Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Keagungan Tuhan dalam Tingkahlaku Budaya (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy
Foto: madeenah.com

Keagungan Tuhan dalam Tingkahlaku Budaya (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy

Kemampuan daya cipta Tuhan sungguh tak dapat diduga. Dalam Hikayat Tengkorak Kering (versi lain dari Hikayat Raja Jumjumah) dikisahkan bagaimana qudrat dan iradat Allah, dapat menghidupkan kembali tengkorak yang sudah kering. Dalam Hikayat Tengkorak Kering yang telah menjadi semacam cerita rakyat di Riau, dapat antara lain dijumpai bait-bait puisi yang mengekspresikan kebesaran Allah itu.

Takdir Allah Tuhan yang kaya
Mu’jizah Isa Rasul Ilahi
Tengkorak berkata sebentar itu
Dengan Nabi Isa Pesuruh Allah

Tengkorak bersaksi kepada Tuhan
Tidak nan tuhan melainkan Allah
Sesungguhnya Isa Pesuruh Allah
Khalifah Allah di atas dunia

Dalam keagungan atau kebesaran kekuasaan Tuhan ini, orang Melayu mempunyai tekanan yang khas dalam bidang rezeki. Rezeki itu meskipun harus diikhtiarkan oleh setiap orang, tetapi tentang keputusan banyak sedikitnya, tetaplah hak Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena itu rezeki belum tentu akan ditambah oleh Tuhan karena kita taat, atau berkurang karena kita engkar.

Tetapi yang lebih utama dalam masalah rezeki ini bagi orang Melayu ialah berkahnya, bukan jumlahnya. Harta yang banyak belum tentu dapat memberikan kebaikan, malah bisa menjadi beban dan bencana, jika tidak ada berkah dari Tuhan. Sebab itu harta benda pertama-tama dicari hendaklah dalam jalan Allah, dan sebenarnya cukuplah dicari sekadar yang diperlukan saja, sebagaimana dibayangkan oleh Nazam Kanak-kanak di bawah ini.

Adapun rezeki tiap-tiap kita
Tidak bertambah sebab dia taat
Tidak berkurang sebab maksiat
Minum dan makan sekadar hajat

Tolan sahabat cobalah pandang
Hendaklah lihat setengah orang
Tulangnya lemah akalnya kurang
Rezeki bertambah pula dipandang
Untuk beramal dan beribadah

Setengah orang pula dilihat
Tulangnya gedang berapa kuat
Dapat rezeki sekadar hajat
Itu tandanya rezeki tersurat

Begitu agung-Nya Tuhan sehingga apapunjuga berada dalam ilmu-Nya. Segala sesuatu berada dalam kekuasaan-Nya, semuanya adalah ciptaan-Nya, maka memang benarlah Dia harus diseru, dipuja dan disembah oleh seluruh isi alam raya ini. Maka tiap makhluk telah mempunyai cara menyembah atau menyeru Tuhan.

Tapi karena manusia dipandang sebagai makhluk yang mulia, apatah lagi kemuliaan Tuhan mengatasi segala ciptaan-Nya, maka manusia hendaklah menyembah Tuhan dengan cara yang mulia pula. Cara yang mulia itu telah ditentukan-Nya melalui kitab suci Al Quran, yang telah dicontohkan dengan sempurna oleh Utusan-Nya, Nabi Muhammad Saw.

Ruak-ruak di dalam padi
Iya diberi berjambur sutra
Surat Qur’an ditinggalkan Nabi
Untuk memuji Tuhan kita

Lutuk-letak tebing seberang
Orang memanggang tulang rusa
Lungguk-longgak orang sembahyang
Orang memuji Tuhan kita

(Ketakwaan Orang Melayu, UU Hamidy)

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *