Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Keagungan Tuhan dalam Tingkahlaku Budaya (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy
Foto: wahdah.or.id

Keagungan Tuhan dalam Tingkahlaku Budaya (Bagian 1), Oleh: UU Hamidy

Dalam tingkahlaku budaya puak Melayu di Riau, cukup kentara suatu kesan atau sikap budaya yang memandang bahwa tiap pekerjaan hanya akan mendapat keselamatan jika dilakukan dengan ikhlas. Tiap pekerjaan harus dimulai dengan ucapan ‘’bismillah’’, melakukan pekerjaan dengan niat karena Allah, mengharapkan pertolongan serta petunjuk-Nya.

Tingkahlaku budaya serupa itu memberi kesan pengakuan bahwa segala pekerjaan, usaha, dan apapun juga daya upaya kita, semuanya bergantung kepada kekuasaan Tuhan. Sebab itu, ketika orang Melayu menghadapi sesuatu yang tak sanggup lagi dihadapinya, mereka segera mengucapkan ‘’Laa haula wala quwwata ila billah’’ (tiada daya dan kekuatan kecuali dengan kekuatan Allah).

Karena Tuhan tak diragukan lagi kekuasaan dan keagungan-Nya, maka tentulah masalah rezeki terpulang kepada Dia. Rezeki kita ya untuk kita juga, tidak akan jatuh kepada orang lain. Hubungan antara rezeki dengan hidup diperlihatkan dalam bentuk hidup yang menjamin rezeki, bukan rezeki (materi, benda-benda) yang menjamin hidup. Sebab dalam pandangan puak Melayu, selagi ada nyawa (hidup), niscaya masih ada rezeki oleh Tuhan.

Sejajar dengan itu, orang Melayu di Riau juga puna sikap budaya bahwa ‘’penyakit tidak membunuh dan obat tidaklah menyembuhkan’’. Hal itu sejajar dengan air yang pada hakikatnya tidak membasahi (seperti tampak pada peristiwa Nabi Musa) dan api yang hakikatnya tidak menghanguskan (seperti tampak dalam peristiwa kehidupan Nabi Ibrahim). Dengan sikap serupa itu, maka dalam budaya Melayu tidak ada istilah penyakit maut atau penyakit yang mematikan. Sebab demi keagungan Tuhan –mereka yakini—Dia-lah yang menyembuhkan dan Dia pulalah yang mematikan.

Obat dalam pandangan orang Melayu hanyalah ikhtiar. Ikhtiar itu sebaiknya dilakukan, tapi siapa yang tidak suka, juga boleh tidak melakukannya. Jika obat hanya dipandang sebagai daya upaya, maka obat itu hanya akan menjadi penyebab (oleh Tuhan) untuk penyembuhan sesuatu penyakit.

(Tuhan tetap mampu menyembuhkan penyakit tanpa obat). Sebab itu, ketika suatu obat akan diberikan, maka hendaklah obat itu ditawari dengan nama Allah, karena penyembuhan oleh obat itu tetaplah ditentukan oleh Allah. Jadi ikhtiar terletak pada potensi budaya manusia, sedangkan untung atau hasilnya Tuhanlah yang akan menentukan.

Karena segala hasil tingkahlaku budaya pada hakikatnya bergantung kepada Allah, sedangkan pada manusia ada kewajiban untuk berikhtiar, maka dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan semestinya (dalam pandangan ideal orang Melayu di Riau) tidaklah perlu ragu-ragu. Meskipun dalam kehidupan kadangkala kita akan berhadapan dengan risiko yang maha besar, namun apapun juga tetaplah hanya akan terjadi dengan izin Tuhan, sehingga orang Melayu mengatakan ‘’sebelum ajal berpantang mati’’, suatu ucapan yang mungkin diambil dari ucapan Ali bin Abi Thalib.

Oleh pandangan inilah, dalam masa agresi Belanda misalnya, cukup banyak pemuda dan kalangan lelaki yang sudah berumahtangga, terpanggil jiwanya untuk menjadi gerilya (1948-1949) menghadapi tentara Belanda, yang sebagian rupanya adalah orang Indonesia itu sendiri. Jadi ucapan itu telah mampu menimbulkan semangat jihad.

Marilah kita lihat lebih lanjut manifestasi keagungan Tuhan itu dalam beberapa puisi puak Melayu di Riau. Bagaimana keagungan Allah mengatasi segala-galanya, dapat dibendangkan oleh sebait pantun dalam seni sastra berdah seperti di bawah ini.

Rotan seni dibelah empat
Pucuk menjulai ke seberang
Tuhan dicari tak kan dapat
Tuhan berlindung di tengah terang

Pantun itu juga hendak mengungkapkan bahwa Tuhan yang bernama Allah itu bukanlah jauh dari kita. Kita tak perlu mencarinya ke mana-mana. Dia bukan bersembunyi. Namun alam yang terang-benderang ini dapat dijadikan-Nya tempat berlindung.

Keagungan Tuhan yang begitu rupa, tiada taranya, telah menyebabkan Tuhan itu dapat menguji kebenaran atau amal perbuatan manusia dengan benang sehelai atau Shiratal Mustaqim. Siapa yang dapat meniti benang yang halus bagaikan mata pisau itu, niscaya dia orang yang benar atau orang yang bertakwa kepada Allah. Jika tidak mempunyai ketakwaan melalui ibadah dan amal saleh, dia akan jatuh ke dalam neraka. Keadaan ini dipantunkan lagi dalam puisi-puisi Melayu di Riau.

Elok benar kepuran seda
diampai di pangkal titi
Elok kita menyembah Allah
Benang sehelai kan kita titi

(Ketakwaan Orang Melayu, UU Hamidy)

Keagungan Tuhan dalam Tingkahlaku Budaya (Bagian 2), Oleh: UU Hamidy

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *