Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Kepentingan Perut pada Lahirnya, Oleh: UU Hamidy
Foto: stack.com

Kepentingan Perut pada Lahirnya, Oleh: UU Hamidy

Keutamaan terhadap minum-makan (labo kek poruik) bagi puak Melayu Kuantan Singingi dapat dilihat dalam sejumlah tingkah laku budaya, sehingga semakin jelas sosok mereka sebagai satu tipe antropologis puak Melayu. Mereka punya pepatah ‘’makan jangan diagak, salero jangan dipaturuikkan’’ (makan jangan diagak, tetapi selera jangan dipeturutkan).

Maksudnya, kalau makan maka makanlah sampai kenyang. Kalau makan sudah kenyang, tentu perhatian terhadap makanan lain tidak akan seberapa lagi, sehingga orang dapat menghadapi tugasnya dengan tenang dengan tenaga yang memadai. Kalau makan diagak (tidak sampai kenyang) tentu akan timbul lagi nafsu makan selanjutnya. Akibatnya perhatian akan selalu tertuju kepada nafsu minum-makan itu. Ini tentu akan menghalangi bermacam kegiatan lainnya.

Yang berbahaya ialah, selera makan itu dipeturutkan. Maksudnya, sudah makan sesuatu baik sampai kenyang maupun tidak, timbul lagi keinginan untuk memakan yang lain. Hal ini akan menyebabkan pengeluaran untuk minum-makan akan melampaui batas, sehingga akan mendatangkan bencana. Karena itu, setelah kita kenyang makan, maka selera kita untuk makan yang lain janganlah kita turuti.

Satu di antara lambang budi pekerti itu dalam kehidupan budaya di Kuantan Singingi ialah mengajak makan-minum kepada sanak famili dan para tamu yang berkunjung ke rumah kita. Semua tamu sebaiknya diajak minum-makan. Jika kita tidak mengajak minum-makan, walaupun hanya sekadar basa-basi, itu memberi petunjuk kurang berbudi.

Budaya minum-makan itu merujuk kepada dunia perempuan, bukan lelaki. Karena itulah saudara perempuan bagaikan ‘’periuk nasi’’ oleh semua saudara lelakinya. Begitu pula anak saudara perempuan (kemenakan yang perempuan) juga menjadi tempat minum-makan oleh mamak atau pamannya. Kaum kerabat yang jarang memberi apa-apa (terutama bahan makanan) terhadap sesamanya disebut ’’cerdik buruk’’. Ini bermakna, kecerdikannya bukan untuk kebaikan tetapi mendatangkan keburukan terhadap kaum kerabatnya.

Maka ujudlah berbagai ungkapan yang khas mengenai minum-makan ini. Ada ungkapan ‘’malopean tobek‘’ (melepaskan tebat, ikan dapat ditangkap semuanya), yakni melepaskan selera sepuas-puasnya minum-makan. Ada lagi ‘’dihuntal’’, maksudnya dimakan dalam bentuk kepingan besar-besar. Lalu ada lagi ‘’masuk ayam’’ sebagai pengganti makan enak, sebab ayam merupakan satu di antara makanan yang enak. Makanan enak lainnya ialah gulai patin, panggang kuaran, otun udang, panggang paluik, salar lawuak (goreng ikan segar), gulai ngan air (asam pedas) dan sebagainya. Ini memberi bukti wilayah Kuantan Singingi mempunyai kekayaan alam yang melimpah, sehingga anak negeri dapat minum-makan sepuasnya.

Dalam pandangan budaya orang Melayu Kuantan Singingi, ada tiga perkara penting yang dicari manusia di muka bumi ini. Jika ketiga kepentingan ini tidak terpenuhi oleh seseorang, maka orang itu belum lagi menunaikan hidupnya dengan baik. Ketiga perkara itu ialah :

Mencari yang akan busuk
, yakni makanan dan minuman;
Mencari yang lapuk, yakni pakaian dan rumah tempat tinggal;
Mencari untuk esok, yakni amal ibadat untuk esok di akhirat.

Dari tiga rangkaian yang dicari manusia dalam hidupnya ini, jelas sekali kebutuhan minum dan makan menempati tempat pertama yang harus segera ditunaikan. Orang tidak akan bisa berlagak dengan pakaian yang indah dan rumah mewah, jika tidak terpenuhi kebutuhan minum-makan yang memadai. Orang juga tidak akan dapat tentram beramal menjalankan syariat agama, tanpa kebutuhan minum dan makan yang mencukupi.

Kita juga dapat menilai bagaimana nilai denda dalam pelanggaran norma-norma adat. Hampir setiap denda dalam berbagai perkara adat, dilengkapi dengan menyerahkan kelapa setali (dua buah) beras segantang (kira-kira 2,5 Kg) dan ayam seekor, oleh pihak yang kena denda. Dengan tiga macam barang ini, maka pihak yang berselisih, setelah perkaranya diselesaikan oleh pemangku adat, akan disudahi dengan minum dan makan bersama.

Dengan minum-makan bersama antara kedua pihak yang semula ada perselisihan atau yang satu merugikan yang lain, maka hubungan antara kedua pihak ini dapat pulih kembali. Sebab, bukankah kita baru dapat makan bersama, jika antara kita ada persamaan dan hati yang lega serta persaudaraan yang suka sama suka? Mana mungkin bisa minum-makan bersama, apalagi berempat makan di dulang, jika antara sesama yang makan ada perasaan permusuhan.

Hampir tidak ada upacara di Kuantan Singingi, yang tidak akan berakhir dengan minum-makan. Upacara turun ke ladang, mengepung ikan, membuka ladang, menaikkan kuda-kuda rumah, upacara kematian, turun mandi anak, khatam Quran, sunat rasul dan banyak lagi, semuanya memasukkan minum-makan sebagai salah satu acara yang penting. Tentulah oleh tipologi ini, banyak ibu rumah tangga di rantau ini yang sering menyediakan atau memasak makanan dalam jumlah berlebihan (sebab khawatir tak cukup atau tak kenyang). Akibatnya sering makanan itu menjadi terbuang, karena basi dan rusak.***

(Masyarakat Adat Kuantan Singingi, UU Hamidy)

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *