Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Jika Suatu Negeri, Oleh: UU Hamidy

Jika Suatu Negeri, Oleh: UU Hamidy

Umat manusia yang berada si bawah tempurung demokrasi sekuler sangat tergoda oleh kesenangan hidup dunia. Untuk mendapatkan kesenangan dunia yang palsu itu, manusia yang sombong lagi pembangkang ini telah mempergunakan akal pikirannya membuat berbagai teknologi untuk memperoleh kesejahteraan.

Tetapi meskipun pada zahirnya mereka hidup bersenang-senang dengan kekayaan hasil ilmu dan teknologi, namun mereka tidak mendapat ketenangan batin. Makin hebat teknologi dan kekayaan yang dicapai, mereka makin gelisah. Manusia dalam alam demokrasi sekuler telah melakukan kesalahan metodologi yang fatal. Mereka menghandalkan kerja keras dengan ilmu dan teknologi untuk mendapatkan kesejahteraan. Padahal di sisi Allah yang menguasai alam semesta serta hidup dan mati sekalian makhluk, hal itu tidak bernilai. Walaupun hanya setipis kulit ari.

Apapun yang terjadi yang menimpa umat manusia serta alam semesta ini seisinya, semuanya berada dalam ketentuan rancangan Allah Yang Maha Bijaksana. Tanpa kudrat dan iradat Allah, tak ada satu peristiwa atau perubahan dapat terjadi. Segala sesuatu berada dalam genggaman Allah serta tunduk dan patuh kepada-Nya.

Maka Allah telah memberi petunjuk yang benar dengan Alquran yang disampaikan kepada umat manusia oleh Nabi Muhammad Saw, bagaimana mendapatkan kesejahteraan hidup yang diridhai oleh Allah Swt. Manusia hanya meminta tolong kepada Allah dengan salat dan sabar. Bukan kutung-katang minta bantuan kepada manusia, minta berhutang dan bantuan teknologi, yang pada hakikatnya tidak berdaya sama sekali.

Allah menjamin, jika suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah dilimpahkan berkah oleh Allah kepada mereka dari langit dan Bumi. Siapa yang pasti menepati janji selain Allah, karena Allah mustahil tidak menepati janji. Ini sudah terbukti dalam sejarah Nabi Musa As dengan umatnya yang langsung mendapat makanan berupa manna dan salwa turun dari langit, tanpa mereka kerja keras sama sekali.

Jadi menyelesaikan perkara kepentingan dunia tidaklah dengan dengan sudut pandang dunia yang hanya bersandar kepada ilmu dan teknologi. Cara itu tak memadai, sebab manusia hanya diberi ilmu sedikit oleh Allah. Itu bukanlah cara yang benar di sisi Allah. Mencari kesejahteraan bertolak dari ilmu dan teknologi tidaklah logis. Perbuatan itu bagaikan minta air tanpa gelas, kepada gelas tanpa air. Sebab yang mendatangkan kesejahteraan adalah Allah dengan mendatangkan rahmat-Nya.

Kenyataannya, manusia yang bersandar kepada demokrasi sekuler telah mencari kesejahteraan dan keamanan dengan menghandalkan ilmu dan teknologi. Tetapi terbukti mereka tak dapat merasa sejahtera dan aman. Teknologi yang mereka buat malah mendatangkan bencana bahkan mengancam manusia itu sendiri.

Perhatikan bagaimana sekarang ini upaya dunia mendapatkan tatanan dunia yang sejahtera dan aman dengan cara mencampakkan hukum Allah Yang Maha Bijaksana. Hasilnya hanyalah rangkaian krisis pada semua sektor kehidupan, peperangan bahkan penjajahan. Amerika dan sekutunya serta yang berada di bawah ketiaknya tak dapat hidup tentram. Sebab selalu merasa terancam oleh musuh yang mereka sebut teroris.

Jika demikian, hanya apa nilai teknologi yang canggih dan kekayaan dunia yang mereka kumpulkan siang dan malam. Mereka terperangkap oleh dunia yang mereka kejar, lalu mendapat siksa karena perbuatannya mendustakan ayatayat Allah. Dengan demikian, umat manusia harus sadar dan yakin bahwa yang mengatur Bumi,alam semesta dan seisinya adalah Allah Yang Maha Perkasa. Hanya Dia yang dapat mendatangkan rahmat maupun bencana. Bukan manusia apalagi alam.

Karena itu jika suatu negeri ingin hidup sejahtera, jalan yang harus ditempuh ialah beriman dan bertakwa kepada Allah. Kemudian berbuatlah sesuai dengan Syariah Islam, karena itulah aturan yang bersandar pada Alquran dan Sunnah Nabi Saw. Inilah yang akan menyelesaikan segala perkara kehidupan umat manusia. Inilah satu-satunya jalan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun akhirat. Selain jalan ini hanya akan mengundang malapetaka. Tanpa jalan yang benar itu, segala ikhtiar mencari kesejahteraan hanyalah bagaikan mengejar debu yang beterbangan.***

 

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *