji Muchtar hasil penikahannya dengan Hj Soleha Nurhasyim, hanya Syafruddin bersama adiknya Amiruddin lah yang meneruskan usaha kebun dan kilang sagu peninggalan sang ayah yang wafat tahun 1996.

Haji Muchtar adalah seorang legenda sagu di Meranti. Selama kurang lebih 33 tahun, ia tunak menggeluti sagu sekaligus menjadi kepala desa (biasa disapa penghulu). Berkat tangan dinginnya, sagu di Tanah Jantan memiliki perkembangan yang cukup berarti. Ia kerap memberi penataran tentang sagu sehingga masyarakat luas mendapat pengetahuan. Bahkan, banyak para pejabat daerah penghasil sagu lainnya seperti Papua yang datang langsung dan belajar cara pengolahan sagu pada Haji Muchtar. Berkat sagu, ia sampai menerima Upakarti yang diserahkan langsung oleh presiden RI ketika itu, Soeharto pada tahun 1996.

Sebelum menjadi pengusaha sagu hingga memiliki kilang, Haji Muchtar meretas semuanya dari seorang petani sagu. Sekitar tahun 1969-1970, beliau pindah dari Rintis ke Desa Tanjung, lokasi kilangnya saat ini. Tahun 1988-1989 ia mendapat bantuan dari Pemprov Riau berupa satu unit mesin pengolah sagu. Lengkap dengan mesin parut, penghancur, dan pengendap (uba).

Bisa dikatakan, kilang sagu Haji Muchtar adalah kilang sagu milik Melayu yang terbesar. Prediket itu hingga kini berhasil dipertahankan anak-anaknya yang masing-masing memiliki kilang sagu Harapan I dan Harapan II. ‘’Untuk mengenang arwah almarhum Bah, (abah, panggilan lain untuk ayah, red), kami menggunakan merek tepung sagu HMM, singkatan dari Haji Muchtar Muhammad,’’ ungkap Pak Din, panggilan akrab Syafruddin.

Penjualan ke Cirebon yang sebelumnya sempat dihambat-hambat, akhirnya mulai menemui jalan lapang. Tahun 1989-1990, Haji Muchtar baru sanggup memproduksi 25 goni sagu untuk sekali kirim ke Cirebon. Itu sesuai dengan kapasitas tempat jemur yang baru dimilikinya ketika itu. Setelah itu naik dengan kapasitas 100 goni sekali kirim. Haji Muchtar juga menambah lahan kebun sagunya senilai Rp80 juta sekitar tahun 1991. Masih di tahun 1991, Haji Muchtar mulai membangun kilang yang pada tahun 1992 sudah jadi dua kilang karena ia akhirnya sanggup membeli kilang milik warga Tionghoa.

Para pekerja sagu di kilang sagu milik anak-anak Haji Muchtar mendapat upah yang cukup memadai. Mereka bisa menerima upah bersih sekitar Rp30 ribu sehari. Sebulan, mereka bisa mendapat upah bersih setidaknya Rp1 juta. Ini sesuai dengan standar upah minimum provinsi (UMP) yang Rp1.116.000 per. Untuk angka itu mereka mendapat uang makan tiga kali sehari ditambah gaji. Seluruh karyawan tetap juga dimasukkan Jamsostek.

Kenangan Haji Muchtar yang tunak dengan sagu juga masih melekat di benak Tugiman. Menurut mantan penebang sagu ini, meski sudah tiga kali ganti penghulu di Desa Tanjung, tapi tetap tak ada yang mampu menyamai Haji Muchtar. ‘’Saat ini ada bantuan mesin pengolah sagu lengkap dengan rumah-rumahnya. Tapi hingga sekarang tak terpakai. Mungkin kalau Haji Muchtar masih hidup, mesin itu akan jalan, tak menganggur seperti sekarang,’’ ungkap Tugiman.

Bagi sejumlah pengusaha sagu yang berhasil, menyekolahkan anak atau berobat ke luar negeri adalah hal yang biasa. Beberapa orang anak tauke sagu di Meranti kini adalah alumni atau mahasiswa di Jepang, Australia atau Malaysia dengan biaya pribadi. Berada di bibir Selat Melaka juga membuat mereka mudah berobat ke Singapura.

Kuliner Lezat dari Sagu

Selain memproduksi ke Cirebon, di Meranti, sagu telah lama dikenal dibuat berbagai macam makanan yang lezat. Ada mie sagu, cendol sagu, kerupuk sagu, sagu lempeng, kepurun, sepolet, sagu lemak, sagu rendang dan kuih-muih lain yang sedap. Di kedai-kedai kopi di Selatpanjang, menu mie sagu mudah ditemukan. Ditambah dengan ebi dan ikan teri yang rangup, menyantap mie sagu adalah salah satu menu favorit khas Meranti.

Sedangkan sepolet lain lagi. Sepolet adalah cairan tepung sagu yang dimasak bersama ikan teri, ebi, udang basah, lokan, ikan, siput, dan sayur-mayur lokal seperti pakis dan keladi serta ditambah rempah-rempah seperti bawang merah, bawang putih, cabai giling, asam gelugur dan belacan. Makanan kaya protein mirip lem ini enak disantap ketika hangat. Kepurun mirip dengan papeda di Papua. Di mana tepung sagu dimasak terpisah dan disantap dengan gulai.

Sagu lemak punya cara pembuatan yang unik. Untuk membuat sagu lemak, sagu parut diayak dengan ayakan khusus berbentuk segi empat yang terbuat dari kayu dan besi-besi halus memanjang. Setelah digonseng pertama, sagu didinginkan dan diberi santan kelapa, telur, bawang putih dan garam secukupnya. Setelah didiamkan kurang lebih 25 menit sagu digonseng kembali hingga berbentuk butiran-butiran kecil yang renyah. Dalam proses pembuatan sagu lemak, sagu parut juga sempat dibuai dalam ‘ayunan’ khusus yang terbuat dari plastik. Ada salah satu cara memakan sagu lemak yang dikenal di Meranti, disebut menangkup. Yakni mengambil segenggam sagu lemak yang dimasukkan ke mulut dengan cara sedikit melambung.

Bagi anak jati Meranti, sagu tak lagi hanya sebatas sebuah komoditas. Ia telah menjalar ke segala lini kehidupan. Sagu, telah mampu menjadi pemantik yang membuat orang terkenang masa lalu dalam sebuah ruang yang bernama rindu. Bagi kanak-kanak, pelepah rumbia adalah kids station tanpa bayar yang merangsang permainan kreatif imanjinatif seperti kapal-kapalan, jung, perahu, atau senapang. Sagu telah menyulam banyak sisi romantis yang berkait kelindan di dalamnya. Tentang mimpi menyekolahkan anak ke luar negeri, tentang para istri yang menanti suaminya pulang dari menebang sagu berminggu-minggu, atau kerinduan menikmati semangkuk sepolet dan menangkup sagu lemak. Bagi mereka, ada rindu dalam segenggam sagu…***

Check Also

Ke Baitullah Setelah Mengusung Jenazah, Oleh: Purnimasari

Kabar duka itu begitu tiba-tiba. Hampir setiap orang yang mendengarnya langsung terperanjat. Si Fulan telah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *