Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Jangan Terbalik, Oleh: UU Hamidy
Foto: performancein.com

Jangan Terbalik, Oleh: UU Hamidy

Allah Subhanahu wa ta‘ala pencipta jagad raya dan seisinya menurunkan Alquran untuk mengatur kehidupan umat manusia agar kembali kepada Tuhannya dengan ridha dan diridhai. Nabi Muhammad Saw, manusia terbaik di dunia dan akhirat memberi bimbingan dan tauladan kepada para sahabatnya dengan kata dan perbuatan, sehingga tampillah generasi sahabat sebagai generasi umat manusia yang terbaik di muka bumi. Para sahabat mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan kepada makhluk, sehingga mereka hidup dengan berpedoman kepada Alquran dan as-Sunnah. Allah dan Rasul-Nya menjamin manusia akan selamat dengan berpegang kepada Alquran dan Sunnah Nabi Saw. Karena itu jika ingin selamat dunia akhirat, hiduplah dengan aturan dari Alquran dan as-Sunnah yang dikenal dengan Syariah Islam. Memilih jalan selain itu akan merugi di akhirat, meskipun merasa selamat di dunia.

Sungguhpun demikian, sedikit sekali umat manusia yang rela hidup dengan memegang teguh Syariah Islam secara sempurna. Pertama, mengapa manusia jadi terbalik, lebih percaya kepada hukum buatan manusia daripada hukum Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya? Ini terjadi karena manusia tidak bisa bersabar ketika pikirannya dikendalikan oleh hawa nafsunya yang liar. Dengan aturan buatan manusia, mereka ingin segera mengubah sesuatu menurut keinginannya walaupun akibatnya mendatangkan bencana. Sedangkan memakai Syariah Islam, harus bersabar menyerahkan segala ikhtiar kepada Allah, lalu bertawakkal agar segala daya upaya itu bernilai ibadah kepada Allah.

Kedua, mengapa banyak manusia lebih percaya kepada ilmuan daripada wahyu Allah dan sabda Rasulullah Saw? Lihatlah, manusia begitu yakin kepada dokter yang memberi resep tentang obat penyakitnya. Sementara dia tak yakin akan masuk neraka jika syirik kepada Allah Swt. Ini terjadi karena manusia itu ingin segera melihat bukti, sedangkan wahyu Allah dan Sunnah Nabi Saw akan berlaku menurut kehendak Allah Yang Maha Bijaksana. Perhatikan umat pembangkang zaman dulu, minta kepada para Nabi agar segera datang azab jika memang Nabi itu benar. Padahal berapa banyak resep dokter tidak mangkus menyembuhkan pasien. Sementara Syariah Islam yang bersandar pada halal-haram, hak-batil serta dosa-pahala, semuanya menuntun manusia kepada keselamatan dunia akhirat. Walaupun tidak semuanya dapat disaksikan dengan panca indera dan hukum sebab-akibat.

Ketiga, mengapa manusia jadi terbalik berpikir dan bertindak padahal secara akal sehat telah menyukai yang asli daripada yang palsu, menyukai yang murni daripada campuran? Ketika kedua nilai itu dipermainkan oleh hawa nafsu yang tak mau diatur, manusia terjerumus kepada yang palsu. Syariah Islam itu murni untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia, sehingga benar-benar lebih baik daripada aturan buatan manusia yang hanya mendatangkan bencana. Tetapi manusia memilih aturan buatan dirinya juga, karena itulah hukum yang mudah dipermainkan oleh hawa nafsunya. Sementara Syariah Islam akan sulit dipermainkan karena mengajak manusia kepada jalan Allah yang lurus.

Keempat, mengapa manusia terbalik lebih mementingkan jasmani daripada ruhani padahal jasmani itu akan hancur sedangkan ruhani akan abadi? Ini berlaku karena dengan jasmani, manusia dengan mudah menikmati segala kenikmatan dunia, meskipun ruhaninya tidak tentram. Sementara menikmati sesuatu dengan ruhani memerlukan keimanan yang harus punya ilmu tentang Alquran dan as-Sunnah. Hanya oleh iman dan takwa orang merasa bahagia dan lapang hati melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah dan Rasul-Nya. Hanya dengan mengingat Allah seorang hamba merasa tentram dalam hatinya.

Kelima, mengapa manusia yang diberi fitrah akal sehat oleh Allah jadi terbalik dalam kenyataan hidupnya? Ini terjadi karena akal pikiran manusia telah dikuasai oleh bendawi. Kehidupan kebendaan ini telah diajarkan kepada manusia lewat paham demokrasi, baik yang kapitalis maupun yang komunis. Demokrasi membuat manusia melupakan Tuhannya, sehingga dia memandang punya otoritas mengatur kehidupannya sendiri, termasuk alam sekitarnya. Demokrasi hanya pakai logika sebab-akibat yang dibantu panca indera. Padahal kalau manusia sadar bahwa dia ciptaan Allah, maka mustahil sesuatu yang diciptakan dapat membuat aturan yang benar tentang dirinya. Karena itu manusia yang hanya diberi ilmu sedikit oleh Allah hanya berputar-putar dalam kesesatan dengan aturan yang dibuatnya. Tidak bisa keluar mengikuti jalan Allah menuju kehidupan yang sebenarnya di akhirat.

Manusia dengan aturan yang dibuatnya tidak bisa menyelamatkan dirinya, baik di dunia apalagi di akhirat. Yang dapat menyelamatkan hanyalah Allah Yang Maha Kuasa. Tidak seorangpun dapat selamat oleh kekuasaan dan hartanya, sebagaimana terbukti pada Firaun dan Qarun. Kalau mau selamat, berpeganglah kepada hukum Allah, jangan terbalik berpegang kepada hukum makhluk atau manusia. Hukum Allah itu mustahil membinasakan, jangan terbalik dipandang sebagai ancaman. Hanya manusia yang menghadap Allah dengan hati yang bersih dapat mengharap keampunan dan ridha-Nya. Jangan terbalik, mencari ridha manusia yang hanya khayali fatamorgana.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *