Home / Buku UU Hamidy / Jagad Melayu dalam Lintasan Budaya di Riau, UU Hamidy, Bilik Kreatif, 2015

Jagad Melayu dalam Lintasan Budaya di Riau, UU Hamidy, Bilik Kreatif, 2015

Jagad Melayu dapat direntang panjang, dapat pula direntang pendek. Dalam rentang yang panjang, jagad Melayu merupakan rantau rumpun bahasa Melayu-Polinesia, yang lintasan wilayahnya mulai dari Madagaskar di barat sampai Pulau Pass di Lautan Teduh di timur, melintasi lagi dari Pulau Formosa di utara sampai New Zealand di selatan. Inilah suatu rumpun bahasa yang terluas wilayahnya di dunia ini. Rumpun bahasa Melayu-Polinesia atau Austronesia di samping punya persamaan dalam bahasa, juga punya selera yang sama dalam budaya, seperti suka makan sirih dan makanan yang diasamkan. Sedangkan rantau Melayu dalam rentang yang lebih pendek meliputi kawasan Asia Tenggara dengan wilayah Selat Melaka sebagai pusarannya.

Jika jagad Melayu yang luas punya bingkai budaya yang dirangkai oleh bahasa dan budaya, maka jagad Melayu yang sempit dijalin oleh bahasa serta adat resam Melayu dengan berpunca pada agama Islam. Pada pusaran wilayah Melayu Selat Melaka itulah Riau telah memainkan peranan dalam jagad Melayu paling kurang sejak abad ke-19 sebagai pusat bahasa dan budaya Melayu serta pengembangan agama Islam.

Bagaimana Riau dengan penduduk tradisional Melayu telah menarah budaya Melayu memang layak disingkapkan. Perkara ini, pertama untuk tidak menafikan sejarah, sehingga bisa terjadi hilang jasa kapak oleh jasa ketam. Kedua, kenyataan ini dapat memberikan semangat kreatifitas pada generasi muda dalam persaudaraan budaya di kawasan pendukung budaya Melayu. Persaudaraan budaya terasa semakin penting, karena manusia ternyata tidak lagi tersekat oleh tanah air yang telah menjadi peta geografi politik. Manusia rupanya ternyata merasa terpisah oleh budaya. Maka bingkai budaya yang terpelihara dapat melintasi geografi politik, sehingga antar pendukung budaya yang sama, dapat merasakan suatu persaudaraan. Inilah yang bisa berlaku pada jagad Melayu. Dengan bingkai budaya Melayu yang terpelihara di rantau Selat Melaka, penduduk kawasan itu mendapat peluang melakukan kerja sama dengan semangat budaya serantau, membangun martabat umat manusia.

Pada cetakan Ke-10 tahun 2015 ini, kulit buku dirancang oleh Masteven Romus.
Cetakan Ke-11 tahun 2017.

Check Also

Membeli Dunia, UU Hamidy, Bilik Kreatif, 2015

Nikmat Allah yakni Islam mencapai dunia Melayu setelah para ulama berdakwah sambil berdagang menyinggahi pulau-pulau …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *