Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Jabatan: Meminta atau Diminta? Oleh: UU Hamidy

Jabatan: Meminta atau Diminta? Oleh: UU Hamidy

1. Penjajahan kebudayaan
Satu-satunya penjajahan yang paling hebat di muka bumi dewasa ini ialah penjajahan kebudayaan. Penjajahan kebudayaan tidak tersekat oleh geografi politik, tetapi merambah dengan sendirinya melalui dukungan media cetak dan elektronik. Karena itu perjalanannya juga berlangsung tanpa dapat dikira, bila akan berakhir. Dalam penjajahan kebudayaan yang benar-benar sadar hanyalah pihak yang menjajah. Sedangkan yang terjajah kebanyakan tak menyadari. Perhatikanlah budaya liberal-kapitalis yang berada di tangan bangsa Barat (Ero-Amerika) menjajah kebudayaan dunia. Untuk mengelabui bangsa-bangsa yang terjajah, pihak Barat menganti nama budaya liberal-kapitalis dengan istilah budaya global, yang berarti budaya dunia. Akibatnya pihak yang terjajah, seperti negara-negara Islam tidak menyadari lagi mereka sebenarnya dijajah oleh budaya yang menyalahi syariat Islam tersebut. Maka dengan istilah budaya global, mata bangsa-bangsa di luar Ero-Amerika, benar-benar telah bular (kabur) tak mampu lagi membedakan antara budayanya yang terjajah dengan penjajah budayanya.

Di Indonesia penjajahan budaya Barat telah dirancang oleh seorang sarjana Belanda yakni Prof Nieuwenhuis. Inilah konseptor ulung penjajahan kebudayaan kolonial. Konsep penjajahan budaya Barat dibungkus dengan rangkai kata yang indah, sehingga anak negeri (bangsa Indonesia) dengan mudah tertipu dalam penerapannya. Konsep Prof Nieuwenhuis berbunyi, ‘’menolong bangsa Hindia (Indonesia) membangun masa depan serta menolong bangsa Belanda mempertahankan masa silam’’. Maksudnya budaya Barat (Belanda) akan digunakan membangun masa depan bangsa Indonesia, tapi budaya tersebut juga akan menolong bangsa Belanda melestarikan penjajahan politiknya (yang akan menjadi masa silam) di Indonesia. Hasilnya antara lain bahasa Belanda menjadi bahasa nomor satu di Indonesia selama penjajahan Belanda, sedangkan Bahasa Melayu (Indonesia) hanya menjadi bahasa kelas dua.

Perhatikan tipu daya kolonial dengan kata menolong dan membangun untuk mengelabui pihak terjajah (Indonesia) agar tidak merasa terjajah, bahkan sebaliknya malah dapat memandang beruntung. Dengan konsep itu jelaslah, bahwa hanya budaya Barat yang haras dipakai untuk membangun oleh bangsa-bangsa di dunia ini, sehingga bangsa Barat harus diterima sebagai pemegang komando ke mana budaya dunia ini akan diarahkan. Inilah pangkal keangkuhan dan kesombongan negara-negara Barat yang sekaligus memandang rendah bangsa-bangsa lain. Dengan perisai kebudayaan mereka dapat leluasa menghina Islam, seperti membuat kartun Nabi Muhammad SAW, bahkan menginjak kitab suci Alquran.

2. Meminta atau diminta
Mungkin banyak orang yang tidak dapat membedakan antara meminta jabatan dengan diminta menjabat. Bagi mereka tak ada bedanya. Kalaupun ada hanya beda pasif dan aktif saja, sehingga tidak mustahak. Padahal, keduanya punya perbedaan yang mendasar, karena punya logika yang berlainan. Ini bukanlah sekadar persoalan tatabahasa yang sepintas di luar logika. Bahasa tidak berguna kalau tidak dipakai untuk berpikir.
Meminta jabatan, berarti seseorang (subyek) mengharap agar diberi jabatan agar menjadi pejabat dengan harapan akan memegang kekuasaan. Sedangkan diminta menjabat berarti seseorang diharapkan mau jadi pejabat. Ditawarkan atau diminta dia menjadi pejabat, sehingga juga berarti diminta dia memegang kekuasaan. Pada meminta jabatan, orang itu barangkali memandang (menilai) dirinya mampu jadi pejabat, bisa memegang teraju kekuasaan. Tetapi juga bisa terjadi hanya oleh ambisi hawa nafsunya. Padahal sebenarnya tak ada kemampuannya, baik tenaga, ilmu dan lebih-lebih akhlak mulia untuk memegang teraju kekuasaan.

Pada diminta menjabat (jadi pejabat) bukan si subyek (seseorang) yang ingin jadi pejabat, tapi pihak luar yang memintanya. Jadi jelas sekali yang bersangkutan tidak punya ambisi memegang kekuasaan. Mungkin dia menilai dirinya tak mampu menjadi pejabat, tapi mungkin saja sebenarnya dia punya potensi, namun dia tak suka. Pada kategori diminta menjabat, sudah ada unsur penilaian dari luar, bahwa orang ini dipandang layak memegang teraju kekuasaan. Sedangkan pada meminta jabatan hanya sang ego yang menilai dirinya mampu. Jadi jelaslah diminta menjabat lebih obyektif daripada meminta jabatan. Penilaian yang obyektif ini amat panting, sebab kekuasaan bagaikan mata pedang yang tajam, yang amat berbahaya jika disalahgunakan.

3. Mana yang unggul
Akal sehat dan ilmu pengetahuan yang dipandu oleh iman memberitahukan kepada kita bahwa biasanya yang subyektif lebih baik daripada yang subyektif. Maka, marilah kita lihat kenyataannya. Setelah Rasulullah SAW wafat, maka para sahabat tolak-bertolak tidak mau memegang jabatan sebagai khalifah, untuk melanjutkan tugas Rasulullah SAW memegang teraju kepemimpinan umat serta menyampaikan seruan ajaran Islam ke segenap penjuru dunia. Akhirnya dalam kedaan yang gamang itu, Abubakar Siddik r.a, diminta oleh para sahabat tampil menjadi khalifah dengan alasan-alasan yang syar’i lagi logis.

Maka Abubakar Siddik r.a, akhirnya dengan istiqamah menerima jabatan itu. Kemudian sebelum Abubakar meninggal, dia sudah berpesan kepada para sahabat agar Umar bin Khattab r.a, dipilih sebagai penggantinya Jadi, Umar juga berada dalam posisi diminta menjadi khalifah (pejabat) oleh para sahabat. Beberapa abad berselang, Umar bin Abdul Azis juga diminta oleh umat Islam supaya tampil sebagai khalifah.

Sejarah telah mencatat, ketiga pemimpin yang diminta jadi pejabat ini adalah pemimpin berjaya dalam memegang teraju kekuasaan. Abubakar memakai strategi yang piawai dengan panduan iman yang teguh, berhasil gemilang menyelamatkan negara khalifah Islamiyah dari pembangkang zakat, serta rongrongan nabi palsu Musailamah al Kahzab sang murtad, menandingi kepemimpinan Abubakar yang teguh beragama Islam. Umar bin Khattab r.a, siapa lagi yang tak mengenal kecemerlangannya, keadilan dan ketegasannya melaksanakan syariat Islam, sehingga seorang Yahudi pun mendapat perlindungan dari keadilannya. Dia sendiri yang memikul gandum untuk rakyatnya yang lapar. Seekor kuda yang terperosok di Baghdad (sedangkan dia tinggal di Madinah) dipandangnya akan jadi tanggung jawab dia kelak di akhirat. Dialah pembesar dunia masa itu yang datang dengan jubah bertambal, menerima kunci Kota Yerussalem dari tangan pendeta Nasrani yang memakai jubah kebesaran.

Lantas kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz sudah terbentang bagaikan legenda. Belum lagi ia sempat meluruskan kakinya sejenak selepas peresmiannya jadi khalifah, dia sudah kembali ke luar rumah menemui rakyatnya, dan menanyakan siapakah yang selama ini merasa dizalimi. Dialah yang menyuruh isterinya melepaskan semua perhiasannya, lalu menyerahkannya menjadi milik Baitul Mal. Pakaiannya sebelum jadi khalifah tidak kurang dari 600 dirham satu stel. Itupun katanya masih kasar. Setelah jadi khalifah pakaiannya satu stel hanya beharga 8 dirham. Itupun katanya sudah terlalu halus. Tidak heran jika selama lebih kurang tiga setengah tahun saja pemerintahannya tidak ada seorangpun di antara rakyatnya (dari Mesir sampai Persia) yang mengaku fakir atau miskin.

Bandingkan kenyataan ini dengan pejabat sekarang (di Indonesia) yang mayoritas meminta jabatan. Mereka malu-malu kucing mengatakan tidak haus jabatan. Mereka berdalih diminta oleh partai. Tapi apa bedanya permintaan dia dengan permintaan partainya? Kalau yang meminta partai lain, barangkali baru dikatakan dia diminta jadi pejabat, itupun jika permintaan itu jujur dan tulus. Dia malah tidak merasa hina minta bantuan uang dari para cukong untuk mendanai kegiatan politiknya, sehingga setelah jadi pejabat dia tergadai kepada sang kapitalis.

Ternyata setelah jadi pejabat hanya apa yang mampu dilakukannya untuk memperbaiki taraf hidup dan kualitas hidup rakyat, dan lebih-lebih terhadap harga diri umat ini. Katanya membangun, tetapi yang terjadi ialah sumber-sumber alam terkuras tanpa kendali, bidang kehidupan untuk hajat bersama dijual kepada pemilik modal. Berbagai subsidi untuk rakyat dihapus, sehingga hampir tak ada satupun dari kekayaan alam negeri ini dapat dinikmati oleh warga bangsanya. Katanya termasuk negara berkembang tapi nyatanya yang berkembang ialah jumlah hutang, yang agaknya sudah mendekati Rp10 juta per-kepala. Kenyataannya adalah negeri terkorup, tapi ironinya di sinilah makin banyak muncul orang yang terkaya. Jadi yang unggul menanggulangi penderitaan rakyat serta menjaga martabat umat manusia, ialah yang diminta jadi pejabat. Yang meminta jadi pejabat kebanyakannya hanyalah tunggul.***

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Riau Pos, 14 April 2010

 

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *