Home / Buah Pikiran UU Hamidy / Islam Sekerat, Oleh: UU Hamidy

Islam Sekerat, Oleh: UU Hamidy

Allah Ta’ala berbuat sekehendak-Nya. Tapi Allah tidak ceroboh sebagaimana manusia berbuat sekehendak hatinya. Allah Maha Bijaksana dan Maha Suci daripada segala sifat cela dan kekurangan. Karena itu hanya Allah sahaja yang berhak diibadahi. Allah-lah yang menciptakan, menguasai dan mengatur langit dan bumi dan seisinya. Allah menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad Saw agar manusia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, melakukan perintah dan meninggalkan larangan sehingga syariah Islam mengatur kehidupan umat manusia. Allah tidak main-main menurunkan Alquran. Begitu pula Nabi Saw tidak main-main menerapkan Alquran dengan perkataan dan perbuatan Baginda Saw. Allah dan Rasul-Nya semata-mata hanya menyampaikan kebenaran, demi keselamatan manusia itu sendiri, bukan main-main. Hanya Allah dan Rasul-Nya yang dapat memberi petunjuk dan aturan, bukan manusia itu sendiri.

Kenyataannya, dunia Melayu dengan Indonesia penganut Islam terbesar di dunia calon presidennya dengan enteng mengatakan, ‘’Islam yes, syariah Islam no’’, saya Islam tapi tidak setuju dengan syariah Islam mengatur negara. Perkataan itu hampir tak menyentuh keimanan umat Islam Indonesia. Tidak sadar mereka, bagaimana bisa terjadi, Islam diterima, tapi syariat atau aturan Islam ditolak. Tidakkah ini membingungkan? Kalau Islam diterima, tapi aturannya ditolak, hanya apa yang diterima dari Islam itu? Bukankah Islam itu berisi perintah dan larangan untuk mengatur kehidupan manusia? Kalau Islam diterima, tapi perintah dan larangannya ditolak, Islam hanya tinggal apa? Bukankah Alquran itu pedoman hidup, dan tiap pedoman berisi aturan? Tidakkah Nabi Saw diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia, dan akhlak itu adalah aturan.

Kemudian perhatikanlah keanehan berikutnya. Orang yang taat dan patuh pada ajaran Islam dipuji, dipandang warga yang baik. Keluarga yang mengikuti syariah Islam dipandang baik dan dipuji. Masyarakat yang taat dan patuh pada syariah Islam adalah masyarakat yang tertib dan dipuji. Tetapi mengapa negara diatur dengan syariah Islam malah ditolak? Mengapa syariah Islam itu tidak lagi dipuji, tapi malah dipandang membahayakan? Padahal sebenarnya, aturan buatan manusia itulah yang mengancam negara sehingga rakyatnya jadi sengsara. Sebaliknya, syariah Islam dari Allah dan Rasul-Nya bukan untuk mengancam, tapi demi kasih sayang Allah dan Rasul-Nya untuk menyelamatkan umat manusia di dunia dan di akhirat. Adalah mustahil Allah menurunkan Alquran untuk mengancam agar manusia jadi melarat. Nabi Muhammad Saw utusan Allah, adalah mustahil menuntun umat manusia kepada jalan maksiat sehingga manusia sengsara.

Sebagai bandingan, apakah ada orang mengaku komunis tulen, tapi menolak aturan komunis? Apakah mengaku kapitalis tulen, tapi orang itu tak mau mengikuti aturan kapitalis seperti memakan riba? Jika itu ada, akan dikatakan tidak wajar alias tidak waras. Jadi yang mengaku Islam, tapi tidak mau diatur dengan hukum Islam, tidakkah juga termasuk tidak waras? Sebab, manusia yang waras bertindak atas keyakinannya. Kalau dia berbuat atas keraguan, maka perbuatannya jadi main-main. Bertindak main-main dalam kehidupan, benar-benar konyol, karena hampir sama dengan menghancurkan diri sendiri.

Kembali pada pokok pembicaraan. Islam diakui, tapi syariah Islam ditolak, ada apa ini? Ini memberi bukti yang mengaku Islam itu, memandang Islam bagaikan satu onggok barang. Bisa juga memandang Islam itu dapat dikerat-kerat (dipotong) sehingga tidak utuh lagi. Maka dia ambil mana yang disukai, ditinggalkan yang tidak disukai. Maka, perintah dan larangan dalam Islam dipilih sesuka hati, bahkan dipilih dengan main-main. Tindakan ini sama dengan mempermainkan ayat-ayat Allah Yang Maha Perkasa, serta memandang enteng Sunnah Nabi Saw. Padahal Islam itu sudah sempurna, sehingga juga harus diterima dengan sempurna.

Syariah Islam yang bersandar pada Alquran dan As-sunnah itu tidak rusak oleh ruang dan waktu, sebab tak ada sesuatu kekuasaan yang dapat mengubahnya, sebagaimana berlaku pada aturan buatan manusia. Keadaan itulah yang membuat syariah Islam mampu memberikan pegangan yang kokoh, sementara aturan buatan manusia tidak ada sandarannya, sehingga mudah dipermainkan. Karena itu orang kafir dalam Negara Khilafah Islamiyah (Daulah Khilafah) boleh tetap pada agamanya, tetapi harus tunduk pada syariah Islam yang berlaku dalam Negara Khilafah Islamiyah tersebut. Inilah yang membuat syariah Islam itu memberikan kesejahteraan pada rakyatnya tanpa pandang bulu, menjadi rahmat bagi segenap alam.

Mengapa terjadi mengaku Islam, tapi menolak aturan Islam, sebenarnya inilah hasil ajaran demokrasi, yang telah berjaya dijajakan oleh koran, majalah, film dan laman internet yang dikendalikan oleh kapitalis sekuler di bawah ketiak kaum Yahudi. Mereka takut Islam mengatur umat manusia sebagaimana pernah tampil gemilang 1.300 tahun meliputi tiga benua: Asia, Afrika dan Eropa. Sebab nanti mereka tak dapat lagi mengisap darah umat manusia. Demokrasi telah memberikan kebebasan tanpa panduan iman. Maka, demokrasi menyamakan semua agama, manusia tinggal pilih. Islam tidak lagi di atas segala agama dan tidak lagi rahmatan lil alamin. Riba dipilih, tidak ditolak. Pelacuran adalah lapangan pekerjaan, jangan dilarang. Membuat karikatur atau film Nabi Saw adalah kebebasan ekspresi. Muslim Palestina dibantai Yahudi, itu tindakan membela diri. Begitu seterusnya, sehingga yang makruf dari Islam tinggal sedikit. Sedangkan yang mungkar dibiarkan sehingga merajalela. Kebebasan yang diberikan oleh demokrasi tanpa panduan iman membuat manusia berlomba dengan kekuasaan, kekayaan, popularitas, teknologi bahkan kecantikan.

Sungguhpun demikian, setelah datang bencana berupa gunung meletus, cuaca buruk, gelombang besar, banjir, tsunami, wabah penyakit dan kabut asap, aturan jahiliyah buatan manusia tidak bisa berkutik. Mereka tak sadar bahwa langit, bumi dan seisinya ini berada dalam genggaman Allah Yang Maha Perkasa. Maka kalau mau selamat, bukan hanya menanggulangi bencana. Tapi yang lebih utama ialah mengetahui yang mendatangkan bencana, yakni Allah Yang Maha Mengatur lagi Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. Karena itu, kalau mau selamat, terimalah syariah Islam dengan sempurna dalam segala dimensi kehidupan. Kendalikanlah negara dengan hukum Allah. Hanya itulah satu-satunya hukum yang dapat berhadapan dengan bencana yang datang dari Allah Swt. Hukum buatan manusia hanyalah mendatangkan bencana, sebab hukum buatan manusia itu menandingi hukum Allah. Padahal mustahil Allah Yang Maha Suci dapat ditandingi oleh makhluk yang diciptakan-Nya. Jadilah penganut Islam yang tulen, umpama emas 24 karat. Jangan ambil Islam sepotong atau sekerat, yang membuat kita sesat dan melarat lalu akhirnya bisa sekarat.***

Check Also

Surat-surat UU Hamidy kepada TA Sakti di Aceh (13)

Pekanbaru, 8 Sya’ban 1429 Hijrah 10 Agustus 2008 Masehi Yth  Bung TA Sakti di Darussalam, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *