Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Karut Budaya, Oleh: UU Hamidy

Karut Budaya, Oleh: UU Hamidy

Allah Ta’ala menciptakan hidup dan mati untuk menguji manusia, siapakah yang terbaik amalnya. Ternyata kebanyakan orang Melayu tak mampu memahami dengan akal sehat. Kebanyakan orang Melayu hanya mengurus hidupnya untuk dunia, tak menghiraukan dia akan menemui ajal. Padahal Allah telah mencela kebanyakan manusia yang membangkang, bodoh tidak berpikir, tidak bersyukur, lalai akan kebenaran dan mempermainkan kebenaran. Manusia yang tidak memahami makna hidup dan mati telah menjadikan dunia sebagai tanah air. Tenggelam oleh dunia sehingga baru sadar setelah nyawa di tenggorokan atau berada di dalam kubur. Dunia menjadi tujuan hidup, lalu membuat barang apa saja yang laku dijual. Hampir tak pernah terlintas dalam hatinya berbuat kebajikan. Lihatlah, berbagai pertemuan yang dilakukan partai, organisasi, perusahaan dan badan pemerintah, menghabiskan waktu, tenaga dan uang, telah melalaikan mengerjakan salat, yang hanya memerlukan waktu bilangan menit.

Orang Melayu itu semakin merugi, karena hasil berbagai pertemuan itu malah mengabaikan peringatan Alquran dan As-sunnah, karena membuat peraturan dengan tidak merujuk kepada perintah dan larangan Allah, menyimpang dari tuntunan Nabi Saw. Tingkahlaku budaya serupa ini hampir tidak pernah mendapat kritik atau perhatian dari kalangan akademisi perguruan tinggi Islam. Perguruan tinggi Islam sebenarnya harus memainkan peranan, memantau perjalanan hidup umat. Kenyataannya tidak demikian, karena perguruan tinggi Islam, juga sudah digedor oleh demokrasi sekuler, sehingga memandang ilmu dunia sebagai pusat kegiatan manusia. Mereka hampir tak menyadari, bahwa ilmu yang sebenarnya ilmu dan ilmu yang paling tinggi lagi utama, adalah ilmu mengenai Alquran dan As-sunnah.

Budaya orang Melayu telah mengikuti lenggang budaya dunia memberi peluang kepada kesenian untuk melalaikan diri mengingat Allah. Seni telah menjadi karut setelah membuat manusia lupa makna hidup dan mati. Betapa tidak, sebab seni telah tampil sebagai penghibur untuk melupakan penderitaan dan kesulitan. Padahal penderitaan dan kesulitan itu harus diakui sebagai peringatan Allah, agar manusia kembali pada jalan yang lurus. Dengan tampilnya seni memberikan hiburan, segala akibat pekerjaan maksiat malah dilupakan. Bukan dipikirkan dan direnungkan. Inilah karut budaya yang membuat hati nurani jadi tumpul, sehingga walaupun matanya melihat tetapi hatinya buta. Simaklah sebagai contoh, berbagai pertunjukan seperti konser musik, tayangan film dan panggung teater, kebanyakan tidak mampu menyentuh kalbu dengan cahaya iman. Ini terjadi karena sebagian besar pertunjukan itu tidak dirancang untuk menggugah semangat agar beribadah kepada Allah. Maka Alquran telah membidas, bagaimana para penyair atau seniman diikuti oleh orang-orang yang sesat, suka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan.

Bersebelahan dengan seni, muncul lagi pendatang baru dunia olah raga. Olah raga telah menjadi perhatian dunia, karena juga tampil sebagai pertunjukan. Maka sepak bola telah tampil sebagai olah raga dunia yang paling memukau. Untuk menonton sepak bola, banyak orang meninggalkan pekerjaan, tidak istirahat dan tidur, sehingga juga ringan hati melalaikan kewajiban menyembah Tuhannya. Penonton di stadion sering mengamuk dan berkelahi, karena tak dapat lagi berpikir waras. Karut budaya ini telah menghancurkan nilai-nilai kehidupan Melayu.

Dengan demikian, kebanyakan manusia tidak memahami bahwa hakekat dunia sebenarnya adalah medan ujian bagi hidup dan mati. Dia harus menyadari, sebenarnya dunia ini memasang jerat dari segala penjuru serta tipu daya pada tiap ruang dan waktu, sebagaimana budaya punya karut mengotori kehidupan manusia. Jika manusia hanyut dan terlena oleh budaya dunia, dia akan hidup bagaikan binatang, yang lingkaran hidupnya hanya sebatas makan, tidur dan berkelamin. Diandaikan bagaikan binatang, karena manusia sebenarnya dengan akal pikirannya, punya kebebasan untuk memilih, sehingga dapat membatasi dirinya dari perbuatan yang akan merugikan dirinya dengan menerima kebenaran Allah, sehingga punya pedoman hidup yang benar. Tapi karena godaan dunia terhadap hawa nafsu begitu hebat, manusia yang malang itu akalnya dikalahkan oleh nafsunya, sehingga bagaikan binatang yang hanya mengikuti dorongan biologisnya. Dia kehilangan akal sehat, karena mengikuti budaya dunia, terbawa oleh arus selera orang banyak yang mabuk oleh budaya demokrasi sekuler. Jika pada dirinya ada secercah iman, maka dia tetap menunda-nunda untuk beramal, karena sibuk dengan urusan dunia mengenai harta dan anak-anaknya.

Begitulah kebanyakan jalan hidup yang ditempuh oleh bani Adam terutama orang Melayu yang telah mendapat seruan jalan yang lurus dari agama Islam. Mula-mula manusia mempermainkan dunia, tetapi kemudian keadaan jadi berbalik, justru dunialah yang mempermainkan manusia. Semula manusialah yang membuat budaya dan tradisi, tetapi kemudian budaya dan tradisilah yang mempermainkan manusia. Dengan demikian, jelaslah dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, jika tidak digunakan untuk berbuat amal saleh. Kalau hal ini tidak disadari oleh orang Melayu, maka dia akan hanyut dari satu permainan kepada permainan berikutnya, tertawa terbahak-bahak sampai lupa diri. Dan itu baru akan berakhir setelah merah tanah pekuburan.

Manusia terlena oleh permainan dunia, bahkan seperti kena sihir, karena tak punya lagi akal sehat yang akan menjadi wadah menerima hidayah dari Allah Yang Maha Penyayang. Inilah punca kehancuran hidup sebagian besar umat manusia. Dengan sifat tergesa-gesa, manusia dijerumuskan oleh hawa nafsunya yang selalu minta segera dipuaskan. Sementara untuk mendapat cahaya kebenaran, memerlukan kesabaran dan pikiran yang jernih. Jika insan itu mau melihat kenyataan dengan hati yang sabar, bagaimana manusia lahir, hidup dan mati terjadi sepanjang waktu, niscaya akan mengundang datangnya petunjuk Allah. Sebab Allah bersama dengan orang yang sabar, sementara tergesa-gesa hanya membuat insan itu tergelincir dengan mudah oleh setan. Kalau manusia tak menyadari bahwa dia diuji oleh Allah dengan hidup dan mati, maka niscaya hidupnya akan merugi karena dia tidak akan menunaikan hidupnya dengan beramal beribadah kepada Allah.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *