Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Kegiatan Tuan Guru Abdurrahman Siddik bin Muhammad Apip di Indragiri (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy
Makam Tuan Guru Abdurrahman Siddik di Parit Hidayat, Sapat, Kuala Indragiri, Indragiri Hilir, Riau. Foto: tripriau.com

Kegiatan Tuan Guru Abdurrahman Siddik bin Muhammad Apip di Indragiri (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy

Kitab syair yang dikarangnya telah dirangkai dengan mengambil pedoman kepada hadist-hadist Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Kitab ini memakai dua macam tulisan, Arab-Melayu dan Latin. Pada bagian atas kitab dalam tulisan Arab-Melayu tertulis Syair Ibarat dan Khabar Akhirat, sedangkan di bagian bawah tertulis dalam huruf Latin (dengan huruf kapital) Jalan untuk Menuju Keinsyafan.

Syair ini sarat dengan nasehat, terlena oleh dunia yang maya ini, sehingga lupa kepada akhirat sebagai negeri yang terakhir daripada perjalanan manusia. Dalam pandangan Tuan Guru (Ulama) Abdurrahman Siddik, dunia hendaklah diimbangi dengan akhirat. Dengan perkataan lain, nafsu untuk merebut dunia dalam bentuk dahaga kepada harta benda, perempuan dan kekuasaan serta kemewahan lainnya, hendaklah diimbangi dengan perbuatan amal saleh dan ketaatan mengerjakan amal, sehingga yang makruf tetap tegak sedangkan mungkar disingkirkan.

Jika sampai terjadi berat sebelah, maka jangan sampai yang berat itu belahan dunia tetapi sebaiknya yang berat itu belahan akhirat. Orang yang terakhir inilah yang bisa meningkatkan martabatnya dari syariat kepada tarikat, dan terus menanjak kepada hakikat dan ma’rifat. Karena itu, untuk menjelaskan bahwa dunia ini pada prinsipnya adalah maya atau kesementaraan semata, mendapat perhatian yang awal dalam syair itu.

Waba’du dengarkan suatu cerita
Terbit daripada hati yang duka
Bukan hamba mengada-ada
Supaya dikenal saudara kita

Suatu cerita hamba khabarkan
Kepada sekalian ahli dan ikhwan
Tandanya dunia akhir zaman
Orang yang salah dapat kebenaran

Demikian pula orang yang benar
Mendapat salah perbuatan tawar
Menyatakan benar mendapat gusar
Melainkan wajib ridha dan sabar

Kemudian mulailah ulama ini memberikan peringatan:

Angan-angan janganlah terlalu panjang
Kasihkan dunia bukan kepalang
Diri kita tidaklah sayang
Di mahsyar titian halus terbentang

Lalu beberapa nasehat dan panduan akhlak, misalnya:

Kekurangan harta jangan kesakitan
Jual dan beli yang dipikirkan
Makan pagi dikira-kirakan
Umur berkurang tiada diingatkan

Hawa nafsu itu terlalu bohong
Haus yang dirasa hendak disongsong
Lautan luas ombak menggulung
Di manakah engkau mendapat untung

Siapa meninggalkan sembahyang zuhurnya
Serasa membunuh Nabi sekaliannya
Dipicikkan Allah pintu rezkinya
Tiada diterima segala doanya

Jikalau berjualan atau berdagang
Segala perempuan jangan dipandang
Karena memandang sangatlah fitnah
Hendaklah dia banyak masalah

Setelah Tuan Guru Abdurrahman Siddik meninggal dunia, masih ada beberapa ulama yang muncul di Indragiri, antara lain Kyai Haji Abdurrahman Ya’kub (1912-1970) yang juga mengarang beberapa kitab. Ulama ini membuka madsarah di Sungai Gergaji.

Kemudian ada pula yang bernama Haji Kasim, yang membuka madrasah di Lahang, Kecamatan Gaung Anak Serka. Haji Kasim adalah anak jati Siberakun, Rantau Kuantan. Beliau lahir pada 1904 dan wafat di Teluk Kuantan pada tahun 1967 dalam usia 63 tahun dan dimakamkan di pemakaman umum Desa Beringin, Teluk Kuantan.

Haji Kasim mendirikan sekolah dasar Muhammadiyah Cabang Khusus Yogyakarta di Desa Jerambang, Lahang, Gaung Anak Serka, Indragiri Hilir. Sebelum bermukim di Jerambang, tokoh yang juga bergelar Tengku Rendah ini telah berdakwah ke negeri di sepanjang Batang Kuantan, Pulau Midai bahkan hingga ke Selangor, Malaysia.

Ketika pindah ke Parit Lambak, surau sederhana miliknya dibuka menjadi sekolah pada pagi hari yang mengajarkan membaca dan berhitung. Murid-muridnya adalah anak-anak yang belajar mengaji pada malam hari. Dengan peralatan belajar sederhana, yakni murid menggunakan batu tulis dan guru menggunakan papan tulis dari kayu pulai dan arang kayu sebagai kapur tulis, sekolah ini kian berkembang. Apalagi setelah Haji Kasim dibantu oleh kedua menantunya sebagai tenaga pengajar.

Cita-cita Haji Kasim mulai menampakkan titik terang ketika ia membuka lahan perkebunan kelapa di ujung Parit Jerambang. Lahan yang luas itu disediakannya sebagai lokasi bangunan sekolah dan lapangan bola. Keinginan Haji Kasim mendirikan sekolah disokong oleh warga kampung dengan memberikan sumbangan sedaya upaya mereka.

Sekolah itu berdiri tahun 1955. Untuk tempat tinggal murid yang berasal dari jauh telah disediakan asrama. Hasil kebun kelapa Haji Kasim yang luas itu digunakan untuk membiayai sekolah. Pada tahun 1959, dengan bantuan masyarakat, sekolah itu pun kian besar dan bahkan sudah memiliki guru dari berbagai daerah seperti Sumatera Barat, Palembang dan Lampung.

Tetapi Tuan Guru Abdurrahman Siddik tampak melebihi ulama-ulama lain. Hal ini terbukti daripada sikap masyarakat terutama masyarakat Banjar di Indragiri Hilir yang sering mengunjungi kuburan beliau di Parit Hidayat, dekat kota Kecamatan Sapat, sehingga kuburan itu bagaikan kuburan keramat.***

(Islam dan Masyarakat Melayu di Riau, UU Hamidy)

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *