Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Jaring Laba-Laba, Oleh UU: Hamidy

Jaring Laba-Laba, Oleh UU: Hamidy

Sudah dekat hari kiamat, tapi manusia ternyata masih tetap lalai bahkan berpaling. Mereka hampir tak pernah membayangkan nasib malang yang akan menimpanya. Manusia bermain-main dengan hidupnya. Terlena oleh dunia dengan kesenangan yang menipu. Dia telah diciptakan oleh Tuhan sebaik-baik makhluk. Namun keadaan itu tak digunakan sebaik-baiknya untuk mendapat keselamatan. Allah Maha Pemurah telah memberinya dua kemampuan ragawi, yaitu panca indera dan potensi budaya. Dengan dua macam pemberian itu manusia sudah dapat mengurus kepentingan hidupnya sebatas dunia ini. Sunggguhpun begitu penciptaan umat manusia oleh Tuhan tidak hanya sebatas itu. Yang lebih utama dari itu manusia akan menuju kehidupan yang kekal di akhirat. Perjalanan menuju akhirat ternyata tidak bisa diselesaikan hanya dengan panca indera dan potensi budaya. Akal pikiran manusia ternyata kandas memecahkan misteri hidup dan mati serta rahasia alam gaib.

Allah Maha Bijaksana memberi jalan kepada manusia agar dapat selamat dalam menempuh hidupnya. Allah turunkan Alqur’an untuk pedoman hidup manusia. Alqur’an kitab yang tiada keraguan akan kebenarannya telah datang member pelajaran, penyembuh bagi penyakit, petunjuk dan rahmat bagi orang yang beriman. Untuk menjelaskan dan memberi contoh bagaimana memakai Alqur’an menjadi pedoman hidup, Allah Swt telah mengutus Rasul-Nya yakni Nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad Saw telah memberi contoh bagaimana Alqur’an menjadi pedoman hidup dalam segala sisi kehidupan. Karena itu Sunnah Nabi Saw tak dapat dipisahkan dengan Alqur’an. Nabi Muhammad Saw adalah satu-satunya suri teladan bagi umat manusia yang ingin mendapat keselamatan di dunia dan akhirat. Karena itu pula pemakaian Alqur’an yang terbentang melalui Sunnah Nabi Saw menjadi rahmat bagi segenap alam. Sebab dengan panduan tersebut umat manusia jadi mulia sedangkan alam semesta terpelihara memberikan kesejahteraan bagi umat manusia.

Alqur’an telah datang kepada umat manusia sebagai pembeda antara yang benar dengan yang batil, antara yang lurus dengan yang sesat, antara yang haram dengan yang halal, antara yang makruf dengan yang mungkar serta banyak lagi yang dijelaskan melalui hukum Islami atau Syariah. Syariah itulah dasar nilai untuk menentukan baik dan buruk. Jika sesuai dengan Syariah diterima atau dilaksanakan, jika tidak sesuai ditolak. Namun Allah Maha Perkasa, tidak memaksa umat manusia menerima Alqur’an sebagai pedoman hidup. Allah Maha Lemah Lembut kepada hamba-Nya, memberi peluang untuk memilih dan menentukan sikap. Karena semuanya sudah jelas, maka yang mau menerima (beriman) silakan, sedangkanyang mau menolak atau kafir juga terserah.

Kesempatan memilih ini telah menjadi celah bagi umat manusia untuk membangkang. Mereka tidak menjadikan Alqur’an dan Sunnah menjadi pedoman hidup. Manusia sebagai makhluk yang suka membantah, mendahulukan akal daripada Syariah serta mengalahkan akal sehat dengan hawa nafsu. Inilah yang menjadi pangkal bala yang mendatangkan malapetaka baginya. Mereka mengambil pedoman hidup dari hasil akal pikirannya yang lazim disebut filsafat. Maka hampir tiap suku atau bangsa punya filsafat hidupnya sendiri. Ini jadi kebanggaan serta dipandang sebagai pembeda dengan bangsa lain. Pandangan hidup yang demikian telah membuka jalan kepada pemakaian hukum. Hukum yang berlaku tidak Syariah Islam yang kaffah, tetapi hukum buatan manusia. Karena itu yang jadi suri teladan bukan lagi Junjungan Alam Nabi Muhammad Saw, tetapi pahlawan bangsa atau para filosof bangsa itu. Malah para bintang atau selebritis serta pemain sepak bola jadi pujaan oleh kebanyakan anak muda sekarang ini.

Menolak Alqur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup dan meremehkan Nabi Muhammad Saw jadi suri teladan bermuara pada menafikan Syariah Islam untuk mengatur kehidupan, telah mendatangkan bencana pada umat manusia. Pada satu pihak umat manusia telah terkotak-kotak oleh kesatuan bangsa dengan hukumnya masing-masing. Pada pihak lain telah menyebabkan bercerai-berai, menimbulkan perselisihan, peperangan dan penjajahan. Untuk mengatasinya umat manusia membuat Persatuan Bangsa-Bangsa dan hukum internasional. Namun kenyataannya tetap kandas. Ini berlaku karena asas Persatuan Bangsa-Bangsa itu berpijak pada demokrasi yang memberi kebebasan kepada manusia untuk menentukan pedoman hidupnya masing-masing. Demokrasi dengan kebebasannya melahirkan kapitalisme dan sekulerisme. Sistem ini menolak kekuasaan Tuhan mengatur umat manusia dengan Syariah Islam. Karena itu sistem ini melahirkan lagi penindasan dan kemiskinan. Padahal sebenarnya Syariah Islam itulah yang terjamin mampu memberikan kesejahteraan tanpa pandang bulu, karena sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri. Semua manusia dipandang sama di sisi Allah. Yang membedakan mereka hanyalah ketakwaannya.

Sungguhpun begitu, Allah Maha Pengasih lagi Maha Pemurah, benar-benar hendak menyelamatkan umat manusia, tidak hanya semata-mata di dunia, tetapi terlebih di akhirat. Allah menegaskan bahwa kebenaran itu semata-mata dari Dia. Dia-lah yang berhak menetapkan hukum, bukan manusia, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, karena itu hanya hukum dari Allah yang dapat menjamin memberikan keselamatan dunia akhirat. Yang menolak akan mendapatkan kehidupan yang sempit.

Peringatan Allah untuk menyelamatkan umat manusia akan selalu segar dan cemerlang lewat Alqur’an yang terbentang dengan indah dalam sirah Nabi Saw dengan para sahabatnya yang telah sukses memakai Syariah Islam dalam kehidupan. Syariah Islam itu juga telah terbukti (dengan kehendak Allah) tidak kurang daripada 1.200 tahun dapat menampilkan suatu tatanan masyarakat dunia yang adil dan tentram melalui sistem khilafahnya. Kecemerlangan Alqur’an mengajak umat manusia berpedoman pada jalan Allah dan Rasul-Nya, terlukis antara lain dalamSurah Al-Ankabut ayat 41. Perumpamaan orang yang mengambil pelindung selain Allah seperti laba-laba yang membuat sarang. Sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui. Begitulah cara Alqur’an memberi pelajaran pada manusia yang bernasib malang, karena tidak mau memakai pedoman dari Allah yang disampaikan Rasul-Nya. Hanya apa daya dan kekuatan yang dapat diandalkan dari jaring laba-laba untuk tempat bergantung atau berlindung, Begitulah nasib manusia yang memakai pedoman (filsafat) atau hukum buatan manusia. Sedangkan manusia yang mempersekutukan Allah, maka dia seakan-akan jatuh dari langit, lalu disambar burung atau diterbangkan angin entah ke mana.

Inilah gambaran kemalangan yang akan menimpa manusia yang membangkang terhadap pedoman hidup yang telah diberikan lewat Alqur’an sebagaimana terbentang dengan cemerlang dalam perjalanan hidup Nabi Saw. Kemalangan ini sekarang semakin hari semakin nyata, sebagaimana dapat disaksikan pada berbagai tempat di muka bumi ini. Bagi umat Islam sendiri, Alqur’an lebih banyak dipakai sebagai syair, azimat serta dijual untuk kekuasaan daripada pedoman hidup. Mereka seakan tak pernah membaca Alqur’an yang memberikan peringatan berulang-ulang agar bersatu berpegang teguh pada tali (agama) Allah dan Rasul-Nya. Jangan bercerai-berai, sebagaimana domba yang terpencil akan mudah dimangsa oleh serigala. Jika ada beda pendapat maka kembalilah kepada Alqur’an dan Sunnah agar mendapat keselamatan dan petunjuk yang benar.

Kenyataannya umat Islam telah terjebak pada sistem demokrasi dan nasionalisme, sehingga tidak sadar telah menyimpang dari sistem Syariah Islam yang kaffah. Dengan demokrasi maka hukum buatan manusia telah menyingkirkan Syariah Islam. Sedangkan dengan nasionalisme, umat Islam jadinya meletakkan emosi kebangsaan di atas persaudaraan kaum muslimin. Akibatnya, antara sesama muslim tidak dapat menolong saudaranya karena tersekat oleh geografi negara bangsa. Lebih dari itu mereka dengan mudah diadu domba oleh musuh-musuh yang membenci Islam.

Baik demokrasi maupun nasionalisme telah dipandang baik oleh para pemimpin negara yang mayoritas rakyatnya beragama Islam. Ini terjadi tentulah karena syetan telah membuat penyimpangan yang mereka lakukan, kelihatan baik dalam pandangan mereka. Mereka malah berani menentang Syariah Islam dengan mengatakan syariah itu jumut tak layak lagi berlaku sekarang. Seakan-akan mereka tidak akan diminta bertanggungjawab kelak di akhirat di hadapan Allah Yang Maha Perkasa. Mereka tidak yakin dengan janji Allah bahwa orang-orang beriman beramal saleh akan mempusakai dunia ini. Berkuasa kembali sebagaimana orang-orang beriman telah diberi kekuasaan oleh Allah sebelumnya. Sementara orang-orang kafir telah ditegaskan oleh Alqur’an, niscaya akan dikalahkan di muka bumi ini. Orang boleh silau dengan kemajuan teknologi yang dimiliki oleh para pembenci Islam, namun Allah menegaskan, bahwa yang hak (benar) niscaya akan melengkapkan yang batil. Dan kesudahan yang baik itu hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa dan beramal saleh.***

 

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *