Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Bahasa dan Sastra / Karena Sungai Siak, Biaya Penelitian jadi Tiga Kali Lipat, Oleh: UU Hamidy
Foto: suaralira.com

Karena Sungai Siak, Biaya Penelitian jadi Tiga Kali Lipat, Oleh: UU Hamidy

Pulang dari Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial (PLPIS) di Aceh tahun 1974, UU Hamidy langsung mendapat tantangan pada tahun 1975 untuk mengambil bagian dalam Proyek Penelitian Komunikasi Pedesaan dari Kementerian Penerangan Republik Indonesia. Proyek nasional ini diserahkan oleh pemerintah kepada Lembaga Studi Pedesaan dan Kawasan (LSPK) Universitas Gadjah Mada yang dikemudikan oleh Prof Dr Sartono Kartodirjo. Untuk meneliti wilayah Indonesia bagian Barat, Prof Sartono mempercayai UU Hamidy untuk mengambil peranan melakukan penelitian dan kajian.

Tugas meneliti komunikasi pedesaan wilayah Indonesia bagian Barat ini diterima oleh UU Hamidy dengan membentuk Tim Peneliti Daerah yang terdiri dari sepuluh orang mahasiswa untuk tenaga menjalankan kuesioner di lapangan. Para mahasiswa yang menjalankan kuesioner ini akan didampingi oleh dua orang dosen sebagai tenaga koordinasi serta melapangkan tugas di lapangan. UU Hamidy memilih daerah Rantau Kuantan sebagai sampel penelitian karena daerah itu relatif kaya ragam budayanya. Setelah tim ini mendapat arahan seperlunya, maka turunlah ke lapangan selama satu minggu.

Sebelum turun ke lapangan, Prof Sartono datang ke Pekanbaru untuk bertemu dengan tim peneliti, menyampaikan selamat bekerja sambil memberikan lagi berbagai saran dan bimbingan, agar penelitian ini dapat berjalan lancar. Di Pekanbaru, selepas waktu Maghrib, UU Hamidy dengan tim peneliti mengajak Prof Sartono makan malam di rumah makan Pelita Pantai yang berada di tebing sungai Siak. Dari meja makan Pelita Pantai kita dapat dengan mudah melihat bagaimana sungai Siak mengalir dengan wajah yang cukup menakjubkan, sebab sungai tersebut (ketika itu) sedang berada mendekati banjir.

Maka, mereka makanlah bersama pada meja makan masing-masing. Kebetulan dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, meja makan Pak Sartono berada di tepi sehingga dengan mudah memandang bagaimana gelora aliran sungai Siak. Sambil makan dan bercakap-cakap itu, Pak Sartono terpandang kepada gelora aliran sungai Siak yang akan mendatangkan banjir.

Dia sangat kagum, karena agaknya belum pernah melihat sungai seperti itu. Lalu dia bertanya kepada UU Hamidy bagaimana perjalanan menuju lapangan penelitian. UU Hamidy mengatakan bahwa tim peneliti akan menyewa mobil sampai ke lapangan. Dari Pekanbaru ke Rantau Kuantan, mobil yang mereka tumpangi akan menyeberang memakai rakit. Maka ada tiga kali menyeberang yang akan melalui sungai seperti sungai Siak itu.

Mendengar cerita mobil akan menyeberang pakai rakit melalui sungai sebesar itu, Pak Sartono benar-benar amat khawatir akan keselamatan para peneliti, pergi dan pulang dari Pekanbaru ke Rantau Kuantan. Dia langsung minta periksa kepada Bendaharawan yang ikut bersama dia yakni Pak Slamet, berapa anggaran biaya perjalanan untuk penelitian ini.

Prof Sartono memberitahukan biaya perjalanan yang disediakan kepada UU Hamidy. UU Hamidy menyambut baik ucapan Prof Sartono dan langsung mengatakan bahwa in syaa Allah biaya itu cukup memadai bagi mereka.

Tapi rupanya Pak Sartono segera sadar, bahwa belanja transportasi yang dibuat oleh Kementerian Penerangan itu adalah dengan dasar perjalanan di pulau Jawa. Tak terbayangkan, seperti yang akan berlaku di Riau. Dengan tanpa ragu-ragu Pak Sartono langsung memberitahukan kepada UU Hamidy bahwa anggaran perjalanan pulang balik ke lapangan untuk daerah Riau akan dinaikkan menjadi TIGA kali lipat.***

Check Also

Kenangan Selama Merantau di Aceh, Oleh: UU Hamidy

Allah Yang Maha Bijaksana telah menurunkan Al-Qur’an untuk pelajaran, pedoman, dan petunjuk bagi orang yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *